
Waktu berjalan begitu cepat, waktu sudah menunjukkan sore hari, kini Pratama tengah bersiap-siap untuk pulang.
Sesampainya Pratama di apartemennya, Jacelyn sudah menunggu kedatangan Pratama, dia duduk di sofa sembari bermain handphone dan tv yang di nyalakan.
Jacelyn yang melihat Pratama yang sudah pulang, kini Jacelyn langsung beranjak dari tempat duduknya menghampiri Pratama.
" Sayang, bagaimana pekerjaan mu hari ini?" Tanya Jacelyn penasaran.
" Baik-baik saja, cuma tadi ibumu datang menemui ku." Jawab Pratama.
" Kamu tidak kenapa-kenapa kan? Apa yang dilakukan ibu terhadap mu?" Tanya Jacelyn yang panik.
" Tidak apa-apa, jika aku kenapa-kenapa mungkin aku sudah tidak ada di sini." Jawab Pratama dengan bercanda.
Jacelyn mendengus kesal. " Di khawatirkan malah seperti itu."
" Iya-iya maaf." Jawab Pratama.
" Kenapa ibu datang menemui mu?" Tanya Jacelyn lagi.
" Bagaimana tidak mencari ku, ibumu sudah mengira jika kamu tidak pulang pasti kamu bersamaku." Jawab Pratama sembari duduk di sofa.
Jacelyn mengikuti Pratama yang duduk di sofa kini dia sedang berada di samping Pratama.
" Kamu mau makan apa? Aku akan memasak untukmu." Ucap Pratama mengalihkan pembicaraan.
" Tidak, kita beli saja nanti aku tidak tega melihatmu selalu memasak untuk ku, padahal kamu sendiri baru pulang kerja, pasti kamu merasa kecapekan." Jawab Jacelyn.
Jacelyn merasa tidak enak jika Pratama terus-terusan memasakkan makanan untuk Jacelyn.
" Ya sudah aku mau mandi dulu." Ucap Pratama.
" Baiklah, aku akan menunggumu, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu." Jawab Jacelyn.
" Baiklah."
Pratama sebenarnya penasaran dengan ucapan Jacelyn, apa yang ingin Jacelyn bicarakan dengan Pratama.
Setelah Pratama selesai mandi dan bersiap-siap untuk berangkat mencari makan malam dengan Jacelyn.
__ADS_1
***
Ketika Pratama dan Jacelyn sudah sampai di salah satu restoran, mereka pun memesan makanan.
Setelah selesai mereka memesan.
" Kamu tadi ingin berbicara apa dengan ku?" Ucap Pratama membuka pembicaraan.
" Jadi begini, aku sudah memikirkan semua ini sedari malam tadi, aku ingin kita menikah saja bagaimana?" Jelas Jacelyn.
Pratama kaget dengan penjelasan Jacelyn.
" Hah? Kamu serius."
" Iya aku serius, dari pada kamu selalu di perlakukan seperti ini dengan ibu ku." Jelas Jacelyn lagi.
" Tapi aku tidak mempunyai apa-apa, aku juga tidak punya rumah, belum memiliki tabungan apa lagi aku belum mendapatkan restu dari orang tua mu." Jawab Pratama.
" Aku tidak membutuhkan rumah mu, aku juga tidak butuh tabungan mu, yang aku butuhkan cuma kamu, aku ingin bersamamu." Jelas Jacelyn.
" Tapi Bagaimana dengan orang tuamu? Aku tidak ingin pernikahan tanpa restu dari orang tuamu minimal ayahmu merestui hubungan ku dengan kamu." Jawab Pratama.
Pratama tidak bisa berbuat apa-apa, kini dia hanya pasrah dengan ide gila Jacelyn.
Setelah obrolan itu makanan mereka pun sampai, mereka langsung menyantap makanan itu dengan lahap.
Setelah mereka selesai makan malam itu, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Andre.
" Bukankah itu Andre?" tanya Pratama sembari menunjuk ke arah Andre yang sedang menikmati makanannya.
Jacelyn memicingkan matanya ke arah Pratama. " Bagaimana kamu tahu kalau pria itu bernama Andre." jawab Jacelyn.
Jacelyn sedikit curiga dengan Pratama, karena Jacelyn sendiri belum pernah membicarakan Andre, walaupun kemarin malam dia menjelaskan kepada Pratama Jacelyn belum menyebut nama pria itu.
" Aku tahu, karena tadi dia datang ke kantor mu, aku menanyakan tentang dia di resepsionis." Jawab Pratama.
" Ohhh.. ya sudah kita tinggalkan saja, aku tidak ingin berurusan dengannya, nanti kamu akan cemburu." jelas Jacelyn.
" Baiklah." jawab Pratama.
__ADS_1
Mereka berdua pun hendak pergi meninggalkan restoran itu, sepertinya Andre tahu kalau Jacelyn berada di dekatnya.
Akhirnya Andre menyapa Jacelyn dan menghampirinya.
" Kamu mau ke mana?" Tanya Andre.
" Aku mau pulang." jawab Jacelyn.
Andre yang melihat Pratama berada di belakangnya Jacelyn, wajahnya kembali memucat, seperti orang yang terkena trauma berat.
Pratama tersenyum ke arah Andre, senyuman itu malah membuat Andre semakin ketakutan.
Andre pun langsung menunduk menghadap ke arah Pratama, hal itu justru membuat Jacelyn semakin bingung.
" Ada apa ini? Kenapa kamu menunduk seperti menghormati Pratama." Tanya Jacelyn penasaran.
" Ti.. tidak, aku hanya capek, punggungku terasa sakit jadi aku harus menunduk supaya bisa meregangkan tulang-tulang ku." Jawab Andre.
Jacelyn hanya mengiyakan perkataan Andre, walaupun penjelasan itu sedikit aneh.
" Baiklah kalau begitu, saya ingin pergi karena badanku terasa tidak nyaman." ucap Andre.
" Baiklah.." Jawab Jacelyn.
Andre pun langsung pergi dari restoran itu, tanpa dia sadari Andre belum membayar makanannya.
" Mas.. Mas belum membayar makanan yang masa makan." ucap pegawai restoran itu sedikit teriak.
Membuat semua orang yang berada di sana tertuju ke arah Andre.
Pratama pun langsung tertawa melihat tingkah Andre yang sangat malu karena menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung di restoran itu.
Andre yang mendengar suara tertawa dari Pratama itu hanya diam saja, Andre juga tidak mau menatap wajah Pratama dan Jacelyn.
Tetapi berbeda dengan Jacelyn, dia semakin bingung dengan keadaan itu.
Sebelumnya Andre selalu mengejar dirinya, tetapi hari ini Andre merasa orang yang sedang panik dan ketakutan.
Di pikiran Jacelyn kini banyak pertanyaan, dia bingung, apa yang sebenarnya terjadi antara Pratama dan Andre.
__ADS_1
Jacelyn akhirnya memutuskan untuk menanyakan sendiri kepada Pratama setelah mereka sampai di apartemen.