
Kelas ribut, guru yang berhalangan masuk tampak menggembirakan bagi para murid. Mereka berhamburan menunjukkan raut wajah bahagia. Hanya beberapa siswa yang serius membuka buku pelajaran mengulang materi. Di barisan meja paling belakang, ada Rosa yang memperhatikan Lembayung dengan pandangan penuh kebencian. Dia memperhatikan gerak-geriknya sampai Arla mengetahui dan membalas tatapan tajam.
Lemba menyodorkan beberapa batang coklat untuk Arla, dia mengumpulkan lagi surat-surat cinta rahasia tanpa nama. Tulisannya sengaja di print sehingga dia tidak bisa mencari tau dengan mencocokan tulisan pada murid lainnya.
“Makasih banget, kalau gini terus kamu bisa jadi pengusaha coklat” ucap Arla sambil melirik salah satu surat yang di baca Lemba.
“Iya terus kamu dan Dendra yang promosiin coklatnya” ucap Lemba menambahi.
“Oh iya Kinan masih sakit ya, aku turut prihatin”
Perkataan Arla yang mengingatkan Kinan membuat dia sangat sedih. Ada yang kurang setiap melangkah masuk ke gerbang sekolah. Biasanya tiga serangkai itu selalu bersama-sama meski kelas mereka berjauhan. Lemba menatap ke arah jendela, langit mendung seolah seperti suasana hatinya yang tidak bisa di tutupi mengingat Kinan sahabatnya.
......................
“Gimana ceritanya sepeda motor Dendra hancur berkeping-keping? Papi aja yang urus di kantor polisi, mami lagi banyak kerjaan” ucap bu Isyah menutup telepon.
Melihat Dendra pulang sekolah menghampiri tersenyum lalu mencium punggung tangannya, bu Isyah mengurungkan niat memarahi anaknya itu. Dia menghela nafas membatin menyadari bekas luka pada wajah dan tubuhnya tidak bisa menutupi masalah yang sedang dia hadapi.
“Kamu habis berantem atau kecelakaan?”
“Heheh, habis kecelakaan mi”
“Terus kamu diam aja nggak cerita ke mami dan papi. Mami akan panggil dokter buat periksa luka kamu, mai khawatir takutnya ada luka dalam. Oh iya, polisi menemukan serpihan sepeda motor kamu di tengah jalan”
“Maaf Mi, Duh__” ringis Dendra menahan tarikan telinga dan cubitan kecil dari ibunya.
Di dalam kamar, Dendra mengirim sebuah pesan pada para anggotanya. Menyandang status sebagai ketua geng di manfaatkan dengan mengirim tugas ke mereka agar secara bergantian mengawasi Lembayung baik di rumah maupun di sekolahnya. Dia membuka layar komputer, mengetik surat yang biasa dia buat untuk Lembayung.
🍁Teruntuk bintang hati Lembayung
Dunia yang kita singgahi tidak akan meninggalkan cerita indah bila sepasang hati belum menyatu. Angan-angan ku masih sama, menyemai hari bersama mu. Aku masih berada di sudut relung hati yang tidak pernah kau cintai.
__ADS_1
Kepada Lembayung, aku menunggu mu hari ku yang selalu memikirkan mu. Patahan sayap bila menatap mu bersama yang lain. Segala do’a dan harapan ku di dalam penjagaan panjang.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
Tiba-tiba bu Isyah masuk ke dalam kamarnya membawa dokter pribadi yang khusus menangani keluarga mereka. Dendra langsung menekan tombol off lalu beranjak dari kursi, dia mengikuti perkataan dokter yang menyuruhnya berbaring. Sesuai permintaan dari bu Isyah agar memeriksa secara keseluruhan pada tubuh Dendra, pak dokter melakukan pemeriksaan selama berjam-jam.
“Bagaimana hasilnya dok?”
“Untuk mengetahui hasil keseluruhan, ibu harus menunggu besok. Karena saya harus melakukan tes dan baru saja mengambil sample darah pada pasien.”
“Baik dok saya akan menunggunya hasilnya besok.”
“Saya permisi.”
“Terimakasih banyak dok.”
......................
