
Aya dan Kinanti keluar ruang proses berganti pakaian merapihkan ramput serta mentouch up make up agar terlihat lebih segar, mereka lalu meninggalkan ruang ganti baju dan berjalan beriringan ke kantor untuk menaruh laporan pekerjaan hari ini
"Kak, Putra kan mau Nikah" seru Aya
"Yang benar???" Jawab Kinanti antusias
"Undangannya besok di sebar, sekarang aja dia pulang duluan,Katanya ada urusan" imbuh Aya seraya merapihkan laporan
"Becanda kali, Dia kan suka ngefrank"
"Tapi dia serius kak, kita tunggu aja undangannya besok"
"Dia gak pernah cerita tentang masalah pribadi tiba-tiba mau nikah ya"
"Iya padahal masih muda"
"Udah ketemu jodohnya Ay"
"Aku kapan ya ketemu jodohku" celetuk Aya bergurau
"Sabar,.. Mungkin jodoh mu lagi di jagain sama orang lain"
"Hahahhaaa" Aya hanya tertawa lepas
"Dia malah ketawa" imbuh kinanti menggelengkan kepala
"Lucu aja kak,,, lagi juga aku gak mau buru-buru nikah"
"Sama aku juga"
"Kalo Haikal tiba-tiba ngelamar gimana di tolak apa di terima?"
"Yaaaa aku terima dong"
"Katanya gak mau buru-buru nikah,Gimana sih plin-plan nih"
"Dari pada di ambil orang"ucap Kinanti cengengesan
"Tuh kan yang di omongin ngerasa,, bentar ya Aya aku jawab telpon Haikal dulu" seru Kinanti kali ini dengan semringah
"Iya.. iyaaaa..."
Kinanti keluar ruangan dan menerima panggilan telpon dari kekasihnya itu, sementara Aya merapihkan laporannya juga laporan Kinanti, Tak lama kemudian Kinanti masuk kembali dan melihat semua berkas dirinya telah di rapihkan oleh Aya
"Kamu yang beresin Ay... Makasih yaa" ucap Kinanti mendayu-dayu
"Udah kak ??? Pulang yuk? Di jemput ya? Pasti di jemput deh? Ya kan ??" Tanya Aya beruntun seperti waratawan kali ini
" Iya ... Hehehe " jawab Kinanti cengengesan
"Tuh kan...."
"Ayo pulang, udah sore kamu mau di sini terus" seru kinanti menarik tangan Aya
Mereka pun keluar kantor dan berjalan perlahan tak sengaja mereka bertemu Adrian di depan kantornya
__ADS_1
"Heyy" sapa Aya
"Kalian udah mau pulang?" Tanya Adrian
"Iyah" jawab mereka Kompak
"Kamu belum pulang?" Tanya Kinanti
"Lembur kayanya nih"
"Putra mana?
"Udah pulang duluan,Dia ada urusan keluarga" jawab Aya
Ponsel Kinanti terus berdering hingga memecah obrolan antara mereka, Panggilan masuk dari Haikal yang telah sampai di depan gerbang sepertinya sudah tak sabar menunggu Kinanti
"Maaf ya Rifaya, aku duluan Haikal udah nunggu di gerbang" seru Kinanti yang mencubit manja pipi Aya
Berlari Kinanti meninggalkan Aya, begitu terburu-buru karena Kinanti tak ingin membuat kekasihnya terlalu lama menunggu dirinya
Aya mencoba melanjutkan obrolan yang terasa hambar karena sempat tertunda, dengan basa-basi kali ini Aya bertanya
"Gimana kabar Lyli?"
