Cinta Benua Antartika

Cinta Benua Antartika
Bab 7


__ADS_3

Jadi Lembayung di antar pulang naik apa?


Dua kantung plastik besar di bawa masuk pak Totok ke dalam rumah. Bi Tama meneruskannya ke dalam kamar Lemba. Rumah itu terbiasa sepi, Lemba kembali sendiri mengunggu kepulangan kedua orang tuanya. Dia membuka kantung plastik, mengeluarkan satu persatu lalu menyusun di atas mejanya.


Dia ikut mempertanyakan siapa orang jahil yang meletakkan katak terbanyak di dalam laci meja sekolahnya. Pelaku yang di katakan Dendra adalah Fiza dan Rara, masih berpikir sangat mustahil baginya.


Kringg__


“Halo, ya Ra ada apa?”


“Halo Lembayung, aku di depan rumah mu nih.”


“Masuk aja Ra sebentar nanti aku turun dari kamar.”


Arla membawakan buku tugas Lemba dan membrikan catatan penting lembaran PR hari ini. Dia mengatakan besok sekolah di liburkan. Pembersihan seluruh ruangan kelas di lakukan secara merata. Kepala sekolah mengusut siapa dalang pembuat keributan. Arla menahan kalimat sebuah rahasia yang sebenarnya menjadi tujuan dia datang. Dia menyembunyikan, takut jika Lemba tidak percaya atau jadi sebuah pertengkaran hebat di sekolah.


“Lemba, aku saranin pindah kursi deh.”


“Memangnya ada apa di bangku ku?”


“MMm__ ya mana baiknya kamu aja. Aku Cuma saranin sih. Oh iya kamu udah bersih-bersih belum, aku saja mandi sampai tiga kali.”


“Sudah, Cuma aku heran kenapa banyak sekali katak di dalam laci ku.”


“Sebenarnya aku mendengar pembicaraan Rara dan Fiza. Ternyata mereka dalang dari semua ini. Mulai sekarang kamu harus hati-hati sama mereka Lembayung.”


“Apa? Fiza! Aku tidak mengira dia sejahat itu.”


“Jangan katakan kalau aku yang menyampaikan hal ini ya__”


Teman yang berpura-pura baik yang nyatanya ingin menjatuhkan, bertindak secara halus untuk mencurangi nya dan menjadi duri di dalam daging. Di setiap senyuman yang ternyata menyimpan dendam dan rasa iri melihat hal yang ingin dia raih seperti orang tersebut.


“Terimakasih banyak ya Arla. Hati-hati di jalan.”


“Dahh..”


......................


Keluaga pak Des tampak sibuk mempersiapkan keberangkatan mereka besok. Hal-hal keperluan yang harus di bawa selama pindah di letakkan di dalam koper besar. Bu Surat masih menyusun pakaian di dalam tas, dia di bantu para Jah. Setengah pikiran bercabang, berat meninggalkan Kinan.

__ADS_1


“Bagaimana cara membujuk anak itu agar tetap ikut?” gumam Surat.


“Mbok tolong panggilkan Kinan ya.”


Duduk berdua di balkon, Surat mengusap punggung Kinan lalu memeluk anaknya itu. Dia pasti sangat merindukan sifat manja Kinan, kehadirannya memanggilnya ibu atau panggilannya menanyakan dimana benda yang dia cari.


“Kamu jaga diri baik-baik selama ayah dan ibu pergi ya. Pokoknya kamu harus__ hiks”


Tangisnya karena sudah tidak tahan menahan air mata yang menetes. Kinan sudah bertekad tinggal terpisah untuk menyelesaikan sekolahnya tapi hati ibunya tetap tidak tenang meninggalkan anaknya sendiri. Kinan menunduk meminta maaf, dia meras menjadi anak durhaka.


“Maafin Kinan ya bu.”


“Nggak apa-apa. Kamu jangan lupa semua pesan ibu ya.”


Keberangkatan hari ini di isi dengan tangisan bu Surat yang tidak henti mengeluarkan air mata. Kinan melambaikan tangan kepada keluarganya.


......................


“Kenapa kamu kok murung gitu? Aku dengar dari mama kalau hari ini keluarga kamu berangkat ke luar negeri.”


“Ya, aku baru saja mengantar mereka.”


