
Eiden dan beberapa pengawalnya termasuk Mark berhasil menyelinap di tempat Atreya diculik. Mereka berpencar, Eiden pergi seorang diri mencari keberadaan Atreya.
Begitu juga Mark dan dua pengawal yang ikut dengannya. Tak disangka mereka malah masuk ke ruangan tempat Frank dan Leon berada.
"Tidak kusangka mangsa datang sendiri, aku sudah lama tidak minum darah vampir lain," Franki menggerakkan jari-jarinya.
"Kita harus mengulur segera membereskan mereka, sekarang ini tuan Bernard belum datang," Leon berbisik kepada Frank.
"Kau benar, dia tidak akan memaafkan kita jika kali ini gagal,"
"Kenapa kau tidak mengeluarkan kemampuanmu untuk merubah mereka menjadi zombi? ini sangat merepotkan," Leon menoleh pada Frank.
"Aku perlu waktu untuk memulihkan kekuatanku, kau pikir mudah mengeluarkannya lagi setelah digunakan pada para pelayan di rumah itu?" Frank ikut berbisik-bisik dengan nada kesalnya.
"Berhati-hatilah! aku punya firasat mereka memiliki kekuatan tersembunyi yang berbahaya," Mark memperingatkan.
"Aku juga merasakannya, salah satu dari mereka mungkin bisa mengubah vampir menjadi vampir zombi," sahut salah seorang diantara mereka.
"Sepertinya kita kurang beruntung," ucap yang lainnya.
"Kalau begitu kau mundurlah dulu, mereka juga bukan vampir rendahan," Leon menyuruh Frank menyingkir.
"Meski tidak bisa menggunakan keahlian khusus, tapi aku adalah murid dari komandan tempur terkuat di bagian utara, aku adalah petarung yang handal," ucapnya percaya diri.
"Terserah kau saja, dan jika kau celaka jangan bilang aku tidak memperingatkanmu!" Leon menjawabnya dengan nada meremehkan.
"Cih..jangan meremehkanku,"
__ADS_1
Frank menyerang dengan tiba-tiba, untunglah Mark dan yang lainnya bisa menghindari serangan itu. Tapi serangan Frank tidak sampai di situ saja, dia menggerakkan pisaunya dengan lihai, mengarahkannya pada salah satu pengawal Eiden. Sementara Leon langsung menargetkan Mark karena dia tahu strategi tempurnya.
'Siapa mereka sebenarnya, dia bahkan dapat mengantisipasi seranganku dengan baik." Mark terdesak, tapi mereka sama-sama terluka. Meskipun terdesak dalam kondisi apapun, Mark tetap bisa mengatasinya. Itulah kenapa Eiden memilihnya menjadi tangan kanannya. Pertarungan mereka berlangsung sengit hingga keadaan berbalik.
Leon tersungkur dalam keadaan terluka parah meski topengnya tidak terlepas. Tapi Mark merasa janggal karena sampai saat ini penjaga di luar tidak datang membantu mereka berdua.
"Hahaha... " Leon tertawa kecil.
"Apa yang kau tertawakan?" Mark tetap waspada.
"Yah.. karena sudah seperti ini sepertinya bala bantuan sudah harus datang," Leon menjentikkan jari kanannya dan beberapa vampir datang, tapi tatapan mereka kosong dan pergerakan mereka seperti dikendalikan seseorang.
'Vampir zombi, sudah kuduga dia pasti merencanakan sesuatu,' mereka adalah penjaga yang berjaga di setiap pintu masuk. Kekuatan Frank telah pulih dan mengubah vampir di sekitarnya yang memiliki level menengah ke bawah berubah menjadi vampir zombi.
Di tempat itu vampir yang berada di level menengah ke atas adalah Eiden, Mark, Jonathan, Leon dan Frank. Karena berada di level yang rendah, kedua pengawal Eiden berubah menjadi zombi.
"Kuharap tuan Eiden segera menemukan nona Atreya, jika tidak keadaan akan menjadi lebih rumit, Sial! aku ingin sekali meratakan tempat ini." Mark ahli dalam tehnik dan pembuatan bahan peledak, suatu keahlian yang hanya dia dan Eideb yang tahu.
Tentu saja saat ini dia sudah mempersiapkannya, tapi dia harus menunggu sampai Eiden berhasil menemukan Atreya.
"Atreya, di mana kau?" Eiden berlari mencari di setiap ruangan, sampai akhirnya dia menemukan pintu yang dikunci. Diapun membuka paksa pintu