
Musim gugur telah terlewati, bangku kosong di samping Lemba sebagai bukti sosok orang terdekat berselimut kejahatan berniat merusak hidupnya. Coklat dan surat rahasia masih tetap berada utuh setiap hari di dalam lacinya.
Lamunannya di kagetkan oleh Arla, dia melanjutkan menulis tugas sesekali menoleh ke pintu. Biasanya Kinan hadir lebih dahulu menunggunya. Tapi yang datang hanya Dendra seorang. Bel istirahat berbunyi, Dendra menarik Lemba ke kantin di ikuti dengan Arla. Meja tiga serangkai itu di ganti dengan Arla yang masih tampak canggung duduk di tempat yang biasanya Kinan duduki.
“Aku makan di kantin lain aja deh” ucap Arla.
“Jangan Ra, kami nggak apa-apa kok. Ya kan Dra?”
“Ya benar kata Lemba. Tapi kalau Kinan balik, kamu harus out!”
“Ihhh jahat banget sih. Si Dendra Cuma bercanda Ra, jangan di masukkan ke hati.”
......................
Jadi setelah benar-benar sembuh, Kinan memutuskan tetap kembali melanjutkan sekolahnya di Indonesia. Kepulangannya itu di rahasia kan untuk memberikan kejutan pada Lembayung. Kinan banyak berbelanja oleh-oleh, dia juga menangkap tiga lembar daun maple yang berguguran.
Kembali ke tanah air, Kinan mempercepat langkah menekan bel rumah Lembayung. Saat membuka pintu, dia sangat terkejut melihat kehadiran Kinan. Lemba langsung memeluknya, dia terisak tangis senggugu kan. Air mata tumpah mengingat kejadian yang dia alami bersamanya.
“Sudah jangan menangis, aku kan baik-baik aja. Oh ya kamu mau kemana bawa tas ransel gitu?”
“Hiks, pokoknya kamu jahat tinggalin aku!”
“Ya, maaf ya__”
Di depan gerbang halaman, Dendra melihat mereka sangat dekat bahkan seolah kedekatannya melebihi dirinya. Dendra masih memperhatikan hingga Lemba melihat kehadirannya.
“Nan, kami mau ke perpustakaan umum. Ada beberapa buku pelajaran yang mau di pinjam. Itu Dendra udah nunggu di depan gerbang.”
“Eh Dra, sini! Ngapain bengong disitu?” teriak Kinan.
Melihat Kinan memeluk Lemba pada hari itu, sikapnya berubah drastis. Dendra menutupi rasa cemburunya dengan mengalihkan suasana hati melakukan banyak kegiatan ekstrakulikuler di sekolah. Pada hari libur atau tanggal merah, dia melakukan kegiatan ekstrim atau kegiatan yang menguji adrenalin lainnya. Dendra jarang ikut nongkrong di kantin, jarang mengaktifkan ponsel atau gabung bersama Kinan dan Lemba.
Plaghh_
Pukulan ringan mendarat di lengannya. Lemba melirik tajam memperhatikan manik matanya yang tampak tidak mau membalas pandangannya.
“Hei tuan sombong, kenapa kau menghindar dari kami berdua?” tanya Lemba.
__ADS_1
“Ahah, aku sangat sibuk.”
“Kamu kenapa Dra? Kalau ada masalah, cerita sama kami” ucap Kinan.
“Ya, aku punya masalah hati. Sebuah masalah yang tidak ada obatnya!” gumam Dendra berusaha menyembunyikan perasaannya.
“Aku nggak apa-apa, Cuma lagi banyak kegiatan eskul. Kalian apa kabar? Hehe.”
“Dasar aneh! Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu?” tanya Lemba yang sangat paham akan sifatnya.
Dendra pergi meninggalkan mereka, keduanya semakin bingung dengan sikapnya itu. Di sela keanehan pada Dendra, setiap pagi tumpukan surat cinta dan coklat semakin berkali lipat dari biasanya. Bel pulang berbunyi, Dendra memperhatikan Lemba dari kejauhan. Meskipun menghindarinya, dia selalu melihat gerak-gerik Lemba dan memastikan wanita itu baik-baik saja.
“Nan, aku pulang yah. Dah.”
“Kinan nggak ikut ibu?” tanya bu Sora.
“Nggak bu terimakasih. Kinan bawa sepeda motor.”