Menjalani kemoterapi, Kinan seolah pasrah akan jalan hidup yang dia terima. Dia berdiri di depan cermin memandang wajahnya yang tirus dan cekung. Dia sudah tampak pasrah dengan penyakit yang di derita, tapi mengingat wajah Lembayung seolah Kinan ingin hidup lebih lama lagi.
Duduk di atas kursi roda, memangku sebuah buku gambar berisi berbagai fose wajah Lembayung. Biasanya tangan lihai memegang pensil. Tapi semakin lama dia merasa tangannya sangat kaku bahkan seolah tangannya sangat sulit di gerakkan.
“Tangan ku ini apa sudah tidak bisa berfungsi lagi?” gumam Kinan.
Jika ingin menangis, dia ingin meluapkan semuanya. Tapi seorang pria tidak boleh menitihkan air mata bukan? Dia melihat layar ponsel, foto di deretan album memori penuh gambar Lembayung.
“Aku pasti akan merindukan mu.”
Tepukan dari belakang mengagetkannya. Melihat kehadiran Dendra, dia buru-buru menutup buku gambarnya. Dendra sudah melihat gambar sketsa milik Kinan, dia berpura-pura tidak mengetahui lalu mengalihkan pandangan ke salah satu pohon di ujung halaman rumah sakit.
“Nan, itu ada buah mangga yang matang. Kita lomba lari memetiknya untuk Lembayung yuk” ajak Dendra.
__ADS_1
Ajakan Dendra bermaksud agar dia kembali semangat menggerakkan tubuhnya. Kinan berdiri dari kursi rodanya. Dia bersiap berlari mendahului Dendra. Terlihat kakinya sulit di gerakkan, dia memaksa berlari memetik mangga yang berwarna kekuningan. Dendra sengaja berlari lambat hingga dia kehilangan keseimbangan terjatuh merasakan kakinya sangat sakit.
Lembayung yang baru saja tiba berlari membantu Kinan berdiri. Dia terlihat kesulitan berdiri, kaki sangat kaku sulit di gerakkan. Dendra mengangkatnya duduk di kursi roda.
“Ini buah mangga untuk mu” ucap Kinan tersenyum dengan tatapan sayu.
“Terimakasih banyak.”
Lemba menahan tangisan melihat Kinan sudah tidak bisa berlari bahkan kesulitan menggerakkan kaki. Dendra dan Lemba menuntunnya masuk ke dalam ruangan. Lemba memberikan segelas air untuknya, dia mengusap pelan punggung Kinan sambil menghela nafas.
“Terimakasih banyak ya, maaf aku ngerepotin kalian” ucap Kinan.
“Kamu sih terlalu maksain diri, pokoknya aku nggak mau kamu lari lagi. Titik” omelan Lemba menatap serius.
“Semua ini salahku, aku yang mengajaknya memetik buah mangga” kata Dendra.
“Nggak salah kamu kok Ndra. Emang aku aja yang lemah__ oh ya Ndra kenapa kok kamu babak belur penuh luka gitu? Habis cium aspal dimana?” celetuk Kinan.
“Tuh kan, katanya lagi sakit kok bisa meledek aku sih?” ucap Dendra menyipitkan matanya.
“Ahahah…” tawa mereka bertiga memenuhi ruangan.
Insiden mangga kuning masih bersambung, Lemba mengupas mangga menyuapi Kinan dengan potongan irisan tipis berharap di dalam hati tidak terjadi apapun atau menimbulkan reaksi lainnya.
“Kok Kinan aja sih yang di suapin, aku kan mau juga” ucap Dendra.
“Nih__ A, buka mulutnya yang lebar.”
Lemba memperagakan membuka mulut huruf A lebar.
Kinan terbatuk mengusap dadanya sendiri, dia menekan kuat dadanya. Lemba dan Dendra sangat khawatir sampai Dendra berlari menekan tombol sinyal para suster dan dokter yang khusus dia sewa untuk merawatnya.
__ADS_1
Mereka menunggu hasil pemeriksaan kinan. Berpikir Kinan kambuh karena buah mangga yang dia petik, Dendra memukul kepala bahkan hampir membenturkan ke dinding. Lemba menghalangi dengan tangannya lalu menariknya.
“Sudah cukup Ndra, aku nggak mau kamu seperti ini!”