
Kedatangan Dendra di sambut sapaan dan jabatan tangan. Salah satu pria yang berpakaian maskulin melirik Lemba. Dia mendekatinya saat di tinggal Dendra yang tampak sibuk bercengkrama di barisan arena club.
“Hai kenalin, nama saya Tritan. Boleh saya tau nama kamu?” ucapnya sambil mengulurkan jabatan tangan.
“Nama saya Lembayung”
Dendra menaiki sepeda motornya. Dia bersiap ikut bertanding, Lemba menyadari penampakan sahabatnya yang akan balapan di lintas tersebut, dia meninggalkan Tritan segera menuju ke kerumunan. Melotot bahkan menunjukkan wajah ketidaksukaan terlihat sia-sia belaka. Dendra sudah memakai helm bersiap melajukan kendaraan.
Ingin rasanya Lemba memasuki lintasan kemudian merentangkan tangan menghalangi mereka agar mengehentikan pertandingan.
Brum_
Para anggota siap mendahului sepeda motor Dendra yang sedari tadi belum melaju.
“Pak Ketua ayo jalan!” teriak Tomi.
“Dra, kamu kok jadi patung gitu sih!” teriak anggota lain yang tidak ikut bertanding.
Dendra segera menacap gas kencang mendahului para anggota yang semula berada di barisan paling depan. Lemba was-was melihat laju sepeda motor Dendra sangat kencang. Dendra sediki menoleh mencari dimana keberadaan Lemba, dia tau pasti setelah ini akan mendapat serangan omelan dahsyat darinya. Dendra segera mencapai garis Finish. Setelah berhasil memenangkan pertandingan di posisi pertama, dia menemui Lemba yang sudah bermuka masam.
__ADS_1
“Maaf, tadi buru-buru ikut bertanding”
“Nggak ada alasan, aku mau kamu keluar dari tempat ini.”
“Lemba, jangan gitu dong. Aku janji bakal hati-hati kok.”
......................
Daun jatuh berguguran, pagi hari menatap kosong. Tidak lagi semangat yang muncul di hidupnya. Dia merasakan sakit yang semakin menjalar di seluruh anggota tubuh. Awas menggulung tidak pasti menggoreng gelap di dalam rintik di pelupuk mata. Apa jadinya jika hari indah pergi? Semua hal terasa hampa tidak berarti.
Menyadari waktu yang sudah semakin dekat, dia tangannya masih memegang buku gambar dan pensil. Pada lembar sketsa wajah lemba, Kinan menulis sebuah perasaan yang hanya bisa dia utarakan di dalam tulisannya.
...🍁...
Aku adalah hujan, memberi mu kesedihan
Tidak bisa membahagiakan mu, memberikan beban luka dan tidak pantas kau miliki
sepi, sendiri memikirkan sebuah hati yang tidak pernah bisa di tinggali
__ADS_1
Teruntuk Lembayung cinta pertama ku.
...🍁...
Di baliknya ada gambar sketsa wajah Lemba. Mata Kinan berkaca-kaca menatap langit. Bu Suratmi datang dari belakang memeluk tubuh anaknya. Dia memijit ringan pundaknya menahan tangis melihat rambut Kinan yang rontok memenuhi lingkar baju. Dia menepis sampai tidak terlihat lagi satu helaipun.
“Anak ku sayang, ayo kita masuk. Udara di luar sangat dingin.”
“Kinan masih mau merasakan udara bu, maafin Kinan menjadi anak yang selalu membebani ayah dan ibu.”
“Kamu ngomong apa? Kamu dan kak Husni adalah anak-anak ibu yang paling penurut dan tidak pernah membebani orang tua. Ibu yakin kamu pasti sembuh. Sekarang kita masuk ya.”
Bu Surat mendorong kursi roda KInana ke ruangannya. Bersama dua suster pendamping dia di aringkan ke kasurnya. Selang dan alat lainnya kembali di pasang, mata Kinan yang seolah tidak berkedip menatap langit semakin membuat bu Suratmi ketakutan.
“Anak ku! Kinan kamu jangan tinggalin ibu ya nak” gumamnya di dalam hati menahan air matanya.
Karena sudah tidak tahan menahan air matanya, dia keluar ruangan lalu menghubungi pak Des suaminya. Nomor ponsel yang tidak aktif, dia tetap mencoba menghubungi berkali-kali lalu menghubungi Husni menyampaikan kabar keadaan Kinan yang semakin parah.
Pesan Singkat Husni.
__ADS_1
Bu, Husni besok balik ke Indonesia. Ibu jangan khawatir ya dik Kinan baik-baik saja kok.