Cinta Benua Antartika

Cinta Benua Antartika
Bab 25


__ADS_3

Hari gelap penuh penderitaan.


Mata bengkak, di sepanjang perjalanan Lemba hanya terdiam tanpa berbicara sepatah kata pun. Mengantar hingga sampai di depan pintu, Dendra meletakkan tisu kotak di tangannya. Dia mengusap rambut hingga poni.


“Udah puas acak-acakin rambut aku?”


“Loh kamu mau bersuara juga? Nih aku kasih coklat buat kamu”


“Terimakasih Ndra__”


Setelah Dendra pergi, dia mengamati coklat yang sama yang selalu mejeng di dalam laci meja sekolahnya. Lemba membuang pikiran bahwa coklat itu apakah coklat yang sama. Semua puisi puitis, Lemba tidak percaya bahwa Dendra bisa seromantis itu merangkai kata-kata.


Tugas Dendra selesai hari ini, memastikan wanitanya pulang dengan selamat. Dia menuju ke arena balapan, sepeda motornya yang sengaja sudah dia parkirkan karena tidak mau Lemba curiga karena biasanya dia ke sekolah membawa mobilnya. Mengganti pakaian, memakai jaket dan helm, dia sudah siap bertanding.


Melewati tiga kali putaran, Dendra unggul memenangkan posisi juara satu hingga sorakan dan tepukan tangan meriah padanya. Panggilan telepon Lembayung berbunyi, dia berlari menjauh dari arena.


“Ya lembayung ada apa? Kamu kok belum tidur?”


“Ndra cepat anggota nungguin tuh!” teriak Farhan.


“Stthh! Jangan panggil aku! Si Lembayung lagi nelpon! Ntar aku kena omelan dia lagi!” ucap Dendra sambil menutupi telepon genggamnya dengan tangannya.


“Ndra kamu dimana? Nggak lagi balapan kan?”


“Nggak, si Farhan lagi nginap di rumah aku. Kenapa Lemba? Mau minta apa biar aku antar sekarang.”


“Ayah, ibu aku belum pulang. Aku takut sendirian di rumah”


“Oi Ndra cepat!”


Brumm__


“Tuh kan kamu pasti lagi di club!” tutup Lembayung.

__ADS_1


Nomornya tidak bisa di hubungi. Dendra merasa was-was, dia meninggalkan arena club melajukan sepeda motornya ke rumah Lembayung.


“Ndra, gimana nasib mobil kamu yang parkir di tengah jalan?” teriak Farhan.


Di depan pintu rumah, Dendra berkali-kali menekan bel berharap Lemba membukakan pintu untuknya. Lembayung hanya mengintip dari sela jendela. Waktu sudah menunjukkan angka jam dua belas malam tepat, dia seperti hantu bergentayangan mengetuk hingga menekan bel rumah orang.


Merasa aman ada Dendra di luar rumah, dia mengambil selimut dan bantal guling lalu merebahkan tubuh di atas sofa. Tidur nyenyak di samping panggilan alarm Dendra tanpa henti memanggil namanya.


Hingga menjelang pagi, Dendra tertidur tepat di depan pintu rumah Lembayung. Pak Des dan bu Suratmi menggelengkan kepala melihatnya.


“Nak Dendra bangun” ucap pak Des.


“Eh ada om Des__”


“kamu ngapain tidur disitu?” tanya bu Surat.


“Anu tan, disini nyenyak banget tidurnya.”


Lembayung membuka pintu, dia bersiap memakai tas ransel untuk berangkat ke sekolah. Melihat Dendra semalaman berjaga di luar, dia hanya acuh meminta ibunya mengantar. Berpamitan ke ayahnya lalu masuk ke dalam mobil. Insiden di pagi hari ini seperti tangisan anak tiri, Denra masih duduk terpaku dengan mata berbinar menunggu uluran tangan siapapun untuk menyuruhnya berdiri. Terutama dari Lembayung yang seolah menganggapnya tidak ada.


“Ya hati-hati nak Dendra.”


......................


Di sekolah Lembayung seolah menghindarinya, dia tetap memasang pandangan membuang wajah mengabaikan kehadirannya. Pada jam istirahat pertama, Dendra tidak melihat Lemba. Dia bertanya pada Arla, mendengar jawaban bahwa melihat Lemba terakhir kali bersam Zen membuat Dendra mengepal tangan bersiap meninju laki-laki yang mendekatinya.


