
Kinan memarkirkan sepeda motor bersiap menjemput Lembayung. Di depan pintu Sora tersenyum mengantar mereka. Lemba memegang satu keranjang buah dan sekotak kue. Kinan meraih keduanya, sebisa mungkin dia tidak mau Lemba kesulitan membawanya.
“Hati-hati di jalan ya jangan ngebut. Salam buat Dendra dan ibunya.”
“Ya bu.”
“Kami pamit ya bu.”
Sepanjang perjalanan seperti biasa di dalam boncengan Lemba tidak pernah menyentuh tubuh Kinan untuk berpegangan. Lema lebih memilih memegang bagian belakang boncengan. Perjalanan menuju rumah Dendra, Kinan memperhatikan mata bengkak Lemba dari kaca spion.
......................
“Bagaimana keadaan mu Dra?” tanya Kinan.
“Dra kamu pasti males makan kan, kamu tu jarang sakit. Sini aku jewer telinga kamu!” ucap Lembayung.
Kinan dan Dendra hanya tersenyum mendengar omelannya. Dendra pasrah menerima jeweran di sela omelannya. Karena sudah puas melihat telinganya merah padam. Lemba meminta maaf lalu mengusap bekas jeweran. Dia juga menyodorkan buah tangan yang mereka bawa ke sisi kanannya.
“Maaf, sakit ya”
“Aduh sakit banget! Nan coba lihat deh telinga ku mau lepas!”
“Ahahhh sini aku lepaskan keduanya. Aku ganti dengan kuping gajah!”
Drama berkepanjangan, tiga serangkai itu bergelak tawa sampai Kinan menyudahi candaan mereka. Dia melirik jam tangan, Kinan tidak mau membawa Lemba pulang hingga larut malam. Besok mereka harus sekolah dan juga menjaga pandangan para tetangga.
“Dra kami pulang ya, kasian Lemba kena angin malam ntar sakit. Ibunya juga pasti khawatir” ucap Kinan.
“Kami balik ya Dra. Semoga cepat sembuh.”
“Terimakasih banyak. ”
......................
Kelas kondusif di kejutkan dengan suara teriakan seorang siswi yang terkejut melihat katak melompat dari dalam lacinya. Di susul dengan teriakan siswa siswi lain, katak-katak melompat dari laci mereka. Hanya sebagian siswa saja yang tidak berteriak, mereka membantu mengusir sampai ada yang mematikannya. Suara keributan tidak terkendali, ramai suara katak bersahutan membuat para guru dan staf lainnya kebingungan.
“Arghhh! Wajah ku!”
__ADS_1
Seekor kata buang air kecil di wajahnya. Rasa jijik bercampur gatal. Dia menjerit minta tolong. Parhan meraih kemoceng memukul katak yang lengket di wajahnya.
Praghh__
“Maafkan aku Rosa, jika aku tidak memukul kuat maka katak ini tidak mau terlepas” ucap Parhan.
Sebenarnya semua katak itu di tujukan pada Lembayung. Katak terbanyak terdapat di dalam lacinya. Tomi melihat Rara dan Fiza membawa dua karung masuk ke dalam kelas. Karena gerak-geriknya yang mencurigakan, dia langsung melaporkan kepada Dendra.
Kelas ribut sampai ada siswa yang hampir melompat ke jendela. Setengah siswa lain keluar dari pintu sambil mengusap tubuh mereka. Dendra belari menghampiri Lembayung, dia menutup tubuhnya dengan jaket miliknya. Tomi membawa alat pemukul menghindari puluhan katak terbanyak hampir mengerubungi lemba.
“Cepat bawa Lemba keluar Dra!” ucap Tomi.
Rambut Lemba basah terkena cairan katak.
Kinan yang baru datang melihat keadaan Lemba tanpa sadar memeluknya di depan Dendra.
“Kau tidak apa-apa kan? Maaf aku datang terlambat__”
Pulang dengan keadaan seperti itu hanya akan membuat ibunya semakin khawatir. Lemba masih menangis di pelukan Kinan. Dia Nampak ketakutan hingga air matanya tumpah ruah.
“Hikks jahat!”
Mereka bertiga meminta ijin pada piket dengan alasan masing-masing. Hal yang paling tidak masuk akal adalahh alasan Kinan yang berpura-pura kecirit.
