Cinta Benua Antartika

Cinta Benua Antartika
Bab 14


__ADS_3

“Aku melihat dari akun media sosial yang sering up date status mengenai sekolah kita.”


“Sini aku mau lihat nama akunnya.”


Dendra meraih ponsel milik Oki, dia menelusuri akun tersebut melihat pertemanan siswa-siswi di sekolahnya. Screen short akun sosial media itu di kirim ke nomornya lalu dia mengembalikan ponsel tersebut.


“Thank’s bro.”


......................


Melihat Lembayung sendirian merupakan kesempatan emas bagi Rosa. Dia berpura-pura ketakutan menemui Lemba yang sedang duduk sendirian di dalam kelas.


“Lemba tolong, aku lihat ada sesuatu di lorong sana!” ucap Rosa.


Dia berdiri dari kursinya, bukunya masih terbuka. Lemba menoleh ke lorong kelas yang di katakan Rosa. Tiba-tiba dari belakang, seseorang yang tidak di kenal membiusnya dengan sapu tangan.


Brughh__


Dendra berlari ke kelasnya, Nampak Rosa yang akan berbalik menghindar terpaksa menoleh ketika dia memanggilnya. Tubuh Rosa bergetar Nampak canggung saat menjawab pertanyaan darinya.


“Ros, kamu lihat Lemba?” Tanya Dendra sedikit curiga melihat gerak geriknya.


Dia melirik ke dalam kelas, Nampak peralatan sekolah Lemba masih berada di mejanya.


“Ros!” bentak Dendra.


“Eh aku nggak lihat, aku kan baru aja tiba disini” jawab Rosa mengelak.


“Tiba dari mana? Aku lihat kau akan pergi. Cepat katakan dimana Lemba! Kalau kau berkata bohong maka aku tidak akan memaafkan mu!”


“Aku nggak tau!”


“Cepat beritahu aku Ros!” Dendra yang sudah tidak sabaran mengangkat kerah baju Rosa.


“Sakit! Kasar banget sih kamu Dra!”


Karena merasa terdesak, Rosa berpura-pura mengatakan bahwa dia melihat seorang pria membawa Lemba ke arah gudang.


“Aku sudah memberitahu yang sebenarnya. Kau jangan menuduh ku karena tidak ada bukti apapun!” Rosa pergi berlari meninggalkannya.


Segala cobaan hanya bisa di lalui oleh manusia yang kuat. Meski sudah di sakiti berkali-kali namun dia tetap bangkit lagi dan berdiri menunjukkan bahwa dia bukan lah orang yang lemah.


Di situasi sulit ini pernah Lemba alami sebelumnya. Dia tersadar berada di dalam ruangan yang gelap. Mendengar panggilan suara Dendra dari luar. Lemba mendekati pintu, kaki yang terikat mendorong pintu berharap Dendra mengetahui keberadaannya.


“Lemba, apa kau di dalam sana? Aku akan mendobrak pintu” ucap Dendra.

__ADS_1


Dubrakk_


“Lembayung!”


Dendra melepaskan semua tali yang mengikat di tubuhnya. Dendra yakin pasti ini adalah perbuatan Rosa. Dia sengaja melepaskan wanita itu agar secepatnya menyelamatkan Lemba. Lemba memeluk Dendra sangat erat. Selama ini di sepanjang persahabatan mereka, tepat di hari ini dia merasakan Lemba memeluk dirinya.


“Sudah jangan nangis lagi, maaf aku meninggalkan mu” ucap Dendra.


Sebelum mengantar Lemba pulang, dia mengirim pesan kepada Tomi . Mengetahui cara kasar hanya membuat Lemba semakin tersudut maka Dendra menggunakan cara halus membalas perlakuan Rosa.


Kepada Tomi


Target yang di tuju adalah Rosa anak kelas tiga B yang menyekap Lembayung di gudang. Hampir saja masa depannya di renggut pria tidak di kenal jika aku tidak segera datang. Kejahatan ini harus di bayar dengan tangisannya. Kirim beberapa orang untuk melakukan hal yang sama.


Dendra


🍁


Balasan dari Tomi


Dendra, aku mendapat kabar bahwa semalam Rosa menemui Fiza. Sepertinya rencana ini sudah di susun mereka. Fiza juga terlihat memegang telepon genggam.


Membaca balasan dari Tomi, Dendra semakin meradang. Seolah para wanita itu menjadi benalu atau parasit yang mematikan mengganggu hidup Lembayung.


...🍁🍁🍁...


“Aku udah nggak apa-apa kok Ndra.”


“Kamu yakin? Masih cemberut gitu”


“Yakin. Jangan beritahu Kinan ya kejadian hari ini. Aku nggak mau buat dia jadi kepikiran terus sakitnya nggak sembuh-sembuh”


“Janji.”


Melihat Kinan kembali di infus, Lemba dan Dendra berusaha menghiburnya. Kinan yang sudah mengenal karakter Lemba sejak kecil memasang tatapan sayu berharap dia membuka cerita akan hal yang dia alami hari ini.


“Lemba, bagaiamana hari mu hari ini? Di sekolah nggak ada masalah kan?” Tanya Kinan.


“Tuan cerewet, kamu jangan mikir hal yang bukan-bukan. Cukup fokus ama kesehatan kamu aja” ucap Dendra.


“Hari ku baik di sekolah. Nan, aku dengar dari kak Husni kalau kamu, hiks”


“Tuh kan cengeng amat!” Kinan tersenyum melihat Lemba mengusap air matanya.


Ingin rasanya dia memeluk lalu mengucapkan kata aku sayang kamu. Kinan mengulurkan tangan, dia sambut tangan Lemba mengusap lembut di sela jarum infusnya.

__ADS_1


“Aku keluar cari makan dulu ya. Lemba, kamu mau pesan apa?”


“Apa aja Dra Terserah kamu.”


Dendra mengusap kepalanya kalau Lemba sudah mengatakan kata terserah. Dia berharap ada rumah makan yang menjual makanan terserah sehingga dia tidak perlu merasa bingung. Jauh di lubuk hatinya menyimpan rasa cemburu meninggalkan Kinan dan Lembayung berduaan.


“Nan, aku mau protes sama kamu”


“Ya, aku tau kamu mau protes tentang penyakit aku kan? Kamu tenang aja, aku bakal sembuh kok.”


“Tapi tetap aja kamu menyembunyikan hal sebesar ini dari aku dan Dendra. Kalau kak Husni nggak cerita mungkin sampai saat ini kami nggak akan tau”


“Ya udah, aku minta maaf ya. Oh ya, itu seragam kamu kenapa kotor banget?”


“Tadi aku habis jatuh” jawab Lemba menyembunyikan siku dan dengkulnya yang lecet.


“Coba sini siku kamu, jangan di tutupin gitu. Aku perhatiin dari tadi saat kamu masuk”


Terpaksa jujur sama si tuan bawel.


Mendengar semua hal yang di lontarkan, Kinan hampir hilang kendali tanpa sadar berdiri mau mencari Rosa dan Fiza.


“Nan, tenangkan diri. Aku bias melewati semuanya dengan selamat”


“Mereka udah keterlaluan. Aku nggak bias tinggal diam.”


“Udah jangan di bahas lagi ya__”


Lemba selalu berbesar hati, dia tidak mau memperbesar masalah. Dia tidak mau menambah beban pikiran Kinan atau apapun yang menyulitkannya. Berharap ada keajaiban, sahabatya itu segera sembuh. Penyakit yang di deritanya sangat berbahaya. Terkadang Lemba meneteskan air mata. Dia masih tidak menyangka Kinan menderita penyakit mengerikan. Dia terlihat semakin kurus, rambutnya menipis, bibirnya pucat terlihat nafasnya seolah terputus-putus.


“Nan, jangan tinggalin aku ya” ucap Lembayung.


Dia mengulurkan jari kelingking, Kinan penuh keraguan membalas jari kelingkingnya. Bagaiman bias dia mengatakan tidak akan meninggalkan Lemba? Setiap hari kondisi tubuhnya semakin menurun. Dia sering pingsan, seolah semua obat dan kemoterapi tidak berarti baginya.


Dendra kembali membawa dua nasi bungkus, satu keranjang buah-buahan, dua kotak roti dan sebuah boneka tedy bear raksasa.


“Tolong letakkan di samping pasien ya pak” perintah Dendra ke seorang kurir yang membawakan semua barang belanjaannya.


“Dra, aku kan nggak minta boneka” ucap Lembayung.


“Bukan buat kamu, tapi buat Kinan. Hahah”


“Ihh jahat. Kok buat Kinan?”


“Iya kok buat aku Ndra?” Tanya Kinan menepuk pelan kepalanya.

__ADS_1


“Buat temen kamu kalau sendirian disini. Hati-hati bro dia bisa ngomong tuh” canda Dendra.


“Jangan ngaco kamu Dra! Buat Lemba aja deh.”


__ADS_2