
Karena terlalu sibuk di dunia komunitas sepeda motor elit, dia jadi melupakan tanggung jawabnya sebagai anak sekolah. Setelah apel pagi, para siswa di perkenankan memasuki kelas masing-maisng kecuali siswa yang sudah di pilih guru piket untuk tetap tinggal di lapangan. Dendra berada diantara barisan para siswa berdiri menghadap bendera. Pemerikasaan sepatu berwarna, rambut siswa siswi yang gondrong, tali pinggang berwarna hingga atribut sekolah yang tidak lengkap.
Mereka hormat kepada sang kaka kala. Setelah berjam-jam berjemur seperti ikan rebus, mereka kembali ke kelasnya. Ada yang rambutnya di pangkas ala kadarnya, karena terlalu gondrong rambut anak laki-laki yang panjang di ratakan dengan gunting kecil. Ada yang kaki ayam, sepatu merek adi tahan di ruang piket sehingga mereka terpaksa berjalan tanpa alas kaki dan banyak lainnya.
Bagaimana dengan siswa atau siswi yang mengubah model seragam sekolah?
Celana panjang abu-abu itu seharusnya tidak kuncup dan ketat pada bagian mata kaki. JUga tidak terlalu pendek di atas mata kaki. Melihat penampilan celana yang aneh itu, guru piket memotong celana sampai di atas dengkul.
Dendra dan Zen masuk ke dalam kelas mereka. Tawa satu kelas melihat penampilan baru mereka setelah setelah pemeriksaaan. Di dalam hati Dendra sedikit lega, dia tidak satu kelas dengan lembayung sehingga aib sebesar ini tidak membuat turun harga dirinya di depannya. Namun, berbeda dengan Zen. Dia menanggung malu terutama di depan Lembayung. Karena tidak tahan, dia permisi berpura-pura sakit untuk menghindari penampilannya berbalik arah menuju ke ruangan UKS.
Bel istirahat berbunyi
“Lemba temenin aku ke UKS ya, kepala ku pusing banget!” ucap Arla.
“Yuk__”
Bu Berta sedang tidak hadir hari ini, Zen merasa bahagia karena dia tidak perlu berakting berpura-pura sakit di hadapannya. Tidur sepajang hari di dalam ruangan sambil menggoyangkan kaki. Tiba-tiba dia terkejut melihat kedatangan Lembayung dan Arla. Dia terpaksa menarik selimut untuk menutupi celananya. Berusaha memejamkan mata di sela keringat yang bercucuran akibat kepanasan.
“Eh itu ada si Zen, dia sepertinya lagi sakit” ucap Arla.
“Duh keringatnya banyak banget. Arla kamu duduk di kursi aja ya aku mau ambil obat dulu.”
Dia mengambil dua gelas air untuk Arla dan satunya lagi untuk Zen. Setelah memastikan Arla sudah minum obat dan berbaring di atas matras dekat tempat tidur, dia perlahan membangunkan Zen. Lemba mengambil tisu, dia mengusap keringat Zen yang terus menerus bercucuran.
“Zen bangun ayo minum obat” ucap Lembayung.
“Lemba, sejak kapan kamu ada disini?”
“Udah dari tadi, oh ya kamu udah sarapan belum?”
“Belum_”
Mengambil kesempatan di dalam kesempitan, Zen memanfaatkan situasi agar lebih dekat dengan sosok wanita yang dia sukai. Meskipun dia sangat gerah, semaksimal mungkin tetap menyembunyikan celananya yang combel kena razia pada pagi hari ini. Lemba membawakannya sebungkus roti, dia menyuapi Zen lalu memberikannya obat demam. Zen terpaksa menelan obat itu walau dia tidak saki sama sekali.
Glek, gluk__
__ADS_1
Sebutir obat demam dan sebutir vitamin, dia menelan sacara terpaksa. Wajah Lembayung terlihat cemas, setelah mengurusnya dia beranjak mengurus Alra yang berada di sisi kanannya. Tempat tidur matras itu tidak terdapat bantal dan selimut. Zen menyodorkan bantal miliknya.
“Ini buat kamu aja La.”
“Udah nggak apa-apa Zen.”
