Cinta Benua Antartika

Cinta Benua Antartika
Bab 11


__ADS_3

Sudah jatuh tertimpa tangga. Pak Totok membawa lari mobil sedan merah milik orang tua Lembayung. Pencurian yang berencana itu tampak hanya pak Toton yang terbebas dari kejaran hukum. Dia menghilang tanpa jejak. Orang-orang yang melewati perbatasan keluar kota dan provisi di sudah di periksa oleh para aparat kepolisian tapi mobil dan pelaku yang di cari tidak di temukan.


Bi Tama, mbok Jum dan dua pria botak di penjara selama lima tahun bahkan tuntutan dari Dendra menambah vonis hukumannya menjadi sepuluh tahun lamanya. Duduk di samping Lembayung, Dendra mengusap tangannya. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan mencari si pelaku utama lalu menghabisi dengan tangannya sendiri.


“Dendra..” lirih suara Lembayung.


Dendra berdiri panik berlari memanggil dokter. Berapapun harga yang harus di bayar dia kan memberikan yang terbaik untuk sahabatnya itu. Atas ijin dari pihak Rumah Sakit, Dendra juga mendatangkan dokter pribadi milik keluarganya khusus memeriksa Lembayung dan Kinan.


Merasa sangat lega mendengar keduanya tidak mengalami cedera atau luka yang serius, Dendra mengusap dadanya sendiri mengucap penuh syukur. Tapi, tib-tiba pada malam itu juga Kinan di pindahkan oleh dua orang utusan orang tuanya.


Dendra yang tampak masih terjaga, tidak bisa menahan dua pria dan dua petugas medis membawanya keluar ruangan. “Kenapa orang tua Kinan membawanya begitu mendadak?” gumam Dendra.


Sejak saat itu, tiga serangkai terpisah oleh jarak dan waktu

__ADS_1


Setelah banyaknya kejadian yang menimpa hidup Lembayung, dia di jaga ketat oleh kedua orang tuanya. Tidak ada lagi waktu untuk berkumpul atau bahkan kerja kelompok sekalipun. Ibu Sora memutuskan untuk berhenti bekerja, dia menunggu anak dan suaminya selama dua puluh empat jam penuh di rumah. Pak Abas mengantar Lemba pergi ke sekolah sedangkan bu Sora menjemputnya pulang.


Jadi sampai hari ini si pelaku utama baru di ketahui. Amarah Dendra melonjak tinggi mendengar nama Fiza. Dia menuntut wanita itu, mengumpulkan semua bukti sedetail dan terperinci. Fiza tidak bisa mengelak, kedua orang tuanya merasa kecewa atas semua perbuatan anaknya. Dia terpaksa harus masuk ke dalam jeruji besi selama lima tahun lamanya.


“Kau harus bersyukur tidak aku bunuh dengan tangan ku sendiri. Jika saja Lemba tidak menghalangi maka kau sudah Mati” ucap Dendra.


“Dendra ku mohon tolong aku. Tolong keluarkan aku dari sini! Hiks.”


“Tidak Dendra! Tolong aku! Arghhh!”


Membuka mata, menatap tempat asing memandang ke arah keluar. Kaca jendela itu menampakkan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Kinan menoleh melihat Rusni masuk membawakannya segelas air putih.


“Seperti mimpi saja dalam satu malam berpindah kesini”

__ADS_1


“Dik, kamu sudah satu minggu tidak bangun. Satu malam dari Hongkong?”


“Apa? Aku harus menanyakan keadaan Lembayung.”


Kinan bangkit dari tempat tidur, dia menekan punggungnya yang masih sakit. Husni membantunya bersandar. Dia menyodorkan ponsel miliknya membantu menekan nomor ponsel yang tertulis nama Lembayung.


“Halo Lembayung__”


“Halo”


“Hiks, Kinan. Kamu sudah bangun? Aku khawatir sekali. Hiks” tangis Lembayung tidak bisa meneruskan pembicaraan.


Mereka terpaksa mengakhiri panggilan tersebut. Raut wajah Kinan berubah masam, dia sangat merindukan lembayung. Husni menepuk pundak adiknya itu. Dia berharap Kinan memberikan keputusan yang tepat untuk masa depannya. Apapun yang di putuskan, dia selalu mendukung Kinan dan membantu kesulitannya.

__ADS_1


__ADS_2