Cinta Benua Antartika

Cinta Benua Antartika
Bab 18


__ADS_3

Akibat laju sepeda motor terlalu kencang, Dendra tidak bisa mengendalikan begitupun rem blong membuat dia terus melaju lurus ke depan. Dia berpikir akan mengalami kecelakaan menabrak benda di depannya. Dendra lompat dari sepeda motornya ke sisi rerumputan.


Brughh_ pragh__


Duarr_


Terlihat dari kejauhan kendaraan Dendra meledak hancur berkeping keping menabrak pohon besar. Semua orang berpikir Dendra telah tewas, mereka menjerit histeris bahkan ada yang beberapa yang berlari menuju letak kecelakaan itu.


“Uhuk, uhuk, aku disini!” teriak Dendra.


“Kenapa dia nggak mati aja sih biar aku yang jadi ketuanya!” gumam Heri memukul sepeda motornya sendiri.


“Dendra! Astaga! Kau buat kamu sport jantung aja!” Tomi dan Bombom membantunya berdiri."


“Selamat atas ketua baru!” sorak para anggota komunitas.


Perayaan dan ucapan selamat di tunda, dia meminta pamit undur diri karena ada keperluan yang mendesak. Dendra meminta Tomi mengantarnya ke rumah Lembayung, luka-luka yang ada di tubuhnya dia abaikan seolah terlihat tidak sakit sedikitpun.


“Memang benar cinta itu buta! Kau sudah terluka tapi menomor satukan perempuan itu” ucap Tomi.


“Berisik, kau cukup mengantarkan ku tanpa banyak komentar” jawab Dendra menepuk pundaknya.


“Apa kau sudah menerima konsekuensinya? Misalnya cinta mu di tolak? Ahahah maaf aku Cuma tidak mau kau sakit hati terus menyusahkan ku mencari pengganti mirip Lembayung”


“Tidak ada perempuan lain yang mirip atau menggantikannya sekalipun kami berpisah.”


“Oh so suuiittt!”


Di dalam perjalanan Tomi memberitahu rencana yang sudah mereka jalankan. Mendengar hal itu, Dendra mengacungkan kedua jempol memberikan ucapan selamat telah menjalankan misi secara mulus. Mereka berpikir semua sudah selesai, tidak sebelum Fiza, rara dan Rosa menunggu kabar penderitaan bahkan kematian Lembayung.


Mendengar dari aduan Rosa yang berlinangan air mata di depan Fiza. Dia sangat geram ingin menyakiti Lembayung. Menggunakan kekuatan ayahnya yang memiliki harta berlimpah, Fiza dari balik jeruji besi membayar pria khusus menghabisinya.


“Kau yakin kali ini aku tidak di seret polisi kan?” tanya Rosa."

__ADS_1


“Ya kau tenang saja.”


Pria memakai topeng mengendap-endap melompati gerbang rumah. Suara bunyi gerbang mengagetkan Lemba yang baru saja menyelesaikan PR nya. Dia mengintip dari balik kaca jendela, bayangan berlari kea rah belakang rumah.


“Hah, apakah hantu?” ucapnya membatin.


Dia menuju ke belakang memastikan pintu terkunci. Keanehan melihat gagang pintu bergerak sendiri. Dia juga memperhatikan pintu akan di congke dari luar.


“Hei, siapa disana? Apakah ada orang?” teriak Lembayung.


“Hello!”


Suara Lembayung sangat keras, gagang pintu berhenti bergerak. Dari depan suara ketukan kembali mengagetkannya. Menyadari ada dua bahkan tiga maling yang masuk dari arah depan dan belakang, Lemba bergetar ketakutan menghubungi Dendra namun teleponnya tidak aktif.


Suara ketukan bahkan panggilan menyebut nama Lembayung. Terdengar suara Dendra, dia segera membuka pintu lalu memeluk erat.


“Aku takut Nda! Hiks.”


Kejadian yang pernah dia alami membuat Lemba trauma. Dendra mengusap punggungnya lalu masuk ke dalam. Dia tadi melihat ada sosok bayangan di arah belakang, tidak mau mengambil resiko besar, mereka hanya memastikan semua pintu dan jendela rumah masih terkunci.


“Habis jatuh daris eperda motor, jadi aku kesini diantar Tomi” jawab Dendra menyembunyikan kebenaran.


Lemba mengambil kotak P3K, sebelumnya dia membersihkan luka dengan air lalu mengolesi obat di atasnya.


“Sttt pelan dikit!”


“Makanya kalau bawa kendaraan harus hati-hati. Lagian kamu tumben nggak bawa mobil? Habis dari mana?”


“Kan aku udah bilang mau nongkrong.”


Nonton film bioskop dari siaran via online, keduanya duduk di depan layar TV sambil menikmati cemilan. Sebenarnya Dendra ingin mengucapkan isi hatinya yang selama ini dia pendam. Namun semua itu masih tertahan karena dia takut merusak persahabatan diantara mereka bertiga.


“Kamu kenapa serius banget lihatin aku? Ada yang salah?”

__ADS_1


“Nggak ada, aku mau ngomong kalau aku__”


Tin_tin (Suara klakson mobil memasuki halaman rumah)


Pak Abas buru-buru turun dari mobil berlari mengejar pria yang berusaha masuk dari jendela belakang rumahnya.


“Berhenti jangan lari!” suara tembakan pak Abas di udara.


Duar__


“Dra, itu suara ayah. Siapa yang di tembaknya?” ucap Lemba.


“Ayo kita lihat.”


Pak Abas berlari mengejar pria yang memakai topeng itu di susul Dendra dari belakang. Tembakan kedua tepat mengenai kaki kanan pria asing itu. Wajah marah Abas menampar hingga menendang pria itu di hentikan oleh bu Sora.


“Sudah cukup pak, dia sudah terkena tembakan, kita serahkan dia ke polisi” ucap bu Sora.


“Dendra, cepat ikat pria ini. Dia pasti akan kabur kalau kita lengah sedikit saja” kata Abas sambil menodongkan pistol di kepalanya.


Pria itu tampak tidak berkutik. Dendra melihat amarah pak Abas begitu mengerikan. Berpikir di masa depan memiliki mertua yang mempunyai pistol yang siap sedia menembaknya jika melakukan kesalahan pada anak semata wayangnya Lembayung.


Mengikat pria itu lalu menutup mulutnya dengan lakban. Polisi pun datang membawa masuk ke mobil tahanan,


......................


“Geser!” bentak Rosa melengos melewati Lembayung dan Arla.


“Pake mata dong, jalan masih lebar!” ucap Arla.


“Udah jangan di ladeni orang kayak gitu” kata Lemba menariknya pergi menjauhi Rosa yang berdiri menatap mereka sambil bertolak pinggang.


“Dia itu ada masalah apa sih? Sensian banget sama kita”

__ADS_1


Arla masih kesal dengan Rosa yang tampak selalu mencari gara-gara.


__ADS_2