“Ya sudah kamu hati-hati di jalan. Nanti malam jangan lupa ya makan di rumah ibu, ajak Dendra juga.”
“Ya bu..” senyum Kinan mereka sambil melirik Lemba.
......................
Penjara kelas VIP, di dalamnya hanya khusus narapidana yang memiliki dukungan fasilitas kemewahan agar tidak merasa tempat itu bagai penjara yang mengerikan. Ayahnya Fiza seorang direktur, dia memiliki kekuasaan untuk mengatur perpindahan sel anaknya dan pengurangan masa kurungan penjara.
“Setelah keluar nanti, aku akan memberikan perhitungan sama si anak cupu itu” ucap Fiza sambil melotot.
“Kau tenang saja, sebelum kau bebas biar aku yang melakukan sesuai yang kau perintahkan” ucap Rosa.
Rosa si pesuruh Fiza yang mau melakukan apa saja demi mendapatkan uang. Kali ini dia merencanakan sebuah rencana besar untuk mencelakakan Lemba. Tawanya cekikan sangat keras membayangkan Lemba menderita di sepanjang hidupnya.
......................
Hembusan udara malam, suasana kehangatan tali silaturami antar keluarga yang terjalin dan pembicaraan sederhana di meja makan. Mereka menikmati hidangan makanan sambil mendengarkan lantunan suara instrument musik yang syahdu.
Lilin aroma terapi tertata rapi, pertemuan panjang di malam itu membuat kedekatan antar keluarga terjalin. Semula hanya Dendra dan Kinan saja yang di undang untuk makan malam. Tapi Sora memutuskan untuk mengundang kedua orang tua Dendra karena dia juga ingin mengenal lebih dekat sahabat-sahabat anaknya itu.
__ADS_1
Setelah banyaknya kejadian yang menimpa Lema,tampak Sora lebih berhati-hati dan mencari tau semua hal terkecil pun menyangkut anaknya. Hatinya belum tenang meski musuh anaknya selama ini yang selalu membuat masalah di hidupnya sudah di jebloskan ke dalam penjara.
Di dekat kolam renang, Lemba berdiri mematung. Dia masih trauma tentang semua yang menimpanya. Seperti sebuah istilah sekali tanda mata, dua kali tidak apa-apa, tiga kali terjadilah.
“Aku sangat takut yang ketiga kali, tidak ada yang menolong ku!” gumam Lemba.
“Lemba, nih simpan baik-baik.”
Dendra menyodorkan sebuah kotak yang di bungkus dengan kertas kado berwarna biru muda.
“Apa ini Dra?”
“Buka aja. Aku udah mengatur sinyal GPS dan perangkat penting lainnya. Jadi kalau ada apa-apa kamu langsung tekan nomor ku atau Kinan.”
Dendra memberikannya sebuah ponsel keluaran baru yang sengaja dia beli dari luar negeri.
“Nggak mau. Kamu selalu aja beliin aku barang mewah, aku kan jadi sungkan.”
“Kamu anggap aku sahabat atau orang lain?”
“Ya, makasih banyak ya tuan bawel” ucap Lemba.
“Tadi malam seru banget ya dan akhirnya sekarang kita tiga kumpul bareng lagi” ucap Lemba tersenyum merangkul kedua sahabatnya.
“Ya kita akan selalu ngumpul, Cuma kalau timingnya pas aja”
“Udah jangan mulai kamu Dra” kata Kinan melirik.
“Baik lah. Oh ya Nan, kamu kelihatan pucat banget. Kamu permisi pulang sana!”
Lembayung juga ikut melihat raut wajah pucat pasih sahabatnya itu. Berselang beberapa menit kemudian Kinan jatuh pingsan. Dendra dan Lemba panik, mereka membawa ke ruang UKS. Kondisi tubuh Kinan yang semakin memburuk sehingga dia di bawa oleh Frau Turnip ke Rumah Sakit terdekat.
“Kami ikut ya Frau.”
Dendra dan Lembayung ikut masuk ke dalam mobilnya. Sepanjang perjalanan terdengar suara Kinan mengigau. Tubuhnya terasa sangat panas. Frau mempercepat laju kendaraannya meminta mereka tetap memperhatikan keadaaan Kinan.
“Gimana keadaan murid saya dok?” Tanya Frau Turnip.
__ADS_1
“Apakah ibu wali anak ini?”
“Ya dok, saya walinya. Orang tuanya sedang berada di luar negeri.”