Cinta Benua Antartika

Cinta Benua Antartika
Bab 27


__ADS_3

Mereka mencium punggung tangan wanita itu dengan sopan. Si mbah mempersilahkan mereka duduk.


“Ini tas kamu Zen, kamu pulang sama siapa? Kok nggak kabari aku?” ucap Lemba.


“Maaf ya tadi sama Adih. Lain kali selalu dan selalu kabari kamu kok. Heh.”


“Apa? Selalu? Kalau nenek kamu nggak ada, aku jitak kamu Zen!” umpat Dendra.


“Makan dulu ya baru boleh pulang” ucap si mbah.


Di meja makan yang berukuran sangat panjang, tersedia beraneka macam makanan. Lemba duduk diantara Zen dan Dendra. Seolah Zen menggunakan kekuasaan di depan neneknya untuk lebih bisa mendekati Lembayung. Dia tidak memperdulikan lirikan mata Dendra yan melengos melihatnya.


“Lemba, makan yang banyak ya jangan sungkan” ucap Zen"


“Iya, anggap rumah sendiri, Lain kali Zen ajak Lemba main kesini ya nanti si mbah ajari Lembayung menyulam” ucap si mbah.


“Terimakasih Zen , mbah__”


Ucapan dari neneknya itu bagai angin segar sebagai kartu keberuntungan Zen membawa Lembayung berduaan ke rumah sang nenek.


Dia jadi senyum-senym sendiri terkadang duduk lebih dekat ke Lemba. Selesai makan mereka berpamitan pulang. Zen memberikan sebuah kotak berwarna merah muda untuk Lemba.


“Apa ini Zen?”


“Buka di rumah aja.”


“Makasih ya.”


Lemba melambaikan tangan ke si mbah. Melihat mobil mereka sudah pergi, mbah mengusap pelan punggung Zen.


“Lembayung itu anaknya manis dan baik.”


“Ya benar sekali mbah” jawab Zen sambil membayangkan wajahnya.


Tinggal bersama kedua orang tua atau tidak sama saja tidak ada bedanya bagi Zen. Dia tetap sendiri di dalam rumah besar dengan para pekerjannya. Kini dia memutuskan pindah sekolah dan tinggal bersama si mbah sambil mengejar cintanya yang belum terbalas pada Lembayung.


“Kalau kamu memang suka sama Lembayung, sekolah sungguh-sungguh. Nanti kalau sudah kerja yang tetap, Lembayung di bahagiain. Pesan si mbah, kamu jangan pernah main tangan ya sama perempuan” ucap si mbah memberikan nasehat.

__ADS_1


Memikirkan masa depan untuk Lembayung. Zen serasa seperti preman insyaf yang merubah diri berhenti dari tawuran antar sekolah yang dulu dia lakukan sebelum pindah. Terlebih lagi Zen mulai membiasakan diri menjadi seorang siswa yang teladan dengan mematuhi peraturan yang berlaku di sekolah. Si mbah banyak melihat perubahan pada diri Zen, mengetahui semua perubahn positif itu berasal dari Lembayung membuat dia semakin ingin dekat dengannya.


Pagi-pagi sekali si mbah sudah berdandan rapi, Zen tersedak sepotong roti yang baru saja dia lahap. Di dalam hati nya bergumam mau hendak kemana sang nenek?


Pakaian kebaya baru, warna tas dan riasan rambut yang senada dengan bajunya.


“Semua serba merah, si mbah mau kemana sih? Lipstiknya juga tumben merah banget!” gumamnya tanpa henti memperhatikan penampilan sang nenek dari atas hingga ke ujung kaki.


“Hari ini mbah nau ikut ke sekolah kamu sekalian lihat Lembayung, cucu angkat mbah”


“Ahahah..” tawa lepas Zen tidak tertahankan.


“Kenapa? Ada yang salah sama penampilan si mbah? Tunggu ya si mbah mau ganti sebentar saja.”


“Jangan mbak, sudah matching kok. Top!” ucap Zen mengacungkan jempol.


Menolak seorang nenek melihat cucunya belajar adalah cucu yang durhaka. Zen berusahan menjadi seorang pria yang baik. Di depan gerbang dia turun dari mobil menggandeng neneknya masuk. Para murid lain memperhatikannya. Dia berusaha menahan malu karena mambawa neneknya ke sekolah. Wajah Zen merah padam, dia meminta neneknya menunggu di meja piket.


“Si mbah yakin nunggu Zen sampai bel pulang? Kalau nggak nanti mbah balik jemput Zen lagi ya”


“Zen akan datang bawa Lembayung, tapi mbah janji pulang ya__”


Tok, tok, tok.


Suasana kelas yang hening, pada pelajaran pertama Frau Turnip tampak menerangkan materi pelajaran di papan tulis. Zen memberanikan diri membungkukkan badan menghadapnya. Dia terkenal guru yang kejam, menyadari Lemba memperhatikannya dari kursinya dia berharap Frau tidak memarahinya.


“Permisi Frau. Lembayung di panggil neneknya di piket”


“Apa? Nenek? Bukannya nenek Lembayung sudah meninggal tahun lalu?” gumam Arla.


“Stthh, Lemba. Nenek kamu bangkit dari kubur?” bisik Arla membolangkan mata.


“Apaan sih.”


“Lembayung, kamu boleh keluar. Nenek kamu menunggu di piket” ucap Frau.


“Ya Frau terimakasih, saya permisi.”

__ADS_1


“Saya juga permisi Frau” ucap Zen.


Mereka berdua menuju piket. Si mbah berdiri memeluk Lembayung, pelukan sangat erat hingga mata si mbah berkedip memberi kode ke Zen. Di usianya yang sudah melewati setengah abad seolah darah muda si mbah kembali menggelora. Kedipan mata si mbah masih menjadi tanda tanya di benak Zen.


“Nanti pulang sekolah kamu sama Zen temenin si mbah ke mall ya. Si mbah mau beli perlengkapan kosmetik, sudah lama si mbah nggak pakai make up berhubung besok ada arisan di rumah. Kamu mau kan temenin si mbah?”


“Ma_mau mbah. Tapi Lemba nggak bisa lama. Mau jenguk Kinan di Rumah Sakit.”


“Sebentar aja kok, jangan lupa ya nanti Zen yang jemput” ucap si mbah mengulang dua kali memastikan dia mengingatnya.


......................


Dendra sudah bersiap menjemput di serobot Zen membuka pintu mobil mempersilahkan Lemba masuk. Dia duduk tepat di sampingnya.


“Ndra hari ini aku pulang bareng Zen ya.”


“Bye Ndra” ucap Zen.


Dia menggerakkan mulut tanpa suara ke arah Dendra yang masih mematung melihat mereka.


“Lembayung milik aku!”


Dia membuntuti mobil Zen dari kejauhan, Dia melihat mobilnya berhenti di depan rumahnya lalu si mbah masuk duduk di kursi depan.


“Aku tidak menyangka kalau Zen memanfaatkan nenek-nenek untuk mendekati lembayung. Licik sekali” gumam Dendra.


Tetap memastikan bahwa Lembayung aman, dia masih mengikuti segala gerak gerik mereka. Dia ikut turun ke dalam mall. Menyamar menggunakan kaca mata hitam, jaket berbulu dan wig berwarna kuning. Dia melihat si mbah bersama Lemba sibuk memilih kosmetik.


Dua tas kosmetik berukuran kecil dan satu paket pelembab bibir yang di belikan si mbah untuk lemba. Mereka meneruskan langkah menuju ke toko pakaian. Zen berdiri di samping lemba, si mbak kembali memberi kode kedipan mata. Dia mengusap kepalanya, meminta Lemba memilih kan kain bersama Zen.


“Kepala si mbah tiba-tiba pusing, kalian teruskan belanjanya ya pilihkan yang cocok untuk si mbah” ucap si mbah pergi bersama pak Adih menuju ke parkiran mobil.


“Berarti aku jago akting menurun dari si mbah. Sekarang bisa berduaan dengan Lemba karena rencana si mbah berjalan lancar” gumam Zen.


Simbah kembali ke rumah meninggalkan mereka di mall. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15:00 WIB. Lembayung meminta ijin pergi ke rumah sakit.


“Kita pergi sama ya.”

__ADS_1


__ADS_2