“Nggak apa-apa, lebih baik menyelesaikan sekolah disini. Oh ya aku mau tau mengenai si pembuat onar yang mengganggu Lembayung.”


“Maksud kamu si Fiza dan Rara? Aku berencana menemui mereka besok.”


“Kita tunggu saja dia di depan gerbang sekolah.”


Pembicaraan di lanjutkan sambil bermain play station. Malam ini Kinan menginap di rumah Dendra. Sambil menunggu kabar dari orang tuanya, dia duduk di teras mengotak-atik layar ponsel menahan memanggil Lembayung. Rindu suara sahabatnya itu. Satu hari tidak bertemu membuatnya bimbang dan penasaran bagaimana keadaanya.


Ting__


Pesan Whatsapp.


Anak ku sayang. Ibu, ayah dan kak Husni sudah sampai. Kamu jangan lupa makan ya disana.


...🍁🍁🍁...


“Bagaiman Za kalau kita ketahuan yang membawa semua katak itu?”

__ADS_1


“Nggak mungkin. Aku udah bayar dua kali lipat pak satpam, dia juga ikut memastikan sekolah sepi. Tapi kalau emang ada yang tau ya tinggal nggak aja. Mana buktinya!”


“Huffhtt, aku semalam mendengar suara langkah kaki sewaktu di dalam kelas. Pasti ada yang memata-matai kita sebelumnya Za!”


“Ah itu hanya perasaan mu Ra. Sudah jangan takut, biar aku sendiri yang menanganinya.”


Tepat di pagi hari, sekolah kembali aktif dari masa libur satu hari. Kelas-kelas tampak lebih bersih begitu pun pekarangannya. Aroma bakaran sampah bekas bangkai katak tercium anyir di udara. Langkah kaki Fiza dan Rara berhenti ketika tangan Kinan dan Dendra menghalangi mereka masuk.


“Tunggu, kami mau bicara sebentar.”


Mereka di tarik ke belakang gedung sekolah. Mata keduanya memasang ekspresi marah. Rara yang sudah panik melingak-linguk bersiap berteriak minta tolong kalau terjadi sesuatu pada mereka berdua. Meskipun sangat marah melihatnya, mereka tidak pernah sedikitpun ingin main tangan atau kasar dengan wanita. Keduanya hanya memperlihatkan raut wajah marah.


“Za, coba jelasin ke kami. Kenapa kau memasukkan puluhan katak di laci Lembayung?” tanya Dendra.


“Hah aku?” tanya Fiza pura-pura polos sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Ya! Kamu dan Rara!” bentak Kinan.


“Kalian kok tega banget sih nuduh aku!”


“Jadi kamu memang nggak mau ngaku Za?”


“Sekarang kita panggil polisi aja Ndra.”


“Eh tunggu!”


Fiza berlari mengikuti langkah Kinan dan Dendra, Rara berlari di belakang sambil menahan rasa takutnya. Mereka berhenti tepat di depan meja Lembayung. Seakan Kinan dan Dendra memberi kode agar dia mengakui kesalahannya di depan Lembayung.


“Aku nggak melakukan apa-apa. Kenapa kalian menuduh ku tanpa bukti? Mau melaporkan ku ke polisi tanpa bukti sama saja pencemaran nama baik!”


Dengan keras hati dan sikap sombong dia berbalik membelakangi mereka. Dia menarik tangan Rara pergi dari ruangan kelas. Setelah kedatangan Arla kemarin sore, Lembayung jadi tau bahwa teman sebangkunya sendiri si biang kerok. Akan tetapi dia tidak mau memperbesar masalah di depan kedua sahabatnya.


“Ih kesel banget sama Lembayung! Kamu lihat nggak Ra wajah sok polosnya yang sebenarnya menang di belain sama dua cowok! Aku pengen jambak rambutnya nih!”


“Aku tadi takut sekali, Za kita harus stop dulu deh ngerjain si Lembayung. Setelah kejadian ini pasti mereka lebih waspada.”


“Mmhh, biar aku sendiri yang menjalankan rencana selanjutnya. Aku akan buat Lembayung nggak betah sekolah disini. Dia harus terus di beli pelajaran biar nggak sok belagu!”


Fiza memikirkan rencana selanjutnya yang lebih halus. Dia juga harus tetap berpura-pura baik pada Lembayung agar Kinan dan Dendra tidak benci padanya.

__ADS_1


__ADS_2