Cinta Benua Antartika

Cinta Benua Antartika
Bab 22


__ADS_3

Kamu tau nggak kalau aku lagi bernafas di dalam duka? Surat ini mungkin yang terakhir bersama coklat-coklat yang biasanya aku berikan untuk mu. Aku akan berhenti sejenak, bukan berarti aku kalah di dalam memperebutkan hati mu.


#Unknown


...🍁🍁🍁...


Satu lusin coklat di dalam laci meja sekolah lembayung. Beberapa hari ini dia membuka lembar demi lembar surat tanpa tulisan tangan. Ketikan itu tidak bisa menjamin siapa pemiliknya. Tidak ada tanda tangan atau jejak lain untuk mencari tau siapa yang memberikan.


Beberapa hari yang lalu Pemil tanpa sengaja mempergoki pria yang memakai jaket, topi hitam di depan angka berinisial huruf X dan masker yang menutupi wajahnya. Aduan dari Pemil yang mengatakan bahwa pria itu meletakkan sesuatu di lacinya. Jam istirahat pertama setelah setelah membaca buku di perpustakaan, Lembayung tidak melihat dimana kehadiran Dendra.


Dia berkeliling Gedung, tapi tidak menemukan tanda-tanda kehadirannya. “Dimana dia?” Lembayung membatin.


Gedung karate berdesakan para siswa yang sedang Latihan mempersiapkan perlombaan antar sekolah yang akan di selenggarakan beberapa hari lagi. Tapi di dalam kerumunan para kandidat. Dia tidak melihatnya.


“Tom, kamu lihat Dendra nggak?”


“Dendra hari ini nggak masuk sekolah, emangnya dia nggak memberitahu kamu?”


“Oh, nggak. Mungkin dia lupa atau lagi sibuk.”


Meskipun Dendra tidak hadir hari ini, dia sudah memberikan tugas pada para anggota untuk siap siaga menjaga Lembayung dari dia datang hingga pulang. Mengawasi Lembayung dari sudut tertentu, Rosa yang ingin mendekat kini mundur Ketika melihat Tomi dan perkumpulan gerombolan anak laki-laki berada beberapa jarak darinya.


“Sial, kenapa jam, segini masih ramai?” gumam Rosa.


Lembayung di jemput oleh ibunya. Mereka menjenguk Kinan di Rumah Sakit membawa buah tangan yang sudah di sediakan bu Sora sebelum menjemput anaknya. Melihat Arla tampak sedang menunggu bus, Sora mengajaknya ikut masuk ke dalam mobil. Semula para musuh Lembayung, akan memberikan pelajaran dengan menyandera Arla tapi melihat dia ikut masuk membuat Rosa dan para pengikutnya mengurungkan niat jahat mereka.


Sesampainya di Rumah Sakit, Kinan terlihat tertidur pulas. Ada beberapa lapis selimut yang menutupi tubuhnya. Arla yang Nampak prihatin dengan keadaan Kinan hanya bisa terdiam di dalam doanya berharap temannya itu segera sembuh.


“Kita nunggu di luar saja ya, nanti kalau Kinan Sudah bangun baru kita ke ruangannya lagi. Oh ya ibu mau menelepon tante Suratmi, ada hal penting yang mau ibu tanyakan” ucap bu Sora.


“Ya bu, Lembayung dan Arla menunggu disini saja” jawab Lemba.


Duduk berdua, di luar ruangan sambil melihat Kinan dari balik kaca pembatas ruangan. Dia terlihat kesakitan di dalam lelapnya, lembayung berdiri dari kursi membuka pintu masuk berdiri di sampingnya.


“Lembayung, sejak kapan kamu sudah disini?” tanyanya lirih dengan tatapan sayu.


“Barusan aja kok, kamu udah makan belum?”

__ADS_1


“Udah, udah dua piring.”


Salah satu suster membawakan semangkuk bubur, segelas air minum dan obat di atas sebuah wadah. Dia meletakkan di atas meja, Kinan di bantu bergerak duduk. Menyadari sahabatnya itu berbohong hampir saja cubitan kecil mendarat di pipinya.


“Biar saya saja yang menyuapinya sus” ucap Lemba.


“Baik silahkan.”


Arla ikut masuk ke dalam, dia menyapa lalu memperhatikan keadaan tubuh Kinan yang semakin memburuk.


