Cinta Benua Antartika

Cinta Benua Antartika
Bab 31


__ADS_3

Tanda bukti rekaman yang di perdengarkan dan beberapa saksi yang terkait di dalamnya. Sebelumnya Zen memberi kabar pada orang tua Dendra agar tidak timbul kesalahpahaman di kemudian hari. Pada hari itu juga operasi di lakukan berjalan lancar.


Semula rahasia pendonoran jantung masih di rahasiakan terkait ketidak ingin Dendra kalau Kinan akan menolaknya begitupun Lembayung yang merasa bersalah perlahan mulai terungkap. Tangisan bu Isyah dan pak Kana memeluk batu nisannya. Kabar kematian Dendra bersamaan dengan kabar Kinan yang selamat dari mau setelah mendapat pendonor jantung.


Air mata Lembayung tetap menetes membasahi pemakaman. Dia mengetahui kabar yang di rahasiakan itu dari Arla yang mengirimkan pesan whatsapp karena dia tau mereka adalah tiga serangkai yang tidak terpisahkan di sekolah.


Sebelum melihat Kinan, dia ke tempat peristirahatan Dendra untuk yang terakhir kalinya. Disana juga ada bu Sora dan Pak Abas, mereka mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Sora memeluk Isyah, dia mengusap punggungnya berkali-kali berharap wanita itu kuat melepaskan kepergian anaknya satu-satunya selamanya.


“Untuk apa aku hidup? Anak ku sudah tiada. Dia adalah harta ku satu-satunya di dunia ini. Hiks"


“Kamu jangan bicara seperti itu. Dendra pasti akan sedih mendengarnya. Ikhlas dia agar tenang di alam sana” Sora tidak henti menenangkannya.


Barisan para peziarah lain memadati pemakaman. Para anggota geng bermotor, para siswa-siswa, bapak dan ibu guru, kepala sekolah, perangkat sekolah, keluarga dan lainnya yang tidak terhingga. Yang paling ramai adalah para rekan kerja yang hadir, tempat itu ramai hingga memenuhi luar jalan.

__ADS_1


......................


“Mata kamu kok bengkak?” tanya Kinan bersuara lemas.


Dia menahan rasa sakit di sekujur badan. Lembayung tidak menjawab hanya menunduk duduk di sampingnya. Kinan tersenyum tipis dia meraih tangannya lalu kembali bertanya untuk yang kedua kalinya. Lembayung beranjak dari kursi memeluk Kinan, tangisannya pecah dia tersedu-sedu.


“Jantung ku ini baru saja di ganti dengan pemilik yang lain. Tapi, di peluk Lembayung rasanya hati ku sangat berbunga-bunga dan perasaan cinta lebih besar dari biasanya” gumam Kinan.


“Masih nggak mau cerita?”


“Nggak boleh gitu Lembayung, kamu harus mengikhlaskan Dendra”


“Maksud kamu apa Zen?”

__ADS_1


Mengetahui cangkok donor jantung itu milik Dendra, dia merasa bersalah hingga memanggil suster agar melepaskan jantung ini ke pemiliknya. Kinan sangat shock dia tidak mau memiliki milik orang lain demi menyambung kehidupannya.


“Sus! Dok! Tolong lepas jantung ini”


Kinan melepas semua selang-selang yang berada di tubuhnya. Dia juga mencabut paksa jarum infus, melihat kondisinya Kinan terpaksa di bius agar tidak menyakiti dirinya sendiri. Lembayung dan Zen menunggu di kursi dekat ruangannya.


“Aku cari minum dulu ya” ucap Zen pergi.


Dari ujung lorong, Tomi berlari menghampiri lembayung yang masih senggugukan menyenderkan kepala pada dinding. Dia adalah sahabat sekaligus intel yang selalu di tugaskan untuk menjaga dan mengawasi keselamatan Lembayung saat Dendra tidak bersamanya.


Pada hari ini, telah terungkap semua hal misteri mengenai hal-hal yang bersifat pribadi mengenai Dendra. Semua kiriman coklat dan surat rahasia, serta semua perjuangan yang di lakukannya.


“Lembayung, dia sangat mencintai mu” ucap Tomi menyodorkan sebuah kotak cincin merah terdapat pita putih di atasnya.

__ADS_1


Pemberian Dendra untuk yang terakhir kali, sebuah cincin emas yang pas di jari tangannya. Air mata Lembayung menetes. Dia tidak menyangka selama ini Dendra memiliki perasaan yang begitu dalam padanya.


__ADS_2