CEO Cantik Terjerat Cinta

CEO Cantik Terjerat Cinta
Perasaan Yang Di Sembunyikan


__ADS_3

Setelah kejadian makan malam yang hampir membongkar identitas Pratama dengan kehadiran Rio si sekertarisnya Pratama dan bawahannya, kini Pratama tengah bersiap-siap untuk mengantar Jacelyn.


Pratama yang melihat Jacelyn dengan pakaian yang rapi terlihat seperti permaisuri di sebuah kerajaan kini telah siap untuk berangkat ke suatu tempat.


" Kita mau kemana sebenarnya?" Tanya Pratama.


" Nanti juga tahu, gak usah banyak bertanya." Jawab Jacelyn ketus.


" Baiklah." Jawab Pratama datar.


Mereka berdua berangkat menaiki motor Pratama melaju dengan kecepatan sedang, di dalam perjalanan tidak ada obrolan sama sekali, Jacelyn yang hanya melamun sedari perjalanan dan Pratama yang fokus mengikuti jalan.


Sesekali Jacelyn bicara hanya untuk menunjukkan jalan menuju tempat yang belum di sebutkan oleh Jacelyn.


Sesampainya mereka di depan rumah minimalis modern, dan dengan dekorasi halaman yang indah dan rapi, Jacelyn turun dari motor dan langsung menuju depan pintu rumah itu.


"Tok.. tok.. tok.." suara ketukan pintu, " Permisi." Dan di lanjut suara dari Jacelyn.


Sampai beberapa menit kemudian ada seseorang yang keluar dari rumah itu, wanita cantik di padukan dengan tinggi badan sekitar seratus enam puluh tujuh.


Wanita itu terkejut dengan kedatangan Jacelyn.


" Loh,.? Bu, Jacelyn" ucap wanita itu.


" Iya, boleh saya masuk?" Tanya Jacelyn.


" Silahkan Bu" jawab wanita itu sembari mempersilahkan Jacelyn masuk.


Mereka berdua pun masuk, Pratama tidak mau masuk kedalam karena dia pikir tidak ada hal yang menarik dari obrolan mereka.


Pratama pun menunggu di luar dan mencari tempat yang teduh.


Sekarang Jacelyn berbicara di dalam rumah tersebut.


" Bu, Jacelyn ada perlu apa pagi-pagi datang kesini?" Tanya wanita itu.


" Jadi begini, kedatangan saya kesini untuk meminta bantuan kamu, saya minta tolong ambilkan barang-barang saya yang ada di rumah saya, cari saja alasan jika kamu bertemu dengan orang tua saya, misalnya dengan mengambil berkas kantor atau apapun." Jelas Jacelyn.


" Loh? Ibu sendiri kok gak balik aja ke rumah?" Tanya penasaran wanita itu.


" Sekarang saya tengah kabur dari rumah, pokoknya kamu harus bisa mengambil barang seperti hp dan tas lain yang ada di meja makeup saya, susah buat jelasin semuanya, nanti kalau sudah kamu bisa hubungi saya." Jelas Jacelyn.


" Baiklah Bu." Jawab wanita itu seakan mengerti maksud dari Jacelyn.


Jacelyn pun berpamitan dengan wanita itu.

__ADS_1


" Ya sudah, kalau begitu saya pergi dulu." Kata Jacelyn yang sembari berjalan menuju pintu keluar.


" Iya Bu, tapi ngomong-ngomong itu siapa ya?" Tanya wanita itu menunjuk ke arah Pratama.


" Oh dia, dia adalah cleaning servis di perusahaan saya, kenapa kamu naksir sama dia?" Jawab Jacelyn yang sedikit mengerutkan keningnya.


" Hehe, Tampan juga dia, kalau boleh kenalin Bu, sama dia." Jawab wanita itu sedikit malu-malu dan wajahnya tiba-tiba memerah.


" Baiklah saya kenalkan nanti kalau kamu sudah selesai dengan pekerjaan kamu." Jawab Jacelyn seadanya.


" Siap Bu." Jawab wanita itu.


Setelah obrolan itu Jacelyn pun pergi menuju tempa Pratama menunggunya.


Sesampainya Jacelyn di tempat Pratama, " Kelamaan nunggunya?" Tanya Jacelyn yang melihat Pratama dengan wajah yang penuh dengan keringat.


" Tidak kok, cuman sudah seperti padi yang di jemur kering tinggal di giling saja menjadi beras, heheh" jawab Pratama dengan bercanda.


" Kamu ini bisa saja melawak ya." Jawab Jacelyn dengan tersenyum mendengar candaan Pratama.


" Hehe, sekarang kita kemana lagi? Atau langsung pulang?" Tanya Pratama.


" Kita ke suatu tempat favorit saya, bisa tidak temani saya kesana?" Jawab Jacelyn.


" Bisa, tenang saja, sampai ke ujung dunia pun saya antar, walaupun dunia tidak ada ujungnya hehehe." Jawab Pratama yang sedang bercanda.


Pratama pun yang melihat itu langsung bertanya.


" Kamu demam, kok mukanya memerah?" Tanya Pratama sembari mengulurkan tangannya menyentuh pipi yang berubah memerah.


Jacelyn yang terkejut setelah tangan itu menyentuh pipinya dengan lembut sontak langsung menggeleng cepat.


" Ti... Tidak." Jawab Jacelyn dengan gugup sembari menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Wajahnya pun semakin memerah dan merasa malu dengan hal itu.