“Mana tapi nggak bau! Ganti aja di ruang UKS pakai celana olahraga.”
Mata tajam Frau Turnip yang mengerikan hampir membuatnya tidak berkutik. Kinan berusaha untuk tenang, dia mengusap perut mengatakan tidak tahan menahan sakit perutnya.
“Yasudah sana pulang. Awas kalau kamu bohongin Frau.”
“Danke. Terimakasih banyak Frau.”
......................
Lemba dan Dendra naik Taxi sedangkan Kinan mengikuti dari belakang. Mereka menuju ke Mall, Dendra memilih baju untuk Lemba sedangkan Kinan berjaga di depan pintu Toilet wanita. Gerakan cepat Dendra meminta si penjual memilihkan baju kasual untuk wanita yang ukuran badannya sama dengan si penjual. Dia menawarkan tiga stel baju. Dendra memilih ketiganya dan langsung membayar secara cash.
“Terimakasih.”
__ADS_1
Dia berlari menuju Toilet lalu mengetuk pintu memberikan pada Lemba.
“Kalian berdua tetap di ujung sana, jangan tepat di depan pintu dong” ucap Lemba sedikit merengek.
“Lembayung tunggu! Aku lupa beli shampoo. Rambut kamu kan kena lendir katak.”
“Udah biar aku aja.”
Kerjasama tim yang bagus, Kinan berlari di atas escalator secepat kilat membeli shampoo, sabun dan bedak tabur wanita. Nafasnya tersengal-sengal memberikan bungkusan itu pada Lemba. Senyuman mereka di samping ucapan terimakasih kedua kalinya.
Menunggu Lemba selama hampir dua jam, dia keluar Toilet sambil membawa ransel di tangannya.
“Sudah selesai?” tanya Dendra memperhatikan wajahnya yang masih cemberut.
“Senyum dikit dong” ucap Kinan seakan tau isi hati Dendra.
Lembanyung menggandeng dua sahabatnya itu sesekali menoleh melihat orang-orang yang memperhatikan mereka.
Apa yang salah?
“Kalian ganti baju deh, anak sekolah kan nggak boleh berkeliaran di waktu jam pelajaran sekolah. Baju sekolah lengkap dengan simbol jadi pusat perhatian orang-orang” ucap Lembayung.
Mendengar perkataannya, mereka berjalan menuju toko baju. Kinan memilih setelah celana dan baju jeans sedangkan Deandra memakai kaos putih, celana pendek dan topi. Setelah melakukan pembayaran, keduanya menggandeng tangan Lemba keluar menuju ke lantai paling atas tempat pusat permainan time zone.
Hari kemerdekaan bagi tiga serangkai. Hari katak sedunia yang membebaskan mereka dari tugas yang menumpuk. Sepanjang hari mereka bermain di arena permainan. Tumpukan voucher dan hadiah dari setiap permainan tersimpan di dalam kantung plastik berukuran besar. Boneka-boneka yang di menangkan Kinan di berikan semuanya untuk Lemba.
“Aku lapar nih, kita makan yuk.”
Di salah satu caffee di lantai paling atas, mereka memesan tiga mangkukk ayam bakar, dimsum, kentang goreng dan tiga gelas jus jeruk. Mereka menikmati pemandangan kota sambil menikmati makanan. Rambut Lemba sudah mengering, sapuan angin mengibarkan serpihannya menutupi wajah. Lemba mengeluarkan ikat rambut menguncir rambut lalu meneruskan makannya.
“Aku mendapat info dari Tomi, semua katak itu berasal dari karung yang di bawa Rara dan Fiza. Pagi-pagi sekali Tomi melihat mereka membawa masuk ke dalam kelas” ucap Dendra.
“Kita tidak bisa menuduh sebelum ada bukti. Fiza teman yang baik, dia sebangku dengan ku” kata Lemba tidak percaya bahwa dia pelakunya.
“Benar juga Dra. Kita jangan berprasangka kalau isi di dalam karung itu adalah puluhan katak yang mengganggu ketertiban dan keamanan kelas. Tapi sejujurnya aku kurang simpati dengan sikap Fiza. Dia sedikit mencurigakan” jawab Kinan menambahkan.
“Kita harus mencari tau siapa pelakunya. Sepertinya dia mengincar Lembayung, puluhan katak terbanyak di dalam lacinya” ucap Dendra.
__ADS_1