
Pakaian rapi lengkap dengan atribut sekolah, celana sedikit komprang, kaos kaki putih terlihat pangkas rambut pendek. Biasanya isi tas hanya ada satu buku dan pulpen saja. Sekarang isi tak penuh perlengkapan alat tulis, buku paket serta buku tulis. Zen menyapa si mbah dengan senyuman, si mbah berdiri merapikan dasi Zen yang tampak miring. Si mbah belum pikun cara memasang dasi yang benar. Dahulu dia rajin memakaikan dasi kepada almarhum suaminya sebelum pergi bekerja.
“Nah begini sudah benar” ucap si mbah.
“Terimakasih mbah.”
Anak laki-laki itu semakin hari membuat tenang dan bahagia neneknya. Tapi hanya satu kendala yang tidak bisa dia lepaskan. Kebiasaan buruknya masih berkecimbung di dalam dunia club sepeda motor. Setiap kali Zen pamit menaiki sepeda motor, jantungnya memompa kencang sepanjang hari memikirkan keselamatan cucunya.
“Di habisin sarapannya Zen.”
“Ya mbah.”
“Bontotnya di meja ruang tamu ya. Oh ya nanti sore antar si mbah mengambil jahitan baju kebaya di toko bu Amin ya.”
“Yah, besok aja bisa nggak mbah? Zen mau gabung bareng anak sepeda motor.”
“Kamu lebih mementingkan si mbah, nenek kamu sendiri atau balapan liar nggak jelas itu kenapa masih di jadikan hobi? Kalau terjadi sesuatu sama kamu, si mbah mati berdiri ya”
“Jangan ngomong gitu mbah, Zen nggak mau jadi cucu durhaka.”
Berpamitan pergi ke sekolah, si mbah memperhatikan garis wajah Zen yang semakin dewasa semakin mirip dengan ayahnya. Perseteruan ayah dan anak selalu berbeda pendapat, hingga saat ini anak laki-lakinya si mbah itu meminta agar membujuk Zen kembali bersekolah di sekolah pilihan dan setelah kelulusan melanjutkan study kuliahnya nanti di America.
Rencana berkelanjutan mencari celah kembali mengganggu Lembayung. Rosa memasang lem setan di bangku Lembayung, rencana jahatnya itu diketahui oleh Tomi. Melihat Rosa dan Fre sudah pergi sambil memasang pandangan berjaga dia menukar bangku Rosa ke bangku Lembayung.
“Anak ini masih aja kurang kerjaan. Dia dendam kesumat banget sama si Lembayung!” gumam Tomi.
Kring__
(Bunyi bel berbunyi)
Suara teriakan Zen memekik keras, semua murid melihatnya dengan tatapan tanda tanya berganti tawa melihat bokongnya menempel pada kursi.
“Tenang semuanya anak-anak!” ucap pak Limin.
__ADS_1
Dia memukul meja menggunakan penggaris panjang yang terbuat dari kayu yang biasa dia bawa saat mengajar. Proses belajar mengajar jadi terganggu akibat kekacauan yang selalu terjadi di kelas itu. Rosa menjerit semakin kencang, dia tidak bisa melepaskan roknya. Dia ingat bahwa lem itu seharusnya berada di kursi Lembayung.
“Ros, kamu tunggu kelas sepi baru lepasin rok kamu deh” ucap Fre memberikan saran.
“Bukan hanya rok ku saja yang menempel Fre, tapi bokong ku juga. Le mini rasanya panas sekali” kata Rosa meringis.
......................
Di atas gedung sekolah, Tomi menyampaikan keributan yang terjadi di kelas Lembayung berkaitan dengan Rosa dan Fre yang berusaha melakukan hal buruk padanya.
“Pada nenek sihir itu sepertinya masih mencari cara membuat Lemba celaka. Kalau begitu kita sebarkan saja video itu di internet” ucap Dendra.
“Okeh bro. Kita lihat aja setelah ini apa dia masih berani mengganggunya.”
Tomi menggunakan nama palsu menyebar video Rosa yang memperlihatkan tubuhnya yang seksi. Fre berlari menghampiri Rosa yang masih sibuk menarik paksa roknya. Notif pemberitahuan ramai membicarakan video dan gambar Rosa.
