
Mengheningkan cipta di pimpin oleh Pembina upacara. Kelangsungan upacara pada pagi itu berjalan aman dan tertib. Dari kejauhan Rosa memasang wajah penuh penuh dendam melihat Lembayung penuh dengan kebencian.
Beberapa hari yang lalu.
Bombom, Tomi bersama dua pria yang di utus Dendra bekerjasama menyeret Rosa ke gudang sekolah. Membalas perlakuannya dan Fiza, mereka menjalankan rencana begitu mulus sehingga tidak ada satupun pihak sekolah yang mengetahuinya.
“Ini adalah balasan mu telah berani mencari masalah dengan Lembayung!” bentak Tomi.
Rosa melotot, menggerakkan tubuh merontah. Dia terus mencoba berteriak di dalam mulut yang tertutup kuat. Pandangan mengenal dua dari empat pria yang berdiri di hadapannya. Bombom menyalakan kamera ponsel ke arah Rosa. Dua pria yang di utus Dendra itu tersenyum membuka seragam sekolahnya. Bombom mengambil beberapa gambar tubuh Rosa, wanita itu tampak menggeliat memutar tubuh berusaha bagian depan tidak terlihat.
“Hei peremuan licik, jika saja Dendra tidak segera datang menyelematkan Lembayung mungkin masa depannya di renggut paksa akibat kejahatan mu!” bentak Tomi di dekat telinganya.
“Kau masih bersyukur tidak kami perkosa sekarang, seperti niat mu dan Fiza di hari itu mengutus pria asing untuk memperkosa Lembayung. Beruntungnya dia bisa terlepas” ucap Bombom.
“Sesuai kejahatan mu, maka terimalah semua ini!”
Tanpa bertindak jauh, dua pria lainnya hanya menyentuh wajah, tangan dan tubuh Rosa. Wanita itu memasang wajah marah. Dia melakukan perlawanan, salah satu pria menindih tubuhnya dengan mata nakal.
“Ahahah! Kenapa kau takut? Pria itu akan merusak masa depan mu?” tanya Tomi.
“Habisi saja wanita licik ini. Kalau kita lepas pasti akan kembali melakukan hal buruk ke Lembayung” ucap Bombom.
“Kau benar juga Bom” jawab Tomi menakut-nakutinya.
Melihat Rosa tidak menangis, dia semakn yakin bahwa wanita itu benar-benar berhato iblis dan jahat. Dua pria yang berada di dekatnya masih sibuk menyentuh tubuh Rosa. Suara tepukan tangan Tomi mengakhiri keduanya. Mereka mengakhiri membuat efek jera padanya. Keduanya meninggalkan ruangan. Bombom selesai mengambil video dan beberapa foto fiza.
“Kalau kau berani melakukan hal buruk pada Lembayung lagi maka masa depan mu akan kami hancurkan. Foto dan semua video ini akan kami sebar jika kau tidak maaf pada Lembayung!” ancam Tomi.
“Dasar perempuan jahat!” bentar Bombom.
Bombom melepaskan tali yang mengikat tubuhnya lalu mereka meninggalkannya di gudang. Pintu itu di kunci dari luar, melingak-linguk melihat sekolah sudah sepi. Mereka secepatnya meninggalkan sekolah.
......................
“Kini aku semakin membenci Lembayung! Untung saja pada hari itu salah satu petugas mendengar teriakan ku. Jika tidak pasti aku sudah terkunci di dalam gudang hingga pagi” gumam Rosa.
__ADS_1
Selesai upacara para siswa dan siswi meninggalkan lapangan menuju kelas mereka masing-masing. Pelajaran pertama di kelas Lemba adalah olahraga, mereka berganti baju kemudian berbari di lapangan menunggu instruksi dari bapak guru. Matras dan garis pembatas lari jarak pendek sudah di persiapkan satu persatu siswa di panggil pak guru dengan peluitnya.
“Pak, boleh kah saya permisi ke UKS? Saya lagi kurang sehat” ucap Lemba.
“Kalau kamu sakit sebaiknya pulang saja.”
“Tidak usah pak, nanti setelah baikan saya akan meneruskan pelajaran” jawab Lembayung.
“Ya kamu saya ijinkan istirahat sekarang.”
“Terimakasih pak. Saya pamit.”
