Cinta Benua Antartika

Cinta Benua Antartika
Bab 8


__ADS_3

Senam pagi di hari yang mendung nan kelabu. Para siswa-siswi berbaris sesuai kelas nya masing-masing. Beberapa siswa di depan sebagai contoh gerakan. Guru olahraga juga andil memberikan instruksi. Udara dingin menghempas di sela keringat bercucuran melakukan gerakan. Dua kali putaran musik senam cukup menyehatkan anggota tubuh.


Fiza melirik sini ke sisi barisan kiri. Ada Lembayung yang sibuk mendengarkan arahan dari guru. Dia dan segala rencana busuk untuk mengganggunya. Rara menyenggol memberi kode agar tidak terlalu mencolok untuk melihat Lembayung.


“Stthh! Awas ntar jadi makin berabe” bisik Rara.


Fiza mengangguk setuju. Dia memasang wajah senyum terpaksa. Kegiatan hari ini di lanjutkan dengan kerja bakti antar kelas. Sehari sebelumnya para murid sudah di umumkan membawa peralatan kebersihan. Fiza dan Rara berjalan ke tempat dimana Lembayung sibuk menyapu.


“Lemba, aku mau ngomong nih” ucap Fiza memasang wajah memelas.


“Ada apa Za?”


“Aku nggak tau siapa yang memfitnah ku Lemba. Bukan aku yang melakukannya, pada hari itu aku dan Rara datang pagi-pagi sekali untuk piket kelas”


“Ya benar apa yang di katakan Fiza. Kamu percaya kami kan?” kata Rara berenggut wajah.


Alra memperhatikan gelagat mereka, dia hanya terdiam mendengarkan segala perkataan yang penuh ke bohongan. Dia mengerutkan dahi melihat ekspresi Lembayung seolah tidak membenci mereka atas segala perbuatan yang mengerikan itu.


“Sudah jangan di bahas lagi. Aku nggak berpikir kalau kalian pelakunya kok.”


Jadi masalah ini sudah selesai?


Melihat mereka sudah pergi, Arla menuju Lembayung yang sedang meneruskan pekerjaannya. Sambil menyapu, Arla menggelengkan kepala.


“Lembayung, kamu kenapa diam aja sih setelah apa yang di perbuat Rara dan Fiza?”


“Aku nggak mau menimbulkaan keributan. Aku berharap mereka berubah dan menyesali perbuatannya.”


“Ya semoga aja.”


Fiza menunjukkan sikap sangat manis pad Lembayung. Seolah dimana ada Lembayung maka disitu ada Rara dan Fiza. Tepat setelah kegiatan kerja bakti selesai, para siswa-siswi beristirahat di tempat favorit mereka masing-masing. Meja kantin bagian ujung sisi kanan biasanya hanya di isi oleh Lembayung, Kinan Dendra. Kini tambahan dua kursi di isi Rara dan Fiza.


“Loh kalian ngapain disini? Ini tempat khusu buat kita tiga aja” sindir Kinan.


“Kamu kok kasar gitu sih Nan!” kata Rara meninggikan suaranya.


Fiza menahan tangan Rara, dia memintanya untuk tenang. Lembayung menghela nafas, dia menepuk pundak memberi kode dengan lirikan mata sedikit menyipit.


“Maaf kami nggak ada niat apapun. Yuk kita pigi za__”

__ADS_1


“Ehh___”


Lemba hendak mengucapkan sesuatu sambil berdiri tapi tangannya di tekan Dendra untuk duduk hingga dia mematung.


Meja kantin yang berwarna coklat itu khusus untuk mereka. Kedatangan Fiza dan Rara hanya membuat suasana hati ketiganya menjadi kacau. Kepulan asap pada kuah bakso panas biasanya segera di nikmati Lemba sambil meletakkan beberapa sendok cabai dan saos di atasnya. Tapi tampak dia tidak selera makan hari ini.


“Kenapa nggak di makan?” tanya Kinan.


“Kurang apa biar aku tambahin. Baksonya kurang besar?” celetuk Dendra.


“Huffhh..”


......................


Melihat Lembayung berjalan sendiri ke kamar mandi, Fiza dan Rara menghampirinya.


