Cinta Benua Antartika

Cinta Benua Antartika
Bab 23


__ADS_3

Gedung yang baru saja di resmikan itu di bernama Lembayung Senja. Kini komunikan club sepeda motor elit telah resmi sehingga saat sedang mengadakan perlombaan balapan mereka tidak terkena kasus balapan liar. Komunitas itu terkesan unfaedah di benak Lembayung, meski hanya sebagai penyalur hobi yang menyita waktu dan membahayakan diri sendiri.


Lemba sore ini duduk di sepeda motor Dendra, dia melirik sahabatnya itu sedang sibuk bercengkrama dan mengatur letak posisi serta segala bentuk keperluan perlombaan. Sesekali dia menoleh melihat Lemba sambal melambaikan tangan.


“Ndra cewek kamu cantik juga ya” celetuk Zen.


“Aahah, jangan usik cewek itu deh kalau kamu nggak mau kena masalah” ucap Tomi lalu menepuk pundaknya.


“Udah resmi?”


“Jangan bahas Lembayung ntar dia bersin-bersin” kata Parhan tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih.


Di dalam Gedung yang baru saja di resmikan itu, telah berjejer meja-meja fresh dinner di depannya ada para koki yang khusus disediakan. Panggung acara di gelar para band memainkan musik dan bernyanyi menambah kesan meriah. Saat memasuki pintu arena, ada bentuk love besar di hiasi balon berwarna merah hati.


“Acara peresmian dan pertandingan nanti malam seperti suasa hati sang ketua”


“Udah deh Zen, kamu dari tadi ledekin si Dendra aja” ucap Tomi menggeleng kepalanya.


Makan bersama, Lemba yang duduk terakhir mendapat kursi di dekat Zen. Dengan senang hati pria itu menggeser kursi lebih dekat. Dendra melempar tatapan tajam, dia menyuguhkan segelas jus jeruk posisi kursinya di pindah di sampingnya.


“Uhuk, aku pamit pigi sebentar ya.” Tomi menarik Parhan di susul Tarik menarik lainnya.


Tinggal Zen, Lembayung dan Dendra, terlihat Lemba menikmati makanan mengabaikan Zen dan Dendra sibuk menyuguhkannya berbagai macam makanan dan minuman. Dihadapannya penuh tumpukan piring makanan.


Merasa kelakuan mereka berdua sudah kelewatan batas, dia berhenti makan lalu berdiri pandangan menatap keduanya.


“Kalian apa-apaan sih, aku kan nggak makan sebanyak ini”


“Maaf Lembayung, aku yang salah deh. Seharusnya Dendra yang wajib kasih kamu perhatian seperti ini. Aku ngikutin dia sih biar bisa kenal lebih dekat sama kamu. Uhuk” ucap Zen dengan menyatukan kedua tangannya di depan dada.


“Nggak harus di makan semua Lemba, makan sikit aja di pilih mana yang suka” kata Dendra.


“Maaf tapi aku udah kenyang banget__”


Mereka bertiga duduk di kursi bagian barisan depan. Melihat pertunjukan band sesekali Zen melirik senyum memperhatikan Lemba. Perempuan yang kini di kagumi nya itu terlihat sedang menerima video call dari seorang pria. Raut ekspresi Dendra yang berada di sebelah kiri tidak menunjukkan wajah marah atau cemburu.


“Siapa dia?” gumam Zen yang duduk di sisi kanan Lembayung.

__ADS_1


Mereka bertiga tampak sangat akrab, lelaki yang ada di dalam telepon tampak berada di rumah sakit. Lemba tidak henti tertawa begitu juga Dendra selalu mengganggunya. Meski suara musik band sangat keras, tidak menghalangi percakapan mereka.


“Bye Nan, besok kami kesana ya__” tutup Lembayung.


Zen adalah salah satu anggota komunitas yang tinggal di luar kota. Setelah terjun dan gabung di dalam club di sisi lain melihat kehadiran Lembayung, dia berniat tinggal bahkan pindah sekolah ke tempat sekolah Lembayung. Seorang gadis yang sangat dia kagumi.


Percakapan di dalam kamar mandi tidak terlepas membahas Lembayung. Farhan dan Zen berdiri di depan cermin besar.


“Aku Cuma mau mengingatkan kamu Zen, si Lembayung itu milik Dendra.”


