Cerita Cinta Rifaya

Cerita Cinta Rifaya
Fitting baju


__ADS_3

Malam berganti pagi kebiasaan buruk Aya sulit untuk bangun pagi hari meski alarm terus berbunyi tetap ia tak bergeming dari tidurnya, telinganya seperti kebal dengan suara alarm ponsel satu-satunya cara yang bisa membuatnya membuka mata ialah suara sang Ibu, panggilan dan teriakanyalah alarm paling ampun di dunia ini


Aya bangun dan melaksanakan sholat subuh setelah itu ia kembali ke tempat tidur Aya hanya bangun untuk sholat saja setelahnya ia bersantai di tempat tidur tak jarang dirinya terlelap kembali melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda, pemalas memang dirinya bukan membantu Ibunya menyiapkan sarapan atau berbenah rumah ia malah memilih bersantai ria di dalam kamar namun Ibunya tak pernah memerintah atau meminta bantuan karena Ibu berfikir Aya cukup lelah dengan segudang pekerjaannya di kantor


Seperti biasa Aya mandi lalu berkemas, ia sarapan dan pergi ke kantor


......


(Di rumah Dimas)


Mamah menuju kamar Dimas ia hendak membangunkan Dimas dengan penuh semangat sang mamah ingin memberi kabar bahwa hari ini Dimas akan fitting baju pengantin bersama Tania namun di lihat Dimas masih begitu lelapnya


"Dimas bangun, udah pagi" seru mamah seraya mengusap kening


"Jam berapa si mah,,,, Dimas masih ngantuk"


"Udah jam 7 pagi, ayo bangun hari ini fitting baju kan"


"Gak bisa siang aja mah"


"Gak bisa, siang kamu harus anterin mamah survey gedung"


"Gak usah fitting aja mah, repot banget Dimas males" kilah Dimas menutup wajah dengan selimut


"Kamu itu mau nikah Dim, bukan mau kondangan" seru mamah mulai jengkel


"Iya.. iyaa... 5 menit lagi"


"Awas 5 menit lagi gak bangun" gerutu mamah yang kemudian pergi dari kamar Dimas


Di ruang tamu Tania sudah menunggu entah sejak kapan ia sudah berada di sana, Dirinya terlihat begitu semangat aura kebahagiaan terpancar kecantikannya meningkat 99 % membuat mamah Dimas begitu kagum dengan Tania sang calon menantu


" Tania kamu sudah datang" sapa mamah


"Iya tant"

__ADS_1


"Udah sarapan? Kita sarapan bareng yuk"Titah mamah Dimas


Mereka pun menuju ruang makan keluarga keakraban antara calon mertua dan menantu terlihat di sana kemudian Ayah Dimas ikut bergabung di meja makan,Damar dan Dinda beserta suami ikut serta hanya Dimas yang belum keluar kamar.


Mamah menyuruh Tania untuk melihat Dimas di kamar, Tania yang mendapat perintah dari calon mertuanya itu dengan senang hati ia menerimanya, segera Tania menuju kamar Dimas dan mengetuk pintu secara perlahan


Tak ada jawaban dari dalam membuat hatinya penasaran ingin segera masuk memastikan ada kah Dimas di sana, Tania membuka pintu dan memanggil nama Dimas ia menyusuri ruangan namun tak di dapatinya


Tiba-tiba Dimas muncul dari kamar mandi dengan telanjang dada memakai handuk sebatas lutut membuat dua sejoli itu kaget dan salah tingkah


"Ya ampun Dimas ... Maaf " ucap Tania yang langsung menutup mata dengan telapak tangan


"Tania kamu ada di sini" jawab Dimas salah tingkah


"Iya tadi aku di suruh panggil kamu buat sarapan" ucap Tania yang belum melepas tangannya


"Nanti aku ke sana, kamu boleh keluar"


"Tapi aku harus denganmu ke ruang makan"Dalih Tania yang memang ingin bersama Dimas


"Kamu pake baju aja, aku gak akan lihat aku terus tutup mataku"


