
Keesokan harinya ketika Jacelyn telah bangun dari tidurnya, kini dia telah bersiap untuk berangkat kerja.
Jacelyn mencoba untuk menghubungi Pratama tetapi dia tidak bisa menghubungi Pratama, karena nomornya tidak aktif.
Jacelyn masih merasa tertekan dengan kejadian semalam, dia bingung sekarang apa yang harus dia lakukan untuk bertemu dengan Pratama di kantornya.
" Apa yang harus aku lakukan nanti? Jika Pratama tetap marah, bisa jadi aku tidak berfokus dengan pekerjaan ku." Ucapnya dalam hati.
Jacelyn langsung menghela nafas panjang.
Kemudian Jacelyn bersiap mengambil tasnya dan langsung pergi meninggalkan rumahnya.
Ketika berjalan menuju pintu keluar Jacelyn bertemu dengan orang tuanya yang tengah sarapan.
" Kamu tidak sarapan dahulu." Ucap ayahnya.
" Tidak." Jawab Jacelyn singkat.
Jacelyn langsung keluar menuju mobilnya setelah pertanyaan ayahnya itu, di depan sopir pribadinya sudah menunggu Jacelyn.
" Berangkat sekarang non?" Tanya supirnya.
" Iya pak." Jawab Jacelyn singkat.
" Baik non, silahkan." Jawab supirnya sembari membukakan pintu mobil.
Jacelyn pun langsung masuk kedalam mobilnya itu.
Di tengah perjalanan supirnya itu melihat wajah Jacelyn dari kaca spion tengah mobil, supirnya itu sepertinya mengetahui kalau Jacelyn sedang patah hati.
" Non Jacelyn, sedang patah hati ya, dari tadi saya lihat wajahnya non Jacelyn musam sekali, biasanya non Jacelyn setiap pagi selalu tersenyum, tetapi hari ini berbeda." Ucap supirnya itu.
Jacelyn tersenyum lembut dengan supirnya, biasanya orang-orang kaya tidak akan berbicara tentang hal pribadi dengan supirnya, tetapi Jacelyn berbeda dia menanggapi supirnya itu dengan baik.
" Maaf, non kalau saya lancang." Lanjut supirnya itu.
" Tidak apa-apa pak." Jawab Jacelyn dengan tersenyum.
" Jika non sedang berantem dengan pacarnya, non Jacelyn langsung di selesaikan baik-baik saja, dan saya lihat non Jacelyn sangat menyayangi pacarnya yang sekarang." Jelas supirnya menasehati Jacelyn.
" Iya pak, saya sangat menyayangi pacar saya Yaang sekarang, walaupun dia hanya seorang cleaning servis di perusahaan saya, dia sangat baik kepada saya." Jawab Jacelyn.
Terlihat seorang Jacelyn adalah wanita yang sopan, dia tidak memandang orang lain dari latar belakangnya.
Supirnya itu tersenyum. " Memang benar non Jacelyn dari dulu tidak pernah berubah, non tidak memandang latar belakang dari latar belakang orang itu, sepertinya pacar non sekarang, orangnya baik dan sopan." Jelas supirnya.
" Iya pak, orangnya sopan, baik juga." Jawab Jacelyn.
__ADS_1
" Ya saran saya cuma itu, cepet di selesaikan, dari pada nanti semakin larut dalam masalahnya." Saran supirnya.
" Iya pak, terimakasih ya." Jawab Jacelyn.
Sampai beberapa saat Jacelyn sampai di perusahaannya, ketika dia keluar dari mobil dia melihat mobil Andre yang sudah ada di parkiran perusahaan itu.
" Bukankah itu mobilnya Andre? Kenapa lagi dia kesini? Masalah dengan Pratama saja belum selesai sudah datang masalah lagi." Ucapnya dalam hati.
Jacelyn langsung menuju tempat Pratama, dia masuk kedalam dapur, ketika Jacelyn masuk kedalam dapur banyak karyawan yang melihat keheranan.
Selama bekerja di perusahaan Jacelyn, belum pernah karyawan itu melihat Jacelyn masuk kedalam dapur perusahaan.
Ketika Jacelyn sampai di pintu dapur dan langsung membukanya terlihat Pratama yang sedang duduk dan menikmati kopinya.
Pratama bersantai karena pekerjaannya sudah selesai dari tadi, mengingat Pratama yang selalu berangkat lebih pagi dari karyawan lain.
Ketika Pratama yang sedang duduk itu mendengar pintu yang terbuka Pratama mengalihkan pandangan ke arah pintu.
Betapa terkejutnya Pratama melihat orang yang berada di pintu itu, orang yang belum pernah masuk kedalam dapur perusahaan kini telah berada di dalam dapur.
Jacelyn langsung menghampiri Putra dan menutup kembali pintu itu.
" Kenapa nomor kamu tidak bisa di hubungi?" Tanya Jacelyn.
