
Arena balapan sepeda motor ramai, kejuaran besar-besaran memperebutkan kemenangan agar tersemat gelar ketua geng bermotor nomor satu kecamatan. Tamu-tamu club yang hadir meramaikan suasana balapan. Di depan arena garis start Dendra mengegas sepeda motornya melirik para lawan yang tidak kalah tangguh. Zen mengundurkan diri melihat lawannya adalah Dendra, dia tidak mau dia menganggap dirinya menjadi musuh seperti peristiwa tempo lalu.
Perdamaian melayangkan semangat bendera merah putih. Zen memberikan helmnya ke pak Adih lalu berdiri menunggu Dendra berlomba di dalam arena balapan. Dering suara ponsel Zen tertulis nama Lembayung. Dia kegirangan kesenangan sampai meloncat berpikir wanita itu menelepon karena mencarinya.
“Akhirnya setelah sekian lama cinta ku terbalas kan!” gumam Zen menekan tombol hijau.
Di dalam panggilan suara
"Zen, kamu lihat Dendra nggak? Kinan lagi sekarat, aku mau minta temenin dia cari donor jantung, hiks"
Tutt---
"Den! Gawat!"
Dendra berlari ke dalam arena menahan Dendra yang akan melajukan kendaraan. Bunyi peluit dan sinyal pertandingan di mulai tertunda melihat kehadiran Zen yang merusak acara.
__ADS_1
“Hei awas lo!” pekik sosok pria berjaket hitam mengklakson panjang.
“Ndra gawat si Kinan lagi kritis, Lembayung minta temenin kamu mencari pendonor Jantung__”
Brumm, brumm_
Bendera di terbangkan,peluit di bunyikan seluruh peserta lomba melajukan kendaraan. Dendra ikut melaju hampir menabrak Zen yang masih di sampingnya. Dia adalah ketua geng club elit yang tidak mungkin mundur begitu saja dari arena. Sepanjang melewati garis-garis perlombaan, hati dan pikiran Dendra tidak tenang memikirkan Kinan sahabatnya dan cintanya pada si Lembayung yang sedang membutuhkannya.
Perasaannya belum terbalaskan hingga saat ini semua surat-surat cinta itu melayang begitu saja tanpa ada balasan. Pria berjaket hitam melajukan sepeda motornya sedikit lebih menempel ke sepeda motor Dendra. Terpaksa dia menjaga jarak agar tidak terjadi kecelakaan. Posisi pertama di jalur tikungan tajam itu di duduki oleh si pria berjaket hitam. Dendra yang tidak sabar segera mengakhiri pertandingan melaju kencang berhasil melewatinya.
Pertandingan itu berhenti tanpa ada pemenang. Zen melihat dari layar penonton bahwa pria yang sangat bersikap dingin tadi melakukan kecurangan. Dendra di larikan di Rumah Sakit, sepanjang perjalanan dia berharap sebelum menutup mata bisa melihat wajah Lembayung.
“Tahan ya Ndra, sebentar lagi kita sampai!”
“Zen, aku udah nggak sanggup lagi, Tolong rekam suara ku ini__”
__ADS_1
“Nggak Ndra, pertarungan kita belum selesai. Kamu harus jadi lawan ku yang paling tanggung untuk memperebutkan Lembayung!” ucap Zen panik.
“Tolong di rekam, aku__”
“Ndra!”
“Aku, uhuk. Aku Dendra dirgantara pada hari ini menyatakan telah bersedia mendonorkan jantung untuk Kinan Jatijaya. Aku mengatakan hal ini tanpa ada unsur paksaan sedikit pun lalu__”
Rekaman itu di simpan di handphone Zen di saksikan sekertarisnya pak Adih. Belum sampai ke Rumah sakit namun dia sudah pergi selamanya. Nafasnya terhenti, Dendra meninggal tepat sebelum menyatakan cintanya yang besar untuk lembayung.
“Dendra!”
Tepat di hari itu jantung Dendra di gunakan sebagai pendonor untuk Kinan. Operasi itu berjalan selama tiga jam lamanya.
“Siapa orang yang mendonorkan jantungnya? Dendra mana?” tanya Lembayung pada Zen.
__ADS_1