Cerita Cinta Rifaya

Cerita Cinta Rifaya
Lamaran Tania


__ADS_3

Setelah sampai di rumah orang tua Tania, Dimas membangunkan Tania memberitahu bahwa sudah sampai di rumahnya, mereka pun masuk, Dimas bertemu dengan kedua orang tua Tania dan membicarakan soal pernikahan mereka


Tanpa basa- basi Dimas langsung bicara inti bahwa akhir bulan mereka siap untuk mengikat janji


Ayah Tania sengaja izin tak masuk kantor karena mendengar kabar dari Ayah Dimas bahwa anak-anak mereka akan Tiba pagi ini dan membicarakan masalah pernikahan.


Orang tua Tania merasa senang dan amat bahagia hubungan mereka yang sempat gagal ke jenjang pernikahan akhirnya bisa di wujudkan kembali tanpa mereka tahu bahwa Tania sudah menyerahkan kesuciannya sebelum janji suci mengikat mereka


Perbincangan mereka cukup lama di ruang tamu secangkir teh pun telah di habiskan Tania yang sedikit merasa cemas, hatinya bimbang harus kah ia menceritakan kejadian itu kepada orang tuanya, atau memilih menutupinya rapat-rapat


Sementara Dimas teh nya sudah dingin sedari tadi ia tak ingin meneguk karena benaknya cemas atas semua tindakan yang ia ambil, ragu namun harus ia jalani mengingat Tania sudah tak perawan lagi karena ulahnya.


"Kalian pasti lelah, sekarang istirahat dulu bunda akan siapin makan siang buat kalian" seru Bunda Tania yang menyuruh mereka beristirahat


"Iya Tante" ucap Dimas


"Dim aku mau ganti baju dulu ya" imbuh Tania yang beranjak dari sofa


Dimas hanya mengangguk, kini di ruang tamu hanya ada Dimas dan ayah Tania, ibundanya pergi ke dapur untuk menyiapkan jamuan makan siang.


"Jadi resepsinya akhir bulan ini, kenapa dadakan dim? Lagipula kalian baru saja pindah ke bandung bukan?"


"Iya om, mamah maunya akhir bulan,Dimas gak bisa nolak"


"Sekitar dua minggu lebih Lohh,, apa kalian bisa mempersiapkannya dalam waktu sesingkat itu?"


"Mudah-mudahan om, masalah resepsi Dimas dan Tania udah percayakan ke mamah karena mamah juga banyak teman WO karena mamah punya usaha catering jadi mamah tahu betul WO yang amanah" ucap Dimas menyakinkan


"Baiklah,

__ADS_1


" Tiga hari lagi orang tua Dimas kesini Om , mereka yang secara resmi melamar Tania.


"Jadi kamu bolak-balik ke bandung?"


"sementara Dimas tinggal di rumah yang lama, barang-barang masih ada disana"


"Begitu.


Ayah Tania memberi Dimas waktu untuk beristirahat sementata dirinya mulai sibuk menelpon kolega dan teman lama memberi kabar bahwa sebentar lagi ia akan menikahkan putri sulungnya, wajah bahagia itu tertangkap mata Tania dari balkon rumah yang melihat Ayahnya berbicara dengan penuh antusias,


Hatinya ikut bahagia namun terselip sedikit penyesalan karna jalan yang ia tempuh memang tak patut di benarkan


Tania turun dari kamarnya melihat Dimas yang berbaring di sofa dengan lelap, lalu ia ke dapur ibundanya sibuk meracik masakan Tania pun ikut andil meramu kudapan yang akan di sediakan siang ini


Makan siang pun berlangsung di rumah keluarga Tania, si bungsu Naya yang baru pulang sekolah pun ikut bergabung di meja makan,


........


Singkatnya tiga hari berlalu malam lamaran pun tiba orang tua Dimas menyusul ke jakarta untuk meresmikan lamaran bungsunya itu, dengan persiapan matang keluarga Tania menyambut calon besan


Parsel yang berisikan berbagai macam makanan, telihat macam-macam hadiah lamaran begitu mewah yang di persiapkan orang tua Dimas


Acara berlangsung dengan penuh kebahagian dari kedua belah pihak yang memang menginginkan semua ini terjadi


Lain hal dengan Dimas yang masih terpaut dengan Rifaya yang tak mungkin dapat ia miliki lagi.