Zen menahan sesak, kepanasan di balik selimut tebal. Dia melirik Arla yang masih terlelap. Berpikir akan mati kepanasan di samping efek ngantuk setelah minum obat. Dia menghidupkan ponselnya memanggil pak Adih pengurus sekaligus pendamping yang sengaja di tugaskan ayahnya untuk menjaganya.
Pesan Whatsapp
Pak Adih, jemput saya sekarang juga dan bawakan celana panjang SMA.
Setelah sekian lama akhirnya Arla terbangun dan pergi dari ruang UKS. Beberapa menit kemudian pak Adih datang membawakan celana yang dia minta. Zen dengan cepat berganti lalu bergegas pergi.
“Untung saja aku nggak ketahuan Lembayung” gumamnya.
Dia terpaksa meninggalkan ranselnya di dalam kelas. Pada saat bel berbunyi Lemba mengambil tas Zen yang tertinggal. Di depan gerbang sekolah belum terlihat mobil ibunya yang menjemput. Sementara Dendra dari tadi berdiri di belakangnya berharap amarah Lemba reda padanya tetap menunggu memasang wajah yang memelas.
Melihat tas milik Zen yang berada di pundaknya membuat dia geram. Dendra hanya bisa mengumpat di dalam hati.
Sangat lama hingga langit mendung menurunkan hujan. Dendra mengambil paying dari dalam mobil, dia berdiri tepat di depan Lemba. Mencari dimana manik mata itu bisa menatapnya. Sejujurnya amarah Lemba karena tidak mau Dendra tetap terjun di dunia balapan yang membahayakan nyawanya.
“Kamu kalau masih marah sama aku biar aku berdiri di tengah jalan sambil teriak Lembayung, aku sayang kamu!” ucap Dendra sambil meletakkan gagang payung di tangannya.
“Lembayung, aku sayang kamu!” teriaknya.
Tingkah konyolnya itu di saksikan Tomi dan Bombom dari kejauhan sambil menggeleng kepala. Lembayung melongo mendengar ucapan Dendra. Ini di luar batas, takut penjaga sekolah mendengar sampai melihat mereka maka dia memayungi Dendra menarik menuju mobilnya.
“Ayo kita pulang.”
Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Terkadang Dendra menoleh melihat wajah Lemba. Sekujur tubuhnya masih basah kuyup, lelaki yang sedang di mabuk cinta itu cukup merasa bahagia karena Lemba mau duduk di sampingnya lagi.
“Kita pulang kan?” tanya Dendra.
“Kita ke rumah Zen mengantar tasnya”
__ADS_1
“Loh, rumah Zen kan berada di luar kota”
“Dendra!"
Mobil Dendra parkir di depan sebuah rumah mewah tingkat dua. Dari luar terlihat banyak para pekerja menoleh melihat kedatangan mereka. Salah satu pria berpakaian security yang berlari membukakan gerbang tadi menghampiri keduanya.
“Aden dan non cari siapa?”
“Kami cari Dendra pak” sahut Lembayung.
“Oh sebentar."
Dia masuk ke dalam rumah, terlihat seorang wanita yang berpakaian kebaya memakai tusuk konde berwarna emas terselip di dalam rambutnya yang di sanggul. Dia tersenyum melihat keduanya, membuka pintu lebar mempersilahkan masuk.
“Kalian cari Zen ya?”
“Iya bu, kami mau mengembalikan tasnya yang tertinggal. Hari ini dia sakit, seharian berada di ruang UKS” jawab Lemba.
“Panggil saja saya mbah”
“Ya mbah” jawab Dendra tersenyum.
Seorang pekerja membawakan dua gelas minuman. Pakaiannya selaras dengan para pekerja lainnya. Rumah yang sangat mewah, furniture yang eksklusif seperti yang ada di rumah Dendra si anak konglomerat.
“Mbok tolong panggilkan Zen ya di kamarnya.”
“Baik nya."
Zen turun memasang wajah menekuk, gerakan sedikit lemas. Dia duduk di dekat neneknya memperhatikan Lembayung tanpa berkedip.
“Cantik” gumamnya.
“Mbah kenalin teman-teman Zen.”
“Saya Lembayung mbah.”
__ADS_1
“Saya Dendra."