
Sampailah mereka di rumah dan Hanna menemani Aya hingga hari menjelang petang, Hanna dan Aya berbagi cerita, Hanna menceritakan sosok laki-laki yang mulai menguasi hatinya bukan lain adalah kakak sepupu dari Aya, Entah bagaimana ia bisa saling kenal karena Aya tak pernah memperkenalkan mereka dan baru tahu sekarang saat Hanna bercerita, Merasa sudah kehabisan topik Hanna pun tersadar ia terlalu lama di rumah Aya, lalu Hanna pun pamit untuk pulang
" Ay Gue balik dulu ya, udah mau sore"
"Hmmm... Iyaa udahh, ngoceh mulu ampe Lupa waktu" seru Aya meledek
"Hahaha... iyaa, Kalo Lo butuh bantuan telpon Gue ya"
"Siap bos ku...hehhehe"
"Ok,
Berlalu Hanna meninggalkan Aya yang masih nyaman di dalam kamarnya
Hanna izin pulang kepada Ayah dan ibu Aya yang sedang santai di teras rumah
" pak,Bu .. Hanna Pulang dulu" seraya mencium kedua tangan orang tua Aya
"Iya Hanna hati-hati"
Dimas yang mencoba menghubungi Aya dengan segala usahanya pun nihil, kontaknya telah di blokir satu-satunya jalan Dimas harus ke rumah Aya,
Dimas yang masih berharap sore ini pergi ke rumah Aya, Dengan tentengan berisikan buah-buahan Dimas tiba di sana, Ibu aya yang mendapati Dimas di gerbang pintu segera menyuruhnya masuk, Ibu Aya tak tahu bahwa Dimas telah melukai hati putrinya, Aya pun belum bercerita bahwa Dimas pernah menjadi kekasihnya
" Duduk dulu nak, nanti ibu panggilkan Aya"
"Iya Bu, makasih
Ibu pun pergi menuju kamar Aya, disana Aya sedang berbaring ia tak tidur hanya memejamkan mata
"Aya ada temen kamu tuh"
"Siapa Bu?"
"Yang tempo hari dateng, Ibu juga belum tau namanya, sana temuin dulu"
Aya mulai menerka sosok yang datang kerumahnya kali ini, perasaannya mulai tak karuan
" Tapi Aya mau istirahat Bu"
" Sebentar aja, kasihan dia udah nunggu"
"Yaudah Iyaa Bu"
" Cepet sana ibu mau masak dulu Ayah kamu udah laper"
Aya hanya mengangguk pasrah
Berjalanlah Aya menuju ruang tamu, belum sampai ia sudah lemas melihat Dimas yang sedang duduk di sofa, namun Aya berusaha kuat dan ingin mengakhiri semua hubungannya dengan Dimas dan tak akan pernah menemuinya lagi, Hati nya amat teriris melihat Dimas karena sesungguhnya Aya yang mulai jatuh cinta dengan Dimas harus kandas dan mengubur cinta dan lukanya dalam-dalam
__ADS_1
Dimas yang melihat Aya jalan perlahan lantas bangun dan meraih tangan Aya
"Aya hati-hati aku bantu yaa" seraya meraih tangan Aya
" Gak perlu!!!" jawab Aya yang menghempaskan tangan dari genggaman Dimas
"Aya...
" Udah deh Dim gak usah basa-basi Lo mau apa lagi?
"Aya please jangan benci sama aku, aku mau minta maaf atas kejadian waktu itu, aku bener gak ada niat buat ngelakuin itu sama Tania, Aku mohon kamu maafin aku"
"Gue udah maafin Lo ko Dim, tapi Gue gak akan pernah lupa"
"Ay mungkin aku udah gak pantas berharap lebih lagi dari kamu, aku tau kamu pasti kecewa sama aku, aku nyesel Ay... Aku beneran nyesel.. aku sayang banget sama kamu, aku gak bisa jauh dari kamu" seru Dimas yang mulai memerah kedua bola matanya
"Seharusnya Gue nyerah dari awal, langkah Gue salah dan Gue harus terima ini"
"Ay,..