Dimas memilih keluar untuk mencari angin keluarga mereka sedang asik bercengkrama membuat Dimas sedikit merasa jenuh, Tania yang melihat Dimas berlalu dari kerumunan ia pun membuntutinya


Dimas berdiri di depan halaman rumah Tania yang cukup luas, ia merogoh ponsel dari saku celana kemudian membuka menu ponsel dan mengarah ke galeri foto belum sempat terbuka Tania memeluk Dimas dari belakang menyilangkan tangannya ke dada Dimas yang bidang, Dimas menutup ponselnya dan menaruhnya kembali kedalam saku

__ADS_1


"Tania... Kamu ngapain di sini?" Tanya Dimas yang berbalik melepas pelukan Tania


"Kamu ngapain disini?" Jawab Tania balik bertanya


"Aku lagi cari angin aja"


"Dimas, aku tahu perasaan kamu ke aku, aku juga faham, aku minta maaf kalau aku selalu merepotkan kamu, Dim kalau kamu ragu apa sebaiknya pernikahan ini di batalkan saja?"


"Tania kamu ngomong apa sih"


"Sejujurnya aku takut kehilangan kamu Dim, tapi aku gak bisa memaksakan perasaan kamu" ucap Tania lirih dengan air mata


"Tania...." Seru Dimas lalu memeluk tubuh Tania


"Kalau kamu gak yakin dengan pernikahan ini biar kita batalin aja, jika nanti aku hamil aku akan mengurus anak kamu dengan baik dengan penuh kasih sayang" imbuh Tania yang terisak wajahnya tenggelam di dada Dimas


"Cukup Tania aku gak mau denger lagi, jangan jadikan aku laki-laki pecundang untuk kedua kalinya, aku kehilangan kepercayaan Rifaya tapi aku gak mau ke hilangan kepercayaan ini dari kamu, maafin aku atas perbuatanku, mulai saat ini kita menatap ke depan, ke kehidupan kita yang baru" seru Dimas yang mengeratkan pelukannya


Cukup lama meraka berpelukan Dimas yang merasa benar-benar bersalah kali ini berjanji dalam benaknya membuang semua kenangan bersama Rifaya, ia ingin memulai hidup yang baru bersama Tania dan membuang semua keraguan terhadapanya


Udara malam itu terasa semakin dingin mereka memutuskan untuk kembali ke dalam dan bergabung bersama dua keluarga disana


Malam semakin larut Dimas dan keluarga pun berpamitan Tania beserta Ayah dan ibundanya mengantar keluarga Dimas sampai depan pintu iringi-iringan mobil dari keluarga besar Dimas pun pergi berlalu meninggalkan kediaman orang tua Tania


Dimas sekeluarga Tinggal di rumah lama mereka sampai resepsi selesai di gelar baru mereka memboyong lagi seluruh keluarga untuk menetap di bandung karena semua teman dan rekan bisnis orang tua Dimas banyak yang tinggal di jakarta


Tak ada percakapan di dalam mobil yang di kendarai papah Dimas, Mamah pun sibuk menghubungi WO dan merencanakan acara yang akan berlangsung sebentar lagi, Damar terlihat sangat lelah dan tertidur begitu pulas ia duduk di bangku belakang bersama Dimas sedangkan Dinda bersama suaminya di mobil yang berbeda


Tiba di rumah Dimas langsung pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua begitu pun Damar yang ingin segera beristirahat, di susul Dinda dan suaminya Dinda tampak letih mengingat ia sedang hamil muda sumainya terlihat khawair Dinda langsung di ajak ke kamar untuk beristirahat, Orang tua Dimas masih sibuk dengan rencana pernikahan karena Dimas menyerahkan seluruh urusan pernikahan kepada papah dan mamahnya

__ADS_1


__ADS_2