Cinta Benua Antartika

Cinta Benua Antartika
Bab 20


__ADS_3

Menjalani kemoterapi dan perawatan intensif di ruang steril. Dendra dan Lembayung hanya bisa melihatnya dari balik kaca ruangan. Lembayung yang sudah tidak tahan menahan tangisan akhirnya berderai, dia mengusap wajahnya hingga berlari keluar ruangan. Dendra menyusul, tangannya dari belakang berniat mengusap namun dia ulur kembali.


“Udah Lembayung, kita harus tetap berdo’a demi kesembuhan Kinan. Aku yakin dia pasti akan sembuh, dokter yang sudah aku datangkan secara khusus menangani penyakit Kanker” ucap Dendra memberi penguatan supaya tangisnya berhenti.


Mengantarkan Lemba pulang, di sepanjang perjalanan mereka terdiam seribu bahasa. Dendra menyodorkan tisu, Lemba mengusap wajahnya juga air matanya yang berlinangan. Tanpa dia sadari sekotak tisu habis dan bekas tisu yang dia pakai berserakan di bawah jok mobil.


“Udah dong nangisnya.”


“Ya nggak tau ini air mata masih ngalir aja__”


Dendra menepikan mobil, dia keluar menyebrang jalan ke arah penjual balon. Dia membeli sebuah balon berwarna merah muda yang berbentuk kepala mickey mouse. Kembali masuk ke dalam mobil, dia memberikan balon itu kepada Lemba.


“Nih biar kamu nggak nangis lagi”


“Jahat banget sih, aku kan lagi sedih malah di kasih balon! Emangnya aku anak kecil yang nangis minta balon sama bapaknya?”


“Hoohh bapak Dendra? Kamu nggak mau aku jadi seorang bapak untuk anak-anak kamu kelak?” ucap Dendra dengan nada bergetar.


“jangan ngaco deh, huhh.”


Melambaikan tangan sambil membawa balon, bunyi klakson mobil Dendra berkali-kali terdengar seolah membuat suasana keributan.


“Cckckkk dasar si Dendra selalu saja usil” ucap Lemba berdecak.


Di dalam rumah, meja makan sudah di penuhi berbagai hidangan panas beraroma bumbu rempah-rempah. Ibu Sora tersenyum melihat kepulangan anak semata wayangnya. Lembayung menoleh mendengar suara langkah kaki Pak Abas menuruni anak tangga.


“Hari apa ini? tapi tidak ada hari kebesaran atau lainnya?” gumam Lembayung.


“Lembayung, kamu sudah pulang nak? Mari kita makan bersama” ajak pak Abas.


“Ibu masak makanan kesukaan kamu, oh ya tadi si Dendra kenapa nggak di ajak makan sekalian?” tanya bu Sora.


“Dendra katanya ada urusan tadi bu, jadi setelah mengantar langsung pamit pulang” jawab Lemba.


Senja yang hangat di nikmati bersama keluar yang lengkap. Tepat di hari ini, dia merasakan kedekatan pada kedua orang tuanya. Mengobrol panjang, bercerita mengenai keadaan sekolah dan yang terakhir tentang penyakit Kinan.


Bu Sora melihat mata Lemba sembab seperti orang habis menangis. Dia mengikuti sampai masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


“Bu, Kinan pasti akan sembuh kan? Hiks” tangis Lemba memeluknya.


“Kita do’akan saja yang terbaik untuknya.”


......................


Gengg_ brumm


Ciits__


Suara sepeda motor ramai memenuhi arena lapangan. Barisan geng sepeda motor semarak melajukan kendaraan mereka di sepanjang lintas jalur yang di pasang bendera merah putih. Laporan dari Tomi menyidik kasus pengurungan Lembayung di gudang. Dalang awal adalah Fiza yang memainkan peran sebagai penggerak musuh utama yang selalu menyakiti Lemba.


Tomi juga menyampaikan kebebasannya menggunakan fasilitas penjara VIP hingga menggunakan ponsel dan di hari-hari tertentu dengan mudah keluar masuk penjara dengan di kawal dua pria utusan ayahya. Tomi memberikan bukti foto dokumentasi akan semua yang di lihatnya. Dia berhasil memata-matai perempuan anak konglomerat itu di biayai Dendra.