" Maaf Bu, saya dari tadi malam tidak menyalakan handphone saya." Jawab Pratama dengan menunduk memberi hormat.
" Maaf Bu, sebaiknya Bu Jacelyn bilang saja mau saya bikinkan apa? Karena banyak orang di luar sana yang sedang mengamati kita." Jawab Pratama sembari menunjuk pintu yang di buat dari kaca itu.
Ketika Jacelyn melihat di pintu itu terlihat beberapa pasang mata yang mengawasi mereka.
Akhirnya Jacelyn bilang kepada Pratama. " Buatkan saya teh hijau secepatnya, saya tunggu di ruangan saya, Saya ingin berbicara denganmu." Ucap Jacelyn dengan pelan.
" Baik Bu." Jawab Pratama dengan menundukkan badannya.
Ketika Jacelyn hendak pergi meninggalkan Pratama, beberapa orang yang mengawasi mereka kembali ke temannya.
Melihat Jacelyn yang terlihat seperti memarahi Pratama, membuat karyawan Jacelyn membicarakan mereka.
" Kenapa Bu Jacelyn memarahi cleaning servis itu? Apa dia membuat kesalahan?" Ucap karyawan sembari melihat Jacelyn berjalan menuju lift.
" Aku tidak tahu, tetapi mana mungkin cleaning servis itu di marahi, kerjanya kan bagus selama ini, dia juga selalu berangkat lebih awal dari karyawan lainnya, jadi tidak mungkin kalau cleaning servis itu di marahi." Jelas karyawan lain.
" Atau jangan-jangan? Ada hubungan antara mereka berdua?" Menerka jawaban.
" Sudahlah, aku tidak mau tahu, jika nanti kita berbicara lebih dari ini, kita akan kehilangan pekerjaan kita." Jawab karyawan lain.
Desas-desus mulai bermunculan setelah Jacelyn masuk ke dapur untuk menemui Pratama.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Jacelyn sampai di ruangannya terlihat di atas kursi Andre yang sedang duduk.
" Kau sudah sampai? Sudah beberapa lama aku menunggumu disini." Ucap Andre.
" Apa yang kamu lakukan di ruangan ku, itu tidak sopan, kau memasuki ruangan ku tanpa izin dariku." Jawab Jacelyn dengan tegas.
" Baiklah maafkan aku." Jawab Andre yang langsung berdiri menuju Jacelyn yang tengah berdiri.
Jacelyn pun langsung berjalan menuju tempat duduknya, tanpa ada sengaja Jacelyn terpeleset dan hampir terjatuh.
Untung saja Andre bisa menangkap Jacelyn dengan tepat, wajahnya kini telah memandang wajah Jacelyn dengan tatapan yang dalam.
Wajah Andre yang terlalu dekat dengan wajah Jacelyn membuat Jacelyn merasa jantungnya mau copot.
Situasi itu membuat Andre lepas kendali, perlahan tangan kanannya merayap di telinga Jacelyn.
Wajah Andre mulai mendekat, Jacelyn juga terbawa dengan suasana itu, Jacelyn memejamkan matanya, ketika bibir Andre yang hampir menyentuh bibirnya Jacelyn.
Semua terhenti ketika suara pintu yang sedang di buka.
Ternyata yang membuka pintu itu adalah Pratama, Pratama yang melihat Jacelyn dan Andre sedang bermesraan itu, membuat hatinya seketika hancur berkeping-keping.
Wajah Jacelyn langsung memucat melihat Pratama yang sedang berdiri membawa teh yang di minta Jacelyn tadi.
" Maaf, saya tidak tahu kalau kalian sedang bermesraan, saya hanya ingin mengantar teh yang di minta Bu Jacelyn." Ucap Pratama dengan dingin dan tatapan yang kosong.
" Taruh saja di meja, lain kali kalau mau masuk ketuk dulu pintunya." Jawab Andre.
" Baiklah, maafkan saya, saya tidak mengetuk pintu itu karena tangan saya yang satu lagi sedikit sakit." Jawab Pratama yang sedang berjalan menuju meja untuk menaruh teh di atasnya.
Jacelyn sudah tidak bisa berkata-kata lagi, ucapan dari Pratama itu membuat dia seperti patung yang tidak ada nyawanya, tetapi tatapannya tidak lepas dari Pratama.
Setelah Pratama selesai menaruh teh yang di minta Jacelyn, kini dia tengah menuju ke pintu keluar.
" Saya permisi dulu." Ucap Pratama yang sedang menutup pintu dengan tersenyum.
Jacelyn langsung menuju ke tempat duduknya.
Andre juga langsung duduk di sofa yang berada di depan meja Jacelyn.
Andre tersenyum, " Kenapa kamu? Wajah mu memucat, apa kamu sedang sakit?" Ucap Andre.
" Bisakah kau keluar, aku tidak ingin di ganggu saat ini." Jawab Jacelyn dengan tegas.
" Baiklah aku akan keluar."
Andre pun langsung menuju pintu keluar.
__ADS_1
...----------------...