“Ayo makan, kamu mau mencoba menipu aku ya katanya udah dua piring! Untung aja lagi sakit. Kalau sehat, pipi dan lengan kamu merah biru cap tanda tangan aku” omelan Lemba hanya di balas senyuman tipis di sela ringisan menahan rasa sakit.


Menyuapi sampai bubur habis tidak tersisa. Kinan menahan gejolak di dalam perut. Dia menarik nafas berkali-kali sedikit mengusap perutnya.


“Kenapa? Mau tambah lagi?” tanya Lembayung.


“Nggak, udah lebih dari cukup.”


Suster yang datang mengambil bekas nampan wadah makanan. Dia tersenyum lalu memeriksa suhu tubuh dan peralatan alat yang menempel di tubuhnya.


“Sudah sus. Terimakasih.”


Bu Sora hadir langsung mengusap Pundak dan kepala Kinan. Dia menggenggam erat tangannya.


“Tante percaya kamu akan sembuh, jangan patah semangat."


“Terimakasih tante.”


......................


Berpamitan pulang lanjut mengantar Arla ke rumahnya, sepanjang perjalanan Lemba melamun memikirkan keadaan Kinan yang semakin memburuk.


“Makasih ya Tante, dah Lembayung”ucap Arla.


“Dah Arla..”


“Sayang, ada yang mau ibu bicarakan sama kamu. Bos di perusahaan ibu merekomendasikan ibu naik jabatan sebagai manager. Semula ibu menolak tapi mengingat kebutuhan rumah, biaya sekolah dan ayah juga memberikan ijin ibu Kembali bekerja. Sekarang tinggal kamu saja, apakah kamu tidak keberatan?”

__ADS_1


“Lemba tidak pernah keberatan sedikit pun kalau ibu bekerja. Ibu boleh Kembali bekerja bu__”


Dia tersenyum di dalam rasa pahit yang harus harus Kembali dia terima. Sendiri sepanjang hari duduk di balkon menunggu kepulangan kedua orang tuanya. Sebetulnya jika di kaji ulang, kebutuhan biaya hidup mereka sudah lebih dari cukup. Tapi Sora yang sudah terbiasa sebagai Wanita karir membuat dia masih ingin melanjutkan pekerjaan atas dukungan suami dan bos tempat dia bekerja.


“Lembayung, ibu sudah memasang CCTV di setiap sudut rumah. Pada jam pergi dan pulang sekolah ibu akan tetap mengantar jemput mu.”


“Ya bu..hufft”


Bunyi pesan whatsapp berbunyi. Pesan dari Dendra yang membuat Lembayung malas membalasnya.


Maaf hari ini aku tidak memberi kabar pada mu. Aku sedang sibuk mengurus pertandingan club sepeda motor elit yang akan di selenggarakan besok malam. Kamu udah pulang sekolah kan?


Lembayung menekan tombol off merah. Hpnya dia matikan selama seharian. Karena pesan yang tidak kunjung di balas, Dendra memutuskan mendatanginya. Kehadirannya di sambut Sora, di ruang tamu dia menunggu Lembayung turun dari kamarnya.


“Lembayung, Kinan cariin kamu tuh” panggil Sora.


“Ya bu, sebentar lagi Lemba keluat.”


Sudah satu jam dia menunggu hingga Lemba turun memasang wajah manyun. Dendra tau jika Lemba pasti merajuk. Dia mengeluarkan setangkai bunga dari balik jaketnya. Bunga mawar putih di sodorkan, tubuh Dendra membungkuk. Tatapannya yang sangat serius membuat Lemba terkejut.


“Udah ah bercandanya. Aku udah nggak ngambek lagi kok” ucap Lemba.


“Yauda terima bunganya kalau emang udah nggak marah.”


Bu Sora menawarkan makan siang bersama. Piring Dendra penuh berbagai macam lauk pauk.


“Sudah cukup tante” ucapnya.


“Di habisin ya badan kamu kurus kering begitu. Pokoknya setiap pulang sekolah kamu wajib makan di rumah tante”


“Hihihhh..” tawa Lembayung meliriknya.


“Nggak usah tante ntar jadi ngerepotin”


“Siapa yang ngerepotin? Kenapa? Masakan tante nggak enak ya?”


“Enak banget kok tante_”

__ADS_1


__ADS_2