" Oh.. saya kira kamu sedang demam." Jawab Pratama.


Setelah itu Jacelyn menaiki motor, entah mengapa Jacelyn tidak bisa berfikir jernih kali ini, Jacelyn hanya memikirkan sentuhan Pratama tadi yang membuat jantungnya berdetak kencang.


Pria ini mempunyai kekuatan tersendiri untuk menarik lawan jenisnya, seperti ada energi positif ketika Jacelyn dekat dengannya.


Jacelyn yang tengah melamun tentang kejadian tadi tiba-tiba tangannya melingkar ke perut Pratama.


Jacelyn merasa, di saat dia dekat dengannya dia merasa nyaman dan hangat, dia tidak bisa merasakan hal yang sama dengan mantan pacarnya yang cabul itu.

__ADS_1


Jika dia berada didekat mantan pacarnya dia merasa ketakutan dan tidak bisa merasa tenang, tetapi ketika dia bersama Pratama dia merasa hangat dan nyaman, entah perasaan suka itu bisa datang dengan sendirinya dan tanpa keinginan Jacelyn.


Pratama yang mengetahui Jacelyn sedang memeluknya hanya terdiam dan tersenyum seakan itu yang diinginkan Pratama.


Kedua orang itu seperti sepasang kekasih saat ini dengan mengendarai motor yang melaju sedang sembari menikmati pemandangan kota.


Setelah beberapa saat setelah momen romantis itu, Jacelyn dan Pratama sampai di sebuah taman dengan udara yang sejuk, taman itu berada di tengah-tengah kota.


Walaupun pusat kota cenderung dengan udara yang panas dan banyaknya asap dari kendaraan bermotor yang membuat udara semakin panas, semua itu hilang ketika mereka berdua masuk kedalam taman itu.


Taman yang banyak dengan pepohonan besar dan banyak tanaman-tanaman bunga yang menghiasi taman itu.


" Pantas saja kalau kamu bilang ini tempat favorit kamu, tempatnya bagus dan sejuk udaranya." Ujar Pratama, yang tengah takjub dengan taman itu, karena Pratama tidak pernah datang ke tempat lain selam di kota itu, wajar saja kalau Pratama memang takjub dengan taman yang berada di tengah kota.


Jacelyn hanya tersenyum mendengar perkataan Pratama, dia merasa tenang ketika dia berada di tempat itu.


" Kita duduk di sana aja tempatnya lebih sejuk." Ucap Jacelyn yang menunjuk bangku kosong yang berada di bawah pohon besar.


" Oke." Jawab Pratama dengan mengacungkan jempol.


Mereka berdua duduk di bangku itu, Jacelyn menghela nafas panjang, diikuti Pratama yang duduk di samping Jacelyn.


Suasana menjadi sepi ketika Jacelyn memejamkan mata dan tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya.


Sampai Jacelyn membuka mata dan bertanya kepada Pratama yang tengah bermain dengan sebatang kayu kecil.


" Kamu pernah jatuh cinta?" Tanya Jacelyn memulai pembicaraan dengan Pratama.


Pratama menghela nafas, pasalnya Pratama sampai saat ini tetap menyimpan rasa kepada seseorang yang pernah menolongnya waktu kecil dulu wanita itu adalah yang berada di sampingnya saat ini.


" Pernah." Jawab singkat Pratama.


" Seperti apa orangnya?" Tanya Jacelyn, sekarang Jacelyn mulai tertarik dengan Pratama yang tadinya posisi dia menghadap kedepan sekarang menjadi menatap mata Pratama.


" Dulu, ketika aku masih kecil, pernah di tolong oleh anak kecil yang sangat cantik, dia memberikan sebungkus roti dan satu botol minuman dingin, dia bersama ayahnya waktu itu, sampai beberapa tahun lamanya aku mencari wanita yang menolongku waktu itu, dan sekarang aku sudah menemukan anak itu, dulu anak kecil itu sangat lugu dan baik tetapi sekarang dia sangat berbeda sekarang dia tumbuh besar dan semakin cantik, tetapi untuk sifat dan sikap dia tetap sama tidak ada yang berubah, tetap seperti dulu." Jelas Pratama.


Orang yang tengah dia ceritakan adalah Jacelyn sendiri tetapi Jacelyn tidak sadar kalau yang di bicarakan itu adalah dirinya.


" Oh ya? Seperti apa wanita itu, wanita itu sangat cantik sepertinya, aku ingin bertemu dengannya." Ungkap Jacelyn yang tengah penasaran dengan wanita itu.


Sebenarnya Jacelyn merasa sakit setelah mendengar cerita Pratama, entah perasaan apa yang di rasakan oleh Jacelyn, Jacelyn seperti tidak terima dengan cerita itu, tetapi Jacelyn tetap mencoba untuk baik-baik saja.


" Andaikan kamu tahu kalau wanita itu adalah kamu." Umpatnya dalam hati Pratama yang tengah menatap Jacelyn dengan tajam.


" Suatu saat kamu akan mengetahui siap wanita itu, tetapi untuk sekarang aku tidak bisa memberi tahu kamu." Jawab Pratama.

__ADS_1


Pratama mulai goyah dengan tujuannya, antara memberitahu Jacelyn sekarang atau tetap menyembunyikan identitasnya sampai tujuan itu tercapai.


...----------------...


__ADS_2