Cinta Benua Antartika

Cinta Benua Antartika
Bab 24


__ADS_3

“Hallo semuanya, kenalin nama saya Zen. Saya siswa pindahan dari luar kota. Salam kenal semuanya..”


Zen satu kelas dengan Lembayung, dia duduk tepat di belakangnya. Senyuman mereka menghinggapi wajahnya . Kehadirannya membuat mata para siswi yang berada di dalam ruangan terpesona dengan ketampanannya.


“Zen sini duduk di samping aku aja, ucap Farhan.”


Mendengar Zen pindah sekolah bahkan masuk di kelas Lembayung, Dendra sangat was-was akan kelakuan dari Zen yang akan mendekati perempuan yang dia cintai itu. Pada jam istirahat pertama, Denda membawa sebotol minuman ke meja Lemba. Dia melirik ke arah Zen, senyuman lambaian tangannya melanjutkan kembali mengobrol dengan para siswa dan siswi yang mengerumuninya.


Dendra mengajak Lemba keluar kelas, mereka duduk di bawa pohon rindang. Ada buku yang berada di tangan Lemba, keduanya memperhatikan para murid yang berlalu lalang sambil menikmati minuman dan snack yang di bawa Dendra.


“Zen hari ini masuk di kelas kamu, anak itu sudah mulai melakukan pendekatan. Kamu jangan sampai terpesona dengan ketampanannya ya” ucap Dendra.


“Jangan ngomong gitu deh, udah bahas yang lain aja.”


“Siapa yang nggak curiga tiba-tiba anak itu pindah sekolah sampai masuk di kelas kamu."


Rasa cemburu Dendra terlihat jelas sehingga Lemba menekan sedikit tanda tanya di hatinya akan perasaan lain yang timbul pada sahabatnya itu.


“Sejujurnya aku menyukai siapa? Diantara kedua sahabat ku ini, rasa yang paling mendebarkan adalah pada Kinan” gumamnya.


“Udahan ngomelnya ntar jadi darah tinggian” ucap Lemba tersenyum.


Pada pelajaran les ke lima, para murid di sibukkan dengan tumpukan tugas yang di berikan dari Frau Turnip. Di sudut kelas, Zen tampak santai duduk bersama teman sekelompoknya. Dia memperhatikan segala gerak-gerik bahkan hal terkecil yang di lakukan Lembayung. Sebelum pindah sekolah, Zen mencari informasi akurat mengenai lemba serta percobaan pelecehan yang hampir merenggut masa depannya.


Yang mana murid yang masih mengintai berselimut dendam di hatinya itu? Gumam Zen.


“Farhan, apakah kau mengenal Rosa?” tanya Zen.


“Dia ada di kelas sebelas, aku saran kan jangan dekati wanita licik itu deh.”


“Aku Cuma bertanya saja.”


Bel pulang, Zen meraih tumpukan buku yang ada di atas meja Lembayung. Dia membatu membawanya sambil berjalan berdua keluar kelas. Melihat Zen memegang buku Lemba, dia segera meraih dari tangannya.


“Sini biar aku aja yang bawakan Zen.”


“Kami pulang duluan ya Zen, terimakasih” ucap Lembayung.

__ADS_1


“Ok hati-hati” senyuman lebar terpajang untuknya.


Di dalam perjalanan pulang, Dendra ingin mengatakan pada Lemba bahwa dirinya sangat cemburu melihat Zen berdekatan padanya. Hari ini adalah jadwal menjenguk Kinan, sebelumnya seperti biasa Dendra menghentikan kendaraan di depan rumah makan. Duduk berdua menikmati hidangan sepiring ayam goreng dan segelas jus alpokat segar. Hari ini Dendra berniat ingin mengutarakan maksud hatinya.


“Lemba, apa pendapat mu jika ada seorang sahabat yang mencintai mu?”


Degh__


“Maksud Dendra apa? Apakah dia mau menembak ku?” gumam Lembayung.


“Tergantung Ndra”


“Tergantung apanya?”


“Tergantung dia akan marah, kecewa berpikir bahwa sahabatnya itu tulus di dalam pertemanan malah memiliki maksud perasaan lain. Atau malah bahagia membalas cintanya”


“Jawaban yang membuat si pria jadi takut mengutarakan cintanya yang terpendam!” ucapnya sambil menggelengkan kepala.