" Udahlah Dim, cukup semua sakit yang Gue terima Gue gak butuh cinta atau rayuan lagi dari Lo"
"Ay aku bukan lagi ngerayu"
"Dim Lo pernah ada di posisi Gue, Lo tau gimana rasanya sakit di khianati, dan apa yang Lo pinta dari si pengkhianat??? Pergi jauh dari hidup Lo kan!!! Gue harap Lo faham !!! Kata Aya yang menahan air mata dadanya sesak penuh emosi
" Gue rasa cukup dan semua udah jelas, Lo boleh pergi
"Aya...
" Makasih Dim untuk semuanya"
"Ayaa..!!Aku ingin peluk kamu untuk sekali ini aja,, aku juga hancur setelah semua ini terjadi, aku juga sakit kehilangan kamu " Ucap Dimas yang kali ini menitikan air mata
"Lo udah gak ada hak lagi di rumah Gue..!! Jawab Aya yang mengakhiri pertemuan mereka
Aya pun berdiri dan melangkah pergi menghiraukan ucapan Dimas dan meninggalkanya di ruang tamu.
Ibu Aya melihat Dimas yang menyeka air mata lalu menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi
" Ada apa nak? Kalian ada masala? Tanya Ibu Aya yang duduk Disamping Dimas
"Engga ada,
"Ada apa ? kamu kelihatan .....
" Bu saya mau minta maaf udah nyakitin perasaan anak Ibu, saya harap ibu juga maafin saya, saya merasa bersalah dan mungkin saya akan menyesal telah kehilangan seseorang seperti Rifaya" kata Dimas yang memotong pertanyaan Ibu Aya
" Kelarin masalah kalian dengan cara baik-baik" seru Ibu
__ADS_1
"Sudah Bu, kami sudah membicarakan ini,, saya pamit pulang dulu" jawab Dimas lalu mencium tangan Ibu Aya
" Iya sudah hati-hati nak"
Dimas pergi dari rumah Aya dan tak akan pernah kembali lagi demi janjinya kepada Aya
Ibu Aya pun menghampiri Aya yang sedang menumpahkan air mata di atas bantal, perlahan Ibu masuk dan mengusap kepala Aya penuh kasih sayang, Aya yang merasakan sentuhan itu lalu beranjak dan mengusap semua air matanya
" Ehh Ibu, ada apa Bu?? Kata Aya yang melontarkan senyuman palsu
"Aya... Cerita sama Ibu nak, apa yang terjadi" bujuk ibu
"Gak ada apa-apa Bu, semua udah selesai,, "
" Dia pacar kamu?
"Udah engga , udah putus"
"Kenapa???"
" Panjang Bu ceritanya, lagi pula Aya cantik, Aya bisa dapat yang lebih baik dari dia, dia cuma orang yang salah buat Aya" seru Aya yang tak mau kelihatan sedih oleh Ibu nya
" Iya sayang..."jawab Ibu Lalu memeluk erat Aya
Tiba dirumah Dimas lalu bicara kepada orang tuanya yang sedang duduk menonton tv di ruang keluarga, ia memilih ikut keluarganya tinggal di bandung dan meninggalkan kenangan serta luka di antara mereka
"Mah, pah,.. Dimas udah putusin ikut kalian tinggal di bandung" seru Dimas yang ikut duduk
"Berubah fikiran kamu?" Tanya mamah
"Iya, udah gak ada yang Dimas harapin disini"
"Rifaya???" Celetuk mamah
"Engga mah, Dimas udah yakin dengan keputusan ini"
" Iya sudah,mungkin seminggu lagi kita pindah" ucap mamah
" Kerjaan kamu Dim? Tanya papah
" Dimas cari kerja di bandung aja"
"Iyaa sudah kalo itu memang keputusan kamu"
" Mah,pah,,, Dimas masuk kamar dulu" ucap Dimas yang beranjak dari sofa dan pergi berlalu dengan perasaan yang sangat kacau
Menyesal hanya itu yang ia rasakan saat ini dirinya terjebak dengan kasih lamanya yakni Tania, jauh di lubuk hati Dimas telah memendam semua rasa yang ada untuk Tania, dan berharap penuh pada Rifaya Tapi mengapa ia tergoda dengan satu ciuman paksa itu,
Sakit kehilangan kini ia rasakan karena kebodohannya, Dimas pasrah dengan cerita cintanya kali ini.
__ADS_1