“Selama janur kuning belum melengkung, Lembayung bebas milik siapapun.”


“Terserah kamu deh, oh ya aku dengar dari Heri kalau kamu mau pindah sekolah ya?”


“Ya, besok aku sudah mulai masuk ke sekolah itu.”


“Berani banget kamu Zen.”


“Sudah lah Far, aku nggak macem-macem kok. Aku akan bersaing secara sehat.”


Perdebatan panjang beberapa jam yang lalu.


“Pokoknya aku nggak mau kamu ikut bertanding balapan nggak jelas gitu. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa!”


“Lemba, ini Cuma pertandingan peresmian doang. Aku janji nggak akan terjadi apapun”


“Nggak boleh! Kamu susah banget sig di bilangin! Udah ya aku pulang nih!”


“Lembayung dengerin aku sekali ini aja. Besok janji nggak ikut balapan lagi”


Demi menenangkan hati Lembayung di dalam bujukannya agar tidak marah dengannya, Dendra terpaksa berbohong dengan mengatakan tidak akan ikut balapan lagi. Bagaimana bisa dia berhenti di samping posisi nya sebagai anggota? Kini komunitas yang baru saja di resmikan itu menjadi bumerang di pikirannya.


Suara ramai orang-orang yang meng-gas sepeda motor mereka menambah kesan rasa takut di hati Lembayung. Dia mengingat luka-luka yang pernah di derita Dendra saat mengalami kecelakaan. Melihatnya sudah melajukan kendaraan kencang membuat dia ingin berteriak atau berlari mengejar.


Putaran kedua kali di arena pertandingan itu di menangkannya selama dua kali berturut-turut. Para anggota bersorak riang gembira mengerumuninya. Para wanita seksi menepuk badannya hingga mengusap dan menggoda. Dendra melihatnya dari balik keramaian, melihat Zen menghampiri Lemba dia bergegas mendekati.


“Aku antar kamu pulang ya, besok kan kita sekolah” ucap Dendra.

__ADS_1


Lemba mengangguk, dia menerima helm darinya. Zen membuntuti mereka dari belakang hingga dia berbelok saat memasuki jalan pertigaan. Dendra melihat dari kaca spion, melihat Zen sudah tidak Nampak maka dia menepikan sepeda motor tukang sate yang berjualan di pinggir jalan. Mereka memesan dua porsi sate dan dua gelas teh manis panas. Tiba-tiba Dendra membuka pembicaraan yang membuat Lemba tercengang.


“Kamu nggak suka sama Zen kan?”


“Uhuk_uhuk” Lemba terbatuk hampir mengeluarkan satu tusuk sate penuh yang sedang dia kunyah.


Dia dengan cepat meneguk setengah botol air mineral, Dendra panik mengusap pelan pundaknya. Lemparan mata tajam Lembayung melihat Dendra lalu memasukkan dua tusuk sate ke mulutnya. Dendra menelan paksa daging sate itu sampai kedua matanya melotot sempurna.


Glekk__


“Tega banget sih”


“Kamu sih nyebelin banget Dra, pertanyaan yang nggak masuk di akal!” ucap Lembayung.


“Syukur deh! Jadi saingan ku Cuma Kinan doang” gumam Dendra tersenyum.


“kenapa senyum sendiri? Puas ledekin aku ya? Ntar aku adukan ke Kinan loh!”


“Ya___”


Selesai makan sate dan menghabiskan teh, mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Cuaca dingin menghembus ke kulit. Dendra menepikan kendaraan menyuruh Lemba memakai jaket miliknya.


“Kamu pasti kedinginan. Pakai jaket ku aja.”


“Terimakasih tuan bawel”


Aroma parfum khas pria macho itu hampir membuat Lemba kehilangan kesadaran bahwa Dendra adalah sahabatnya.


“Jangan aneh-aneh, kamu sebenarnya suka sama Kinan atau Dendra?” gumam Lembayung.


“Makasih buat hari ini Ndra, lain kali aku nggak mau ikut kesana lagi.”


“Mmm, kamu nggak mau lihat ketampanan sahabat mu ini ketika balapan di atas sepeda motor?”


“Hei, kamu sudah janji nggak akan balapan lagi.”


“Ehehh__ “

__ADS_1


__ADS_2