“Ros, lihat ini wajah kamu kan?” tanya Fre.
Rosa terkejut tidak percaya Tomi dan para lelaki yang di gudang itu benar-benar menjalankan ancamannya. Rosa merobek paksa rok, bokongya terasa perih berhasil terlepas dari kursi.
“Ini namanya senjata makan tuan. Aku jadi takut sebentar lagi giliran ku” kata Fre.
Rok robek tengah sangat lebar, dia menutupinya dengan tas miliknya. Kepala sekolah masih mengusut siapa pelaku yang selalu membuat keonaran di sekolah. Apalagi video di internet yang memampangkan wajahnya. Menyadari dia akan mena masalah, Rosa berbohong di depan orang tuanya ketika di tanya mengenai kasusnya itu.
“Jadi siapa pelaku yang kurang ajar itu?” tanya ayahnya.
“Jangan takut Rosa! Cepat beritahu kami!” tambah ayahnya sambil membentak.
“siapa orangnya nak?” tanya ibunya.
“Rosa, kamu jangan takut. Kami selaku pihak sekolah akan melindungi mu” ucap pak Kepala sekolah.
Dia berpura-pura menangis mengusap air matanya yang tidak keluar. Rosa menutup kedua wajahnya dengan tangannya.
__ADS_1
“Bu, ayah, pak kepala sekolah. Saya tidak tau jelas wajah mereka karena di tutupi dengan penutup wajah. Hiks “
Dia terpaksa berbohong karena jika berkata jujur akan membuat semua kejahatannya terbongkar di depan kedua orang tuanya. Wakesek memeriksa CCTV, pada saat kejadian berlangsung waktu itu rekaman kamera tiba-tiba mati.
“Pak kepala sekolah, para pelaku ini sepertinya sudah mempersiapkan agar membuang jejak” ucap pak Wakesek.
“Biar polisi yang menanganinya pak,semoga semua kejadian ini tidak terulang lagi. Tolong beri pemahaman ke para murid, guru dan para perangkat sekolah supaya menyimpan rapat semua kejadian buruk tentang sekolah.”
Takut nama sekolah menjadi cemar, pak kepala sekolah diam-diam menyuap BP3 dan para wartawan yang meliput berita di sekolah itu. Keringat dingin menggumpal di dahi kepsek, kini dia berbicara empat mata dengan ayahnya Rosa sementara ibu, rosa dan pak wakasek menunggu di luar.
......................
Di perjalanan pulang
“Apa yang kepsek itu katakan yah?”
“Dia meminta agar kita jangan memperlebar masalah bu, seolah dia hanya mementingkan nama baiknya dan sekolahnya saja. “
“Ya bapak benar, dia tidak perduli dengan masa depan anak kita pak.”
“Bu, yah. Masa depan Rosa belum terjamah oleh mereka.”
“Tapi kan kamu anak perempuan! Di dunia maya mereka memposting tubuhmu!”
“Sudah nanti ibu jadi sakit, hari ini ayah ada meeting jadi pulang agak telat. Ayah sudah menyewa dua pengacara ternama. Setelah mengetahui siapa tersangkanya nanti, akan langsung ayah jebloskan ke penjara!”
......................
Di sekolah, Rosa menutupi wajahnya saat berpapasan dengan siswa-siswi lain. Dia berjalan tergesa-gesa, di samping mejanya tidak terlihat tas Fre. Teman-teman sekelasnya menyorong pandangan melihatnya.
“Apa kalian lihat-lihat? Mau di hajar?” bentak Fre melotot dengan tingkahnya yang arogan.
Karena sangar risih, dia berlari keluar kelas. Semua ini salahnya, andai dia tidak mengikuti nafsu dendamnya pasti dia tidak dihadapkan masalah. Berdiri di depan pintu Toilet, ada Zen yang lewat masu ke toilet sambil meliriknya. Melihat Rosa masih mematung, dia menarik berjalan ke kantin sekolah.
__ADS_1
“Nih minum. Ingat ya aku berbuat baik seperti ini bukan karena ada perasaan lain aku Cuma mau mengintrogasi mu” kata Zen.