Semua bukti ada di dalam amplop besar, Dendra menerima dengan senyuman sambil mengacungkan jempol.


“Terimakasih Tom, kini aku akan mengajukan studi banding, menutut dan berusaha sekuat tenaga agar perempuan licik itu tidak bisa menikmati masa penjara tanpa penderitaan” ucap Dendra.


“Ya sama-sama bro.”


Dering ponsel Dendra tertulis nama Lembayung, pria itu segera mengangkat berjalan sejauh-jauhnya dari keramaian sepeda motor.


“Dra kita jadi jenguk Kinan?”


“Nan kamu di panggil anggota untuk memulai pertandingan” teriak Farhan dari kejauhan.


“Sttshh nanti Lemba dengar” ucap suara kecil Dendra berlagak sinyal jari menempel di mulutnya.


“Dra kamu lagi dimana? Pertandingan apa?” tanya Lemba curiga.


“Aku ada di gedung karate. Sebentar lagi aku jemput biar nggak kemalaman ya__”


Beberapa jam berlalu Dendra datang menjemput. Karena takut Lemba menunggu terlalu lama, dia lupa mengganti kendaraan serta jaket yang dia kenakan. Menekan bel rumah, bu Sora menyambut kedatangannya. Dia menunggu di ruang tamu, terlihat Lemba sudah bersiap. Sorot mata mengarah pada jaketnya yang tergambar dengan tulisan club sepeda motor elit.


Dendra berpamitan pada bu Sora. Sepanjang perjalanan Lemba terdiam tanpa menjawab satu pun pertanyaan darinya. Dia menunggu kata jujur yang terucap dari bibir sahabatnya itu.


“Kamu kok diam aja sih, lagi sakit ya?”

__ADS_1


“Lagi pengen makan apa, biar kita singgah ke rumah makan baru bawa oleh-oleh untuk Kinan.”


Tidak ada jawaban tau sedikit menoleh untuk membalas sekedar saja. Dia memalingkan wajah melihat jalan di luar. Dendra tetap memperhatikannya dari kaca spion. Dia menepikan kendaraan menutar tubuh manik mata mencari-cari menangkap mata Lembayung yang acuh.


“Kamu kenapa? Aku salah apa?” tanya lemba.


Lemba menekan gambar di jaketnya. Semua pertanyaan tanda tanya terjawab. Dendra bingun mau menjawab apa Dia mengusap kepalanya yang tidak terasa gatal.


“Kalau kamu nggak mau juju yaudah aku naik angkutan umum saja ke rumah sakit”


“Malam-malam begini?”


“Ya deh aku jujur. Aku selama ini masuk di club sepeda motor elit. Kamu nggak marah kan?”


“Aku bakal marah kalau efeknya membuat badan dan wajah kamu babak belur.”


Sesampai di Rumah Sakit, Kinan Nampak tertidur pulas. Mereka tidak beranii embangunkannya, wajahnya seperti sedang menahan kesakitan. Lemba dan Dendra memutuskan pulang, sebelumya pulang Lemba meletakkan keranjang buah di atas meja.


“Kita langsung pulang atau mau mampir makan?” tanya Dendra.


Kringg__ (Dering ponsel)


“Ndra anggota udah nunggu dari tadi nih”


“Tom tolong kamu saja yang urus, aku masih ada urusan nih.”


“Yaudah tapi kami tetap nunggu kamu ya Dra.”


“Ok bro thank’s ya.”


Dendra menutup panggilan telepon, Lemba berpikir pasti dia akan pergi ke perkumpulan club balapan itu. Rasa keingin tahuannya untuk mengetahui dimana tempatnya maka dia memutuskan untuk ikut kesana.


“Ndra kamu mau ke tempat club balapan yang buat kamu babak belur itu?”


“Kok bilang gitu, kemarin salah aku karena nggak hati-hati.”


“Salah kamu atau nggak tetap aja resikonya besar. Aku mau tau tempatnya, aku ikut.”

__ADS_1


“Baiklah tuan putri yang bawel, aku akan menuruti permintaan mu.”


Dendra bersama Lemba menuju ke arena perkumpulan sepeda motor. Banyak para anggota yang melihat kedatangannya bersama seorang perempuan. Lemba melirik beberapa perempuan yang berpakaian seksi dengan riasan wajah yang sangat menor.


__ADS_2