Dendra mengurungkan kembali niatnya. Mereka bergegas agar sampai ke Rumah Sakit. Kinan yang baru saja menjalani kemoterapi terlihat sangat lemas hingga dia seolah seperti melihat sosok lain yang ada di samping Dendra dan Lembayung.


Lemba memijit pelan pada bagian pundak. Dia tidak bisa menutupi kesedihannya lagi, air mata yang keluar itu tidak henti dia basuh. Dendra menyodorkan tisu lalu menggiringnya duduk di kursi tunggu.


“Kinan pasti kecapean habis di kemo. Kita tunggu sampai dia bangun ya__”


Dering panggilan telepon Dendra, dia menerimanya berdiri sedikit jauh dari Lemba.Percakapan serius di dalam obrolan panjang yang terdengar kata berbisik. Dendra sesekali menoleh memastikan Lemba tidak mendengarnya.


Siapa yang mengira setelah menelepon Farhan dan Bombom menyusul Dendra sampai ke rumah Sakit.


“Oi Ndra, anak-anak pada rusuh kamu nggak hadir beberapa hari ini. Ntar malam jangan lupa kamu ikut di acara tantangan balapan dari Zen!” ucap Farhan.


“Aku masuk ke dalam lihat Kinan ya” kata Bombom dengan gerakan kepayahan memegang dua keranjang tumpukan buah-buahan.


“Balapan apalagi Ndra? Kamu menyembunyikan sesuatu ya dari ku?” tanya Lemba curiga.


“Si Farhan bego banget sih! Ngapain coba dia menyusul kesini! Salah ku memberitahu waktu dia bertanya dimana posisi ku berada” gumam Dendra.


“Nggak! jadi gini Lembayung, aku terpaksa hadir di club ntar malam karena sebagai ketua yang bertanggung jawab harus menginstruksi anggotanya. Heheh!”

__ADS_1


“Nggak ada alasan, kamu kan udah janji nggak balapan lagi!”


“Oi, teman-teman! Kinan udah bangun!” teriak Bombom.


“Sstth! Jangan teriak Bom!” sanggah Lembayung sambil memperhatikan wajah kesakitan Kinan.


“Kondisi kamu semakin memprihatinkan banget Nan” ucap Farhan dengan polosnya.


“Eh Far, jangan ngomong gitu! Seharusnya kamu memberi penguatan biar si Kinan semangat lagi!” bisik Bombom.


“Kalian sudah lama datangnya?” tanya bu Suratmi.


“Nggak terlalu lama kok tante” jawab Dendra.


“Duh, banyak banget oleh-oleh buat Kinan, ini semua wajib Kinan makan ya” ucap bu Suratmi sedikit mengganggu Kinan agar mau tertawa.


“Ya benar sekali tan, semua harus di telan Kinan tanpa tersisa satupun” tambah Lembayung.


Tampak tawa Kinan yang tertahan, dia hanya membalas dengan senyuman. Parhan dan Bombom berpamitan pulang sementara Lembayung pergi menemani Suratmi berbelanja di swalayan dekat Rumah Sakit.


“Ndra kamu jangan lupa tetap jaga Lembayung. Aku sudah tidak kuat lagi” ucap Kinan.


“Kamu ngomongnya jangan ngelantur! Kita kan mau bersaing secara sehat untuk__”


“Ya aku tau, kau mencintai Lembayung kan? Aku titip dia buat kau jaga selamanya.”


Detak jantung Kinan tidak stabil, dia kejang-kejang terlihat sepsang bola mata melotot melihat ke atas. Dendra berlari memanggil dokter dan para suster. Tangannya bergetar menekan layar ponsel memanggil Lembayung. Karena panggilannya tidak di angkat, dia menjemput Lemba dan bu Suratmi.


Tiga kantung belanjaan jatuh, Suratmi berlari menuju ruangan Kinan. Kaca pembatas ruangan di tutup gorden. Pada hari itu Kinan menjalani operasi secara mendadak. Lemba menangis duduk di ruang tunggu begitu pula Suratmi yang sudah lemas menanti kabar keadaan anaknya.


“Tante yang kuat dan sabar ya. Lemba yakin kalau Kinan bisa melewati semuanya”


“Ya semoga saja. Tante akan menyusul Kinan kalau dia__hiks”


“Tante nggak boleh bicara seperti itu.”


Operasi Kinan berjalan selama dua jam. Dokter menyarankan agar segera mencari pendonor jantung agar Kinan segera menjalani transplantasi proses pengangkatan jantungnya yang sudah tidak bisa bekerja dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2