Mereka memasang wajah tidak berdosa setelah tiga kali secara berturut menjahatinya. Perlu di garis bawahi, yang lebih menakutkan bukanlah hantu, setan atau semacamnya. Melainkan orang yang berpura-pura baik menyeringai di depan dengan seribu wajah yang dia pasang.


“Lembayung, nanti sore kita kerja kelompok bareng yuk.”


“Dimana Za?”


“Di rumah kamu aja ya.."


Kerja kelompok di ruang perpustakaan, ketiganya sibuk mengerjakan tugas. Fiza mulai melancarkan aksi kejahatannya. Dia berpura-pura kurang sehat, memegang kepalanya lalu berjalan sempoyongan kea rah pintu.


“Kamu kenapa Za?”


“Nggak tau nih Ra, kepala ku pusing banget.”


“Duduk Za, ntar aku minta si mbok ambilin obat ya” ucap Lemba berdiri membantu menopang tubuhnya.


“Lemba boleh nggak aku pinjam kamar kamu buat istirahat sebentar?”


“Boleh__”


Dia di antar ke kamar, bahkan Fiza tanpa sungkan naik ke atas kasurnya. Melihat Fiza memejamkan mata, Lemba kembali ke ruang perpustakaan bersama Rara. Tugas yang harus mereka selesaikan memakan waktu lama. Kesempatan itu di manfaatkan Fiza menggeledah kamar milik Lembayung. Dia melihat banyak barang mewah tersimpan pada setiap laci.


Kaca hias mewah di atasnya tersusun berbagai aksesoris cantik. Keperluan wanita lengkap tanpa kekurangan satupun. Di dalam pikiran Fiza, jika dia berencana menuduh Lembayung mencuri barang berharga miliknya maka banyak orang yang tidak akan percaya.

__ADS_1


Fiza melirik sebuah gelang putih terselip di dalam lembarang sebuah buku diary yang terkunci. Dia mencari kunci di setiap tempat, nakas , laci dan lemari pakaian. Menyadari kamar Lemba berantakan, dia menjerit histeri sambil mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


“Arghh tolong!”


Jeritan Fiza sangat keras, Rara dan Lemba berlari melihat Fiza berdiri di atas kasur.


“Ada apa Za?"


“Disana ada tikus besar!”


Insiden tikus palsu untuk menutupi gelagat Fiza mengacak-ngacak kamar Lema sukses membuat dia terlepas dari rasa curiga. Mbok Jum dan bi Tama bergotong royong mencari tikus yang di katakan Fiza. Sementara Fiza dan Rara bergegas berpamitan pulang. Buku diary milik Lemba berhasil dia bawa.


Mereka pulang di antar oleh pak Totok. Rasa tidak sabar Fiza untuk segera sampai di rumah membuka isi diary tersebut.


“Berani sekali kau mengambilnya bagaimana jika Lemba tau?” bisik Rara.


“Nggak akan.”


Kring___


Bunyi telepon rumah.


Panggilan pesan suara yang di tinggalkan.


Isi pesan pertama:


“Lemba sayang, hari ini ayah dan ibu ada lembur kerja di kantor. Kamu makan malam duluan ya.”


Isi pesan kedua:


“Kok nomor kamu nggak aktif sih. Apa kamu belum pulang sekolah?” Kinan.


Isi pesan ketiga:


“Lemba, hp kamu rusak atau gimana? Kenapa seharian nggak ada ngabarin aku?” Dendra.


Lembayung mengernyitkan dahi setelah membaca semua pesan itu. Berjalan kembali ke kamar yang sudah rapi. Dia mencari buku diary miliknya yang biasa dia simpan di dalam laci urutan pertama dekat meja rias. Dia berpikir setelah membersihkan kamar kemungkinan si mbok atau bi Tama memindahkan ke tempat lain. Perlahan dia membuka laci dan tempat lainnya tapi buku itu tidak di temukan di mana pun.


“Mbok dan bibi sewaktu merapikan kamar tadi lihat buku diary sampul merah nggak?” tanya Lembayung.

__ADS_1


“Seingat si mbok nggak ada buku seperti itu non.”


“Ya non, bibi juga nggakk lihat.”


__ADS_2