"Hemmmm"


"Gak usah khawatir Dimas malam itu kamu tanpa malu-malu membuka semua bajumu"ucap Tania yang membuat Dimas menelan air liurnya


"Astaga"


"Udah cepet pake bajunya atau aku akan buka mata untuk melihat tubuhmu lagi" Goda Tania


"Ja.. jangan,, udah kamu tunggu jangan buka mata"imbuh Dimas yang agak panik


Dimas yang kikuk kemudian membuka lemari pakaian ia memilih asal pakaian yang akan ia kenakan, Dimas mulai memakai pakaian dalam dengan rasa canggung di hatinya sesekali ia menoleh ke arah Tania


"Aku gak bakal ngintip kok Dim, lagi pula kita akan nikah jadi nanti juga bakalan sering kaya gini" seru Tania yang masih menutup mata dengan tangan

__ADS_1


Dimas mempercepat geraknya karena ia mulai merasa khawatir kalau gairah itu kembali menghampiri


Jiwa nakal Tania datang ia merenggangkan jari tangan yang menutupi kedua mata nya, Samar terlihat bagian belakang tubuh Dimas membuatnya tergoda namun ini bukan waktu yang tepat untuk melancarkan nafsunya karena keluarga besar Dimas menunggu kehadiran mereka berdua


Setelah di rasa rapih Dimas dan Tania menuju meja makan dan mereka sekeluarga pun sarapan bersama, calon pengantin lalu menuju butik untuk fitting baju sementara mamah mengurus catering untuk acara nanti yang memang itu juga termasuk usahanya


Tak ada kendala dalam fitting baju karena Dimas tak begitu ambil pusing dan mengikuti apa yang Tania mau, Tania memilih gaun berwarna cream sederhana namun elegant, kebaya modern dengan sentuhan etnis sunda yang akan ia kenakan di hari ijab qobul nanti karena memang keduanya berdarah sunda


Saat Tania memakai gaun tersebut wajahnya begitu berseri-seri impian pernikahan di ambang mata dengan seseorang yang ia cintai tak lepas matanya melihat cermin besar di hadapannya, ia berputar membolak balikan badan merinci detail gaun dari atas hingga bawah.


Tania keluar dan memperlihatkan gaun yang ia kenakan kepada Dimas yang sedang mengukur badan, Dimas melihatnya dengan perasaan takjub dan sedikit bergetar hatinya


"Dimas gimana menurut kamu" Tanya Tania


"Kamu cantik" ucap Dimas dengan tersenyum


Mendengar pujian dari Dimas Tania merasa melayang di udara membuat meleleh hatinya seperti seseorang yang memang sedang di mabuk cinta


Selesai fitting baju keduanya memutuskan makan siang di resto sekitaran rumah karena mamah Dimas telah menunggunya untuk mensurvey gedung siang ini


Tania meminta daftar menu kepada pelayan resto ia sibuk memilih apa yang hendak ia makan saat ini,


Tanpa di sengaja Aya dan Adrian memilih resto yang sama, Aya yang jalan di depan sejenak menghentikan langkah membuat Adrian bingung, Aya mendapati Dimas dan Tania sedang duduk memesan makanan, Aya langsung ambil langkah seribu untuk menghindari pertemuan mereka


"Kenapa Ay kok berhenti?"


"Hmmmm.... Kita cari tempat lain aja yuk"


"Emangnya kenapa?" Tanya Adrian yang mulai penasaran


"Udah ayo" titah Aya yang menarik lengan Adrian


Adrian tak bisa mencegah Aya yang jalan begitu cepat keluar dari resto tersebut, hatinya bertanya-tanya dengan sikap Aya dan


Akhirnya mereka memilih tempat lain untuk makan siang, Adrian tak ingin menanyakan lagi kenapa Aya tak ingin makan di resto tersebut, Adrian membuka topik dan berbicara tentang masa sekolah dulu ia bersama Putra yang saat ini di pingit dan esok sudah menjadi pengantin pria

__ADS_1


__ADS_2