Arla melihat lembayung meninggalkan lapangan. Setelah dia mendapat giliran sesi praktek olahraga, dia menyusul Lemba. Melihat dia tidak ada di kelas, perpustakaan ataupun kantin, Arla meneruskan langkah ke ruang UKS. Dia melihat Lemba tertidur, Ada bu Berta yang sedang menyusun obat-obatan di dalam rak lemari.
“Permisi bu Berta, saya mau melihat Lemba” ucap Arla dengan sopan.
“Ya boleh, dia masih tidur tuh.”
“Terimakasih bu.”
Berta mengambil thermometer dari Lemba tampak suhu tubuhnya yang masih tinggi. Dia sudah memberikan paracetamol dan menyelimutinya. Berta menganjurkan dia untuk pulang tapi Lemba menolak dan mengatakan akan kembali ke kelas setelah bel istirahat kedua.
“Lemba, kamu istirahat saja disini di temani Arla ya ibu mau pergi ada urusan” ucap Berta meraih tasnya.
“Baik bu.”
Wajah pucat, keringat dingin dan tubuh menggigil. Lemba membungkus tubuhnya dengan selimut. Arla menggelengkan kepala lalu menyodorkan segelas air hangat untuknya.
“Bandel banget sih, kenapa nggak mau pulang aja?”
“Nggak mau, di rumah tetap sendiri. Ayah dan ibu belum pulang, hufhhh” keluh Lemba.
“Dimana pekerja rumah kamu? Si mbok yang suka bawain makanan kalau aku datang.”
“Udah nggak kerja lagi. Setelah kejadian___”
__ADS_1
Lemba menjelaskan panjang kali lebar. Ceritanya terputus melihat Dendra datang dengan nafas terengah-engah. Dia mengguncangkan tubuh Lemba seperti orang kesetanan. Lemba menatap matanya merah, wajah panik hingga dia mendorong tubuh sahabatnya itu dengan senyuman.
“Lucu banget sih, sebentar aku mau ketawa. Ahahah” Tawa lemas tidak bertenaga itu membuat Dendra kembali mengguncangkan tubuhnya.
“Kamu nggak apa-apa? Mana yang sakit? Aku panggil dokter ya sekarang.”
“Dra kamu tenangin diri deh, itu resleting celana kamu kebuka” ucap Arla sambil menutup wajahnya.
“Ahahah” tawa Lemba terdengar sedikit keras.
Karena menahan malu, Dendra membalikkan tubuh berlari mencari kamar mandi UKS. Dia kembali dengan lirikan tajam menarik hidung Lemba. Wajahnya menunjukkan ekspresi bahagia melihat kelakuan sahabatnya yang menggelikan.
“Udah puas belum ketawa nya?” tanya Dendra sedikit manyun.
“Belum.”
“Udah deh, sebentar lagi bel masuk. Kamu nggak ke kelas Dra?” tanya Arla.
“Nggak, aku mau temenin Lemba, kamu aja yang duluan masuk.”
Pengusiran secara halus itu seolah supaya dia bersama Lemba berduaan. Arla paham akan makdusnya segera melangkah keluar menutup pintu. Dendra memijat telapak kaki Lemba, dia mengusap minyak angin lalu menutup dengan selimut.
“Kamu jangan masuk kelas, nanti aku permisi kan sama guru yang masuk di kelas.”
“Tapi, tiga les terakhir adalah pelajaran Frau Turnip.”
“Bagus deh, guru yang satu itu selalu mengecek sendiri atau memerintahkan anak satu anak muridnya untuk melihat siswa yang keluar pada jam pelajarannya. Sekalipun anak murid itu di toilet. Ahahah.”
“Huss, nggak boleh gitu. Frau tipe guru disiplin dan perfectionist.”
“Yauda istirahat ya ntar pulang sekolah tunggu aku disini aja. Ok.”
“Siap bos” jawab Lemba tersenyum menunjukkan giginya yang rapi.
Setelah permisi dengan Frau, bel pelajaran berakhir dengan cepat Dendra mengambil tas di laci Lembayung. Dia melirik coklat dan suratnya sendiri yang diam-diam secara rahasia selalu dia letakkan di lacinya. Hari ini tampak Lemba tidak mengambil surat dan coklat itu.
__ADS_1