Cinta Benua Antartika

Cinta Benua Antartika
Bab 9


__ADS_3

Semalaman suntuk tidak bias tidur mencari buku diary yang hilang. Dia ingin bertanya pada Fiza akan tetapi niat di urung mengingat Fiza pasti akan merasa dirinya tertuduh. Tanpa terasa hingga pagi menjelang dia tertidur di samping meja belajarnya.


“Lembayung sayang, kamu nggak sekolah?” Tanya bu Sora.


“Sekolah bu.”


“Ya sudah cepat bersiap-siap. Nanti ibu siapin bekal, makannya di jalan saja ya.”


“Ya bu makasih.”


“Ibu buru-buru ada rapat, kamu hati-hati di jalan. Nanti pulang tunggu di jemput pak pak Totok.”


Ibunya berjalan menutup pintu. Lemba tidak pernah merasa sedikitpun kebahagiaan merasakan kehangatan sarapan bersama ayah dan ibunya dengan tenang. Pagi, siang, sore maupun malam adalah hari-hari yang sama dia lalui dengan kesendirian.


......................


Fiza berhasil membuka diary milik Lemba. Di dalam lembaran dia membaca segala keluh kesah dan hari-hari yang dia jalani. Sampai pada selipan lembaran pada gelang putih tertulis nama Dendra.


“Hah? Aku masih berpikir ini gelang pemberian Dendra atau dia menyukai Dendra dengan tulisan huruf yang begitu jelas pada gelangnya.


Gelang putih, di tengahnya ada mainan kecil berbentuk bunga keemasan. Fiza mengamati benda itu hingga tanpa sadar Kinan berjalan melewatinya. Kinan tidak berpikir gelang yang ada di tangan Fiza adalah milik Lembayung. Fiza cepat-cepat memasukkan gelang ke kantung rok nya lalu menyembunyikan buku diary di balik tubuhnya.


Melihat Kinan berjalan ke arah perpustakaan, dia membuang buku diary ke lubang sampah menyusul langkahnya. Dia mencari-cari pandangan letak posisi laki-laki itu, Fiza berdiri di lemari sisi di bagian depannya lalu berpura-pura menjatuhkan sebuah buku sambil kesakitan.


“Stthhh, duh!” rengeknya dengan mata melirik.


“Kamu kenapa Za?”


“Kaki aku sakit banget nih.”


“Makanya hati-hati dong.”


Kinan membantu Fiza duduk, di merapikan buku-buku yang berjatuhan. Setelah selesai dia meninggalkan Fiza tanpa menoleh, tapi lagi-lagi Fiza berusaha mendekatinya.

__ADS_1


“Nan bantu aku jalan ke kelas ya, kaki ku sakit banget”


“Mmhhh, kamu sama Farhan ya. Aku ada urusan.”


Farhan yang sedang sibuk memilih buku, di tarik paksa Kinan untuk membantu Fiza.


“Loh,, kok!” Farhan melongo membulat membentuk huruf O.


Berhasil menghindari Fiza, dia mencari dimana keberadaan Lemba. Sahabatnya itu tampak sibuk mengerjakan tugas bersama Arla. Dia menuju kantin membeli sebotol minuman dingin mempercepat langkah memberikan padanya.


“Di minum dulu, ntar pulang sekolah biar aku aja yang mengantar pulang” ucap Kinan.


“Terimakasih.”


“Eh buat aku nggak ada nih?” Tanya Arla memasang wajah sedikit cemberut.


“Kongsi berdua sama Lembayung aja ya” balas Kinan.


“Huhh dasar pelit” ucap Lemba tersenyum kecut.


Free les pada jam pelajaran terakhir. Para siswa-siswi berdesakan keluar kelas agar cepat pulang. Arla dan Lemba berdiri di depan gerbang sekolah. Tampak pak Totok, supir yang biasa menjemput menunggunya di bawah pohon.


"Bapak pulang duluan aja ya hari ini Lemba pulang bareng Kinan."


"Tapi non, bapak sudah janji sama nyonya hari ini menjemput non sampai pulang."


" Nanti biar Lemba yang bilang ke ibu."


......................


Di depan sana ada Dendra dan Kinan. Sekarang Lemba jadi bingung harus pulang dengan siapa. Hari ini Kinan terlebih dahulu yang berjanji akan mengantarkan pulang.


"Dendra, aku pulang bareng Kinan ya.. "

__ADS_1


"Kita tiga nongkrong bareng yuk. Aku ngikutin dari belakang deh."


Mereka menuju ke caffee biasa tempat favorit dekat pusat kota. Menu makanan dan minuman tersaji, ketiganya suka bertukar mencicipi menu sesekali menyelingi candaan gelak tawa.


Mengambil dokumentasi foto bertiga. Lalu kembali menuju rute lain untuk menyambung kebersamaan seharian. Kali ini mereka menuju ke taman bunga. Dendra masih mencari tempat parkir sedangkan Kinan dan Lemba sudah duduk di salah satu kursi dekat pohon bonsai.


"Hugh, seharusnya kalian berdua naik mobil ku aja. Kereta kamu kan bisa di titip ke pos Nan" ucap Dendra.


"Ya lain kali deh. Kita juga nongkrongnya dadakan sih" jawab Kinan tersenyum menunjukkan gigi putihnya yang tersusun rapi.


Suasana senja menerbangkan dedaunan. Udara dingin, cuaca lembab, mereka bertiga duduk bersama menatap langit. Kebersamaan mereka yang tidak tau kapan masa terpisah atau tetap bersama.


"Ini buku diary kamu kan?"


Kinan menyodorkan buku diary merah. Terlihat gembok kecil sudah terlepas paksa di bagian samping.


"Kamu dapat dari mana Nan? buku ini hilang semalam."


"Dari tong sampah. Fiza yang membuangnya. Aku pura-pura nggak lihat semua gerak gerik nya yang mencurigakan itu."


"Jangan-jangan gelang ku juga di buang" batin Lembayung.


"Kamu pasti cariin gelang dari Dendra. Aku lihat dia masih pegang gelang itu. Yauda ikhlasin aja deh ntar Dendra beliin lagi yang baru. Ya nggak bro?" tambah Kinan menjelaskan.


"Ya pasti Aku beliin. Tapi gimana cerita nya buku diary ini sama dia?" tanya Dendra menyelidik.


"Semalam Fiza dan Rara kerja kelompok di rumah ku. Terus__"


Lemba menceritakan semuanya. Mendengar penjelasan dari Lemba membuat Kinan dan Dendra ingin menghajar kedua wanita itu. Mereka sudah mengepal tangan bersiap untuk meninju terutama Fiza yang tidak berhenti mengganggunya.


"Cwe itu nggak bisa di biarkan Nan."


"Kau benar Dendra, dia udah kelewatan batas!"

__ADS_1


"Dendra, Kinan jangan gitu dong. Aku nggak suka kekerasan. Kalian jangan pernah pukul perempuan ya walau sekalipun mereka melakukan kesalahan besar" ucap Lembayung memelas.


__ADS_2