" Baik"
"Syukur deh, udah lama juga gak ketemu Lyli"
"Main aja kerumah Lyli gak kemana-mana kok"
"Iya nanti deh,oh iya kamu kan pegawai baru tapi udah lembur aja"
"Jangan terlalu di paksain"
Muncul Lucy dari balik Adrian yang dengan manja ia berkata
"Adrian kamu di sini aku cariin juga" seru Lucy mengusap bahu Adrian
"Iya" jawab Adrian merasa tak nyaman
"Ini ada beberapa berkas yang perlu di tanda tangani"
"Tolong taruh di meja, nanti aku tanda tangani"
"Tapi Adrian ada beberapa data juga yang mesti di input" keluh Lucy yang menarik lengan Adrian
Aya yang melihat Tingkah Lucy hanya mengernyitkan dahi
Siapa itu cewek,cantik tapi kok agresif banget ya? Apa pacar Adrian? Kan Adrian pegawai baru? Masa udah punya pacar aja? Ishh...isshh..ishh... Kok Gue jadi kepo amat yaa" Gumam Aya dalam hati
"Adrian Aku pulang dulu ya" Ucap Aya
"Iya Rifaya kamu hati-hati" imbuh Adrian yang tersenyum tipis
Berlalu Aya menuju parkiran motor, Adrian yang masih melekatkan pandangan sebenarnya masih ingin berlama-lama dengan Aya namun pekerjaan dan situasi yang tak memungkinkan
__ADS_1
"Adrian ayo masuk, kerjaan kita masih banyak loh" ucap Lucy
"Kamu duluan aja, aku mau ke toilet" jawab Adrian lalu pergi meninggalkan Lucy
"Cuek banget gilaaa.... Kurang apa Gue,, cantik,putih,tinggi, dia sama sekali gak tertarik sama Gue" Gerutu Lucy
Sikap Adrian yang dingin kepada Lucy menandakan bahwa Adrian sama sekali tak tertarik dengannya, jauh di dasar hati Adrian ada nama Rifaya yang ia simpan namun waktu yang belum tepat untuk mengungkapkannya, Aya banyak di dekati laki-laki dan ia tak ingin bersaing dengan mereka, Untuk saat ini Adrian lebih memilih menjadi teman dan menyimpan perasaan ya itu
Jauh Di sana Dimas membantu Tania mengemas barang karena besok mereka berangkat pagi menuju jakarta
"Dim,, aku mau tanya sesuatu" ucap Tania
"Tanya apa?"
"Aku mau tanya perasaan kamu ke aku sekarang?"
Dimas hanya terdiam
"Dim,, apa pertanyaan aku begitu sulit sampai kamu tak bisa menjawab?"
"Aku.....
"Lupain aja Dim, pertanyaan aku gak penting" potong Tania dengan lirih
"Maaf Tania kalau boleh jujur aku belum bisa lupain Rifaya, perasaan aku ke dia gak bisa hilang begitu Aja, Tapi aku gak akan ninggalin kamu,aku akan nikahin kamu,aku juga akan berusaha mencintai kamu seperti dulu"
"Iya Dim aku percaya sama kamu,Makasih udah mau jujur"
"Besok kita berangkat pagi" ucap Dimas yang mulai beranjak pergi
"Iya dim"
Pagi hari Dimas dan Tania sudah dalam perjalanan, mereka berniat menepi untuk membeli sarapan, Mata Tania mengarah ke gerobak bubur di tepi jalan
"Dim, aku mau sarapan bubur yang itu tuh" seru Tania yang menunjuk ke arah gerobak bubur
"Kamu telat bilangnya ini udah kelewat"
"Putar balik Dim"
"Yang lain aja"
"Gak mau.. aku mau bubur yang itu"Pinta Tania memaksa
"Di depan nanti ada lagi"
"Gak mau,,,, Aku mau yang tadi.. kalau bukan yang itu aku gak mau makan!!!" Pinta Tania kali ini merengek
"Ok..oke kita putar balik"
"Tania masih sama kaya dulu, sifat dan tingkahnya gak berubah, kadang bikin kesal kadang bikin gregetan dan yang selalu manja tapi itulah Tania yang memang aku kenal" gumam Dimas dalam hatinya yang sejenak merefresh sosok Tania
Setelah sarapan mereka melanjutkan perjalanan, perut yang terasa kenyang di iringi lagu melow membuat Tania mengantuk hingga ia tertidur pulas, Dimas harus tetap fokus menyetir di sela lampu merah Rifaya berhenti tepat di samping mobil Dimas,Aya kelihatan begitu tergesa-gesa ia menoleh ke kiri dan kanan seakan tak ingin terjebak lampu merah apalah daya ia harus menunggu 60 detik untuk bisa melajukan kendaraannya kembali
Dimas terkejut karena tak sengaja bertemu Aya meski tak bisa bertatapan langsung namun ini menjadi hal yang tak bisa ia lupakan
__ADS_1
"Rifaya... Aku kangen kamu Aya, sekejap aku bisa memandang tanpa kamu ketahui, maafin aku Aya aku gak bisa jadi yang terbaik buat kamu, kita mungkin tak berjodoh,lampu merah ini menjadi saksi bahwa sampai saat ini perasaanku belum berubah, semoga kamu bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari aku"
60 detik berlalu tatapan Dimas lekat kepada Aya yang mulai berjalan menjauh Dimas masih dalam lamunan hingga klakson mobil lain yang membuyarkan lamunan Dimas