Berdua di bawah pohon sambil menikmati es krim. Keduanya bercengkrama, tanpa sadar Dendra sudah berdiri di belakang Lembayung. Sen menyodorkan tisu, bergelak tawa merayu Lemba. Dia sengaja melakukan hal itu tepat di depan Dendra melihat tangannya sudah di kepal menuju ke arahnya.


Brugh_


Pukulan mendarat di pipi Zen. Sontak saja lemba berdiri melihat Dendra dengan tatapan sinis. Dia tidak mengira Dendra akan kasar memukul orang yang tidak bersalah.


“Apa-apaan kamu Ndra? Kenapa kamu tiba-tiba pukul Zen?”

__ADS_1


“Lembayung, dia itu udah kurang aja dan berani dekatin kamu!”


“Kamu kenapa sih Ndra? Cepat minta maaf!” bentak Lembayung.


“Udah aku nggak apa-apa kok” ucap Zen sambil tersenyum mengangkat bibirnya.


Karena Dendra tidak mau minta maaf, Lemba menarik tangan Zen pergi bersamanya. Hal itu membuat dia semakin marah. Ketika dia akan mengejar keduanya, Tomi menahan membawanya kembali ke kelas.


“Kalau kamu lanjutin hajar si Zen, ntar si Lemba semakin marah dan semakin jauh dari kamu.”


Rosa melihat pertengkaran kecil itu, dia jadi berpikir ingin menawarkan kerjasama pada Zen. Mencari peluang yang tepat di bantu oleh Fre, mereka bertiga berada di belakang sekolah.


“Ada perlu apa kalian mengajak ku kesini?” tanya Zen.


“Aku tau kau menyukai Lembayung. Aku akan membantu mu mendapatkan perempuan itu asalkan kau mau mendekatkan ku dengan Dendra. Bagaimana menurut mu?”


“Aku tidak mau berurusan dengan wanita licik seperti mu!” bentak Zen.


Zen menuju ke parkiran, terdengar suara tepukan tangan dari Tomi. Tepukan yang tertuju untuknya. Tomi mengetahui rencana Rosa yang di tolak Zen.


“Semula aku berpikir kau akan menjadi salah satu musuh Dendra, ternyata kau bersaing secara jantan dengannya” ucap Topi mengacungkan jempol.


“Aku bukan tipe pria yang tidak punya harga diri” jawab Zen.


Amarah Lembayung masih berlanjut sampai dia benar-benar yakin Dendra berhenti dari club sepeda motor elit. Puluhan pesan whatsapp yang tidak di balas. Panggilan yang di abaikan dan kehadiran yang tidak di anggap. Pertemuan mereka di hadapkan ketika menjenguk Kinan di rumah sakit.


“Kenapa? Kalian lagi marahan ya?” tanya Kinan dengan suaranya yang parau.


“Mmmm__”


Lembayung mengupas apel hijau. Dia menyuapi Kinan berharap berhenti bertanya tentang masalah mereka. Kinan yang duduk di atas kursi roda melihat wajah Dendra masam. Lemba mendorong kursi roda, membawanya keluar ruangan. Dendra tidak menyusul, dia tau bahwa Lemba pasti ingin menghindarinya. Duduk menghadap tempat tidur yang kosong seolah dia ingin menggantikan posisi Kinan agar mendapat perhatian lebih dari Lembayung.


Dia melihat di salah satu laci ada selipan kertas yang tidak masuk ke dalamnya. Dendra membuka laci mengambil buku gambar yang ada di dalamnya. Lembar pertama memperlihatkan sebuah sketsa wajah Lembayung. Lembar kedua terlihat Lemba yang sedang duduk di dalam kelas sambil membaca buku. Dia membuka lembaran lain, di penuhi semua sketsa Lembayung. Sampai pada lembaran terakhir, gambar yang tidak terlalu jelas dengan coretan yang membuat gambar tidak rapi.

__ADS_1


Pada sampul terakhir tertulis sebuah tulisan nama Lembayung. Ada huruf samar tidak bisa dia baca, mendengar langkah kaki akan memasuki ruangan, dia buru-buru menyimpan buku gambar itu kembali ke dalam laci.


Krekk__


__ADS_2