
Wahai lembayung , indah sinar memancarkan cahaya penyemangat di sisa umurku
Semoga kita bersama lagi di kehidupan selanjutnya
Senyum dan hadir bagai kelopak bunga yang menyejukkan mata
Kerinduan ku tiada batas seperti perasaan ini utuh untuk mu
...🍁🍁🍁...
Kinan menjalani pengobatan secara intensif. Setiap orang yang datang menjenguk wajib mengenakan sarung tangan dan masker. Di dalam ruangan yang besar kelas VIP lengkap dengan segala macam keperluan alat medis. Ada dua suster yang siap siaga merawatnya secara bergantian satu kali dua puluh empat jam selama masa kemoterapi.
Siang ini Lemba sendirian pergi ke Rumah sakit. Ayah dan ibunya sedang berada di acara perjamuan bersama para staf di kantornya. Melihat Kinan berduaan dengan suster yang tampak sibuk menyeka tubuhnya, dia melirik tajam perlahan membuka lebar pintu.
“Uhuk, uhuk” Batuk Lemba terdengar berpura-pura.
“Kalau kamu lagi sakit jangan memaksakan diri datang kesini” ucap Kinan.
“Maaf mbak, pengunjung yang sedang sakit tidak di perbolehkan menjenguk pasien” ucap suster.
Dia meletakkan wadah tempat kain basah beranjak mendorong Lemba keluar ruangan.
“Saya nggak sakit sus, tadi tersedak makanan saja. Oh iya sini biar saya yang mengambil alih tugas suster, saya adik pasien.”
Mendengar perkataaannya suster itu langsung pamit pergi memberikan waktu jam membesuk. Lemba meraih wadah yang berisi handuk basah. Menyentuh airnya terasa sangat dingin, dia mengganti air tersebut. Menuang sedikit air panas dan dingin dari dispenser.
“Sini punggungnya biar aku lanjutin kerja suster tadi” ucap Lemba.
“Nggak usah, udah ntar kamu capek” tolak Kinan.
Wajahnya menunjukkan ketidaksetujuan. Tubuhnya bersandar lalu tersenyum berharap Lemba tidak cemberut.
“Udah dong, senyum mu adalah pengobat ku. Asik..”
Plag__
Pukulan kecil mendarat di pundaknya.
__ADS_1
“Sakit!” rengek Kinan.
“Sini deketin telinganya biar aku jewer! Sama perawat mau di elus, sama sahabatnya sendiri ogah!”
“Elus apa? Suter itu kan Cuma__”
Kinan menekan kepalanya, pembicaraan itu terhenti. Lemba buru-buru membantunya berbaring. Merapikan kembali selimut, memastikan jarum infus dan selaga selang kecil kecil yang menempel di anggota tubuhnya tidak terlepas satupun.
Semalam kedua suster yang berjaga melihat Lemba tertidur di kursi dekat tempat tidur Kinan. Para suster tidak berani membangunkan, kedua suster itu meninggalkan mereka. Tepat di tengah malam, Kinan merasakan jantungnya sangat sakit bagai tersayat pisau.
Dia mengatur nafas, tangan akan menekan alat khusus panggilan suster namun dia urungkan melihat Lemba di sampingnya. Kinan mengusap pelan rambutnya, lalu menggenggam erat tangannya. Karena tidak tahan menahan rasa sakit, dia tidak sadar menggenggam tangan Lemba sangat kuat.
Lemba terbangun merasakan genggaman tangan Kinan. Dia bergerak memeluknya lalu memejamkan mata kembali.
“Lemba, maafkan aku tidak bisa menemani mu selamanya” bisik Kinan.
Dia mendengar Kinan fasih mengatakannya. Lemba menangis semakin memeluk tubuhnya kemudian melihat wajah Kinan yang ternyata dari tadi menatap pandangan sayu.
“Jangan menangis, kamu kan udah janji sama ku harus jadi wanita kuat” ucap Kinan.
Semalam panjang berada di sisi Kinan. Dia tidak pergi meninggalkan kursi ya yang dia duduki hingga menjelang sang fajar, Dendra datang sangat terkejut melihat keduanya. Beberapa menit berlalu, Kinan terbangun melihat kehadiran Dendra berdiri mematung menatapnya. Agar suasana tidak canggung, Kinan tersenyum melambaikan tangan.
“Apaan sih kamu Dra?” ucapnya lalu mendorong tubuh keduanya.
“Aku kan juga mau jadi Teletubies yang selalu berpelukan kalau ketemu”
“Nggak mau dan nggak boleh” bantah lembayung sambil mengikat rambutnya yang kusut.
“Kinan boleh kok aku nggak?”
“Kinan juga nggak boleh. Tadi malam mimpi buruk jadi nggak sadar gitu” jawab Lemba mencari alasan.
“Kok kamu datangnya pagi-pagi sekali Dra?”
“Aku minta ijin nggak masuk Nan, aku khawatir banget sama keadaan mu.”
Dua suster meminta Dendra dan Lembayung menunggu di luar. Kinan harus menjalani masa perawatan. Lemba menoleh melihat Kinan sebelum keluar, dia sangat khawatir dan gusar.
__ADS_1
“Ayo, kamu mau lihat Kinan cepat sembuh kan?” ucap Dendra menarik tangannya.
Kemoterapi dan perawatan Kinan terbilang cukup lama. Di sela menunggu, Dendra mengantarkan Lemba pulang untuk mengganti pakaiannya. Sesampai di depan rumah, biasanya bu Sora menyambutnya. Tapi rumah sangat sepi, Lemba membuka pintu lalu meminta Dendra menunggunya di ruang tamu.
“Ayah dan ibu kamu kemana?”
“Belum pulang, kemarin katanya pergi ke acara perjamuan. Tapi ternyata sampai saat ini belum pulang juga, kalau tadi malam aku nggak sengaja ketiduran di Rumah Sakit mungkin aku tidur di rumah sendirian” ucap Lembayung sambil menghela nafas panjang.
“Pokoknya kalau ada apa-apa atau hal mencurigakan cepat panggil aku ya.”
......................
Selesai menunggu Lembayung, mereka keluar rumah melanjutkan rute perjalanan singgah ke salah satu rumah makan yang berada di dekat perumahan. Perut Lemba kerocongan dari semalam menahan lapar hingga pagi. Meski cacing di dalam perutnya sudah bernyanyi, dia tampak tidak berselera menelan lauk pauk yang di hidangkan.
“Kamu makannya dikit banget, ntar sakit loh” ucap Dendra.
“Nggak selera nih__"
Dendra memaksa agar dia menghabisi makanan. Dia juga tidak mengijinkan Lemba minum minuman dingin. Melihat rasa kekhawatiran Dendra, Lemba tersenyum menarik hidungnya.
“Kamu sekarang udah sebelas dua belas seperti si tuan bawel urutan ketiga deh Ndra.”
Dendra memaksa dia menghabisi makanan sampai Lemba terpaksa menurutinya di tengah ancaman tidak akan mengantarnya kembali ke Rumah Sakit.
“Jadi kalau kamu sakit pasti aku juga yang repot.”
Melajukan kendaraan melihat Kinan, tampak raut wajahnya semakin layu. Di terkulai lemas berbaring seperti orang tidak berdaya. Lembayung menahan tangisannya yang mau pecah. Dia tidak tega melihat Kinan kesakitan. Tiga serangkai itu bercengkrama dengan bersenda gurau. Lemba dan Dendra berusaha mengalihkan rasa sakit yang menyerang tubuh Kinan. Ketiganya tertawa sampai melewati jam delapan malam.
“Kita malam ini nginap disini yuk” ajak Dendra.
“Aku pamit menelepon ke ibu ku ya."
Lemba keluar ruangan, dia duduk di kursi bagian depan memanggil nomor ibunya. Di sisi lain, Kinan dan Dendra sedang membicarakan hal serius. Sebuah rahasia yang hanya mereka dua ketahui. Keduanya saling mengalah membahas mengenai Bulan yang saling mengalah akan perasaan mereka padanya.
“Dendra, jangan bahas lagi tentang hal rumit ini. Sejujurnya aku ingin yang terbaik untuk Lembayung, kau yang lebih pantas bersamanya. Umurku tinggal hitungan jari.”
“Kinan kau jangan pesimis gitu. Aku mau bertanding secara sehat, aku tidak mau dia mencintai ku dengan unsur keterpaksaan.”
__ADS_1
Melihat Lemba masuk ke dalam, mereka secepatnya mengalihkan pembicaraan.