Cinta Benua Antartika

Cinta Benua Antartika
Bab 17


__ADS_3

Sebelum mengantarnya pulang, Dendra membawa Lemba ke ke apotek. Dia mengambil beberapa resep obat. Lemba menunggunya di dalam mobil, dia membuka layar ponsel yang sepi. Tidak ada notif pemberitahuan dari siapa pun sekalipun kedua orang tuanya.


Dendra sangat lama berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dia juga melambaikan tangan dari luar lalu tersenyum. Lemba hanya bisa nyengir membalasnya.


“Kenapa tidak sekalian naik mobil aja” gumamnya.


Dia kembali membawa beberapa bungkus dan dua kotak nasi. Sepanjang perjalanan pulang, Dendra sibuk menerima panggilan telepon. Perbincangan mengenai pertandingan yang akan di langsungkan nanti malam. Lemba mendengar dengan seksama, dia mendengar kata balap di dalamnya.Setelah mengakhiri pembicaraan, dia menanyakan perbincangannya tadi di telepon.


“kamu nanti malam mau kemana Ndra? Terus tadi maksudnya balapan apa?” tanya Lemba.


“Nggg___ Cuma seru-seruan ngumpul bareng Tama dan lainnya.”


Di depan gerbang yang masih terkunci, Lemba bergerak turun di tahan olehnya. Dendra minta kunci gerbang dan rumah, seolah dia menjadi peran asisten pribadi yang baik untuknya. Lemba memberikan kunci, Dendra bergegas membuka pintu gerbang lalu masuk kembali ke dalam mobil memarkirkan di depan garasi rumah. Dia turun, membuka pintu untuk Lemba lalu membuka pintu rumah. Dendra juga tidak lupa membawakan tas Lemba masuk.


“Eits biar aku saja nanti yang bawa semua plastik dan kotak itu” ucap Dendra.


“Kamu perlakukan aku seperti nenek-nenek jompo!” kata Lemba cemberut.


Di taman bunga mawar yang sedang bermekaran. Aroma khas membuat suasana hati dan pikiran menjadi tenang. Biasanya ada Kinan dengan petikan dan suaranya yang falls. Hari ini Dendra hadir mengurus dirinya yang sedang sakit. Memaksa untuk menghabisi satu kotak nasif dan menelan obat tanpa harus merengek mengatakan pahit.


Setelah selesai, Dendra membuka layar ponsel. Dia memanggil nomor Kinan, tampak beberapa kai panggilannya itu tidak terangkat. Rasa cemas tidak ingin Lemba sampai tau. Dendra mencoba menghubunginya sekali lagi. Video call memperlihatkan wajahnya yang semakin pucat. Dendra memperhatikan Kinan yang mengusap rambut mengarah ke belakang terlihat rambutnya rontok berjatuhan.


“Halo Nan, kamu udah minum obat belum?” tanya Dendra.


Dia mengarahkan layar ponsel di dekat Lemba, kedua tersenyum memperhatikan Kinan lemas dan sayu menatap mereka. Dia menjawab pertanyaan Dendra dengan anggukan. Lemba tersenyum menunjuk ke pipi Dendra.


“Nan aku mau cerita, tadi si Dendra jahatin aku. Dianya maksain aku makan sampai aku gendut” kata Lemba.


Kinan hanya tersenyum menganggukkan kepala. Dia menahan rasa sakit setelah menjalani kemoterapi hari ini. Menuntup pembicaraan dengan canda tawa, sore hari tiba Dendra pamit pulang pada Lembayung yang masih sibuk memetik beberapa tangkai bunga mawar.


“Ini oleh-oleh buat kamu, jangan di buang ya” ucap Lemba.


“Terimakasih nona manis. Oh ya, semua jendela dan pintu udah aku periksa dan kunci rapat-rapat. Ingat ya jangan keluar atau buka pintu kecuali orang tua kamu yang pulang”

__ADS_1


“Iya tuan bawel!”


Tin__


Melihat mobil Dendra sudah pergi, Lemva naik ke atas kamarnya. Sendiri dan sendiri, hidupnya ssedari kecil selalu di isi dengan kekosongan. Buku diary miliknya dan pemberian Dendra tampak masih kosong. Dia masih penasaran mengapa sampai saat ini Fiza dan Rara sangat membencinya.


Menunggu detik waktu yang berjalan, dia mengerjakan PR hingga suara panggilan nada dering mengagetkannya.


“Ya Kinan ada apa?”


“Lembayung, kamu dimana?”


“Aku di rumah. Dendra sore tadi udah pulang.”


“Orang tua kamu belum pulang kan? Jangan lupa jendela dan semua pintu di tutup. Kamu hati-hati sendirian di rumah. Beritahu aku ya kalau ada hal yang mencurigakan.”


“Ya, ya, ya..”


“Banyak banget iya nya. Yaudah nanti aku telpon lagi.”


Setelah panggilan Kinan, ponselnya kembali berdering. Panggilan Dendra, dia mengangkat tombol loudspeaker sambil berjalan menuju dapur. Terdengar suara berisik, banyak sekali suara mobil dan sepeda motor yang di gas sangat kuat. Ramai suara tawa pria dan wanita. Perkataan yang dia dengar dari dalam telepon adalah mengatakan kata balapan.


“Halo Lembayung, kamu baik-baik aja kan?”


“Ya tenang aja aku baik kok. Aman. Oh ya Ndra kamu dimana sih berisik banget disitu”


“Lagi ngumpul bareng temen.”


“Kok banyak suara cewek? Kamu lagi pacaran sama siapa? Kenalin ke aku”


“Jangan ngawur, aku Cuma ngumpul doang. Kamu mau aku jemput?"


“Nggak deh.”

__ADS_1


Tuuttt___


Baterai hp yang low, Dendra lupa membawa power bank. Arena balapan liar itu sudah di beri garis pembatas start dan finish. Setiap jalan terpasang bendera berwarna merah simbol keberanian yang sengaja mereka pasang sebagai penanda.


Geng atau komunitas pasukan para anak konglomerat. Hari ini mereka mengadakan pertandingan balapan sepeda motor dengan hadiah Tropi dan penyematan ketua komunitas. Ada poin yang harus di lewati sehingga banyak yang berambisi menduduki posisi tersebut.


Balapan ini di rahasiakan oleh Lembayung. Dendra takut dia tidak setuju atau menghalanginya. Di tengah pertandingan yang akan di mulai, Dendra teringat Lemba masih sendirian di rumah. Meski Fiza dan Rara sudah di jebloskan ke penjara, tapi manusia seperti Fiza mengutus Rosa untuk menyakiti Lembayung seolah dia tidak menyerah meski sudah di tahan.


“Kenapa firasat ku kurang baik meninggalkan Lemba sendirian di rumahnya. Apa aku harus mengundurkan diri dari balapan ini?” gumam Dendra berat hati di atas sepeda motornya yang sedang menunggu aba-aba memulai.


“Oi Ndra jangan melamun dong!” teriak Tomi dari kerumunan penonton.


“Ndra fokus!” teriak Bombom.


Pertandingan pun di mulai, Heri melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi mendahului Dendra. Teriakan, dukungan serta lambaian bendera yang mereka ayunkan mendukung calon kandidat ketua masing-masing. Ada lima orang yang bertarung disana. Diantaranya ialah Heri, Dendra, Bona, Farhan dan Zen.


Tikungan tajam, jalan berliku dan saling mengejar. Farhan mengerem mendadak karena tersikut oleh Zen. Dia memilih mundur daripada jatuh ke tebing jurang yang curam. Kini tersisa empat orang, posisi Dendra pada urutan ketiga. Dia hampir mendapat perlakuan yang sama seperti Farhan, kaki Zen sedikit lagi mengenai bagian ujung boncengan belakang.


Dendra membalas menendang hingga Zen tidak seimbang membanting stir ke berputar. Dia tidak menyerah mengejar Dendra, kecepatan kendaraan hampir maksimum 90 Km. Lelaki itu seolah tidak takut mati, dia berusaha melewati Dendra. Namun keseimbangannya goyang akibat terkena bebatuan yang mengarah ke jalan tanjakan.


Bumm_ Brugh__


Zen terjatuh menyenggol sepeda motor Farhan dan Bona. Pertarungan sengit diantara Heri dan Dendra untuk mencapai garis finish. Pendukung keduanya bersorak teriakan kuat, di ujung sana mereka menanti ketua yang akan memimpin mereka.


“Kamu nggak boleh menang Dra!” gumam Heri.


Dia melakukan hal yang curang. Mendorong tubuh Dendra sampai dia terpaksa memutar kendaraan lalu berhenti di ujung tebing. Sedikit lagi dia terjatuh, melihat Heri yang akan memenangkan pertandingan itu. Dia melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi melewatinya.


Brummm__


Tinn__


“Arghhh!”

__ADS_1


Dia hampir menabrak para penonton. Kemenangan berpihak pada Dendra. Malam itu, dia resmi menjadi ketua Geng komunitas anak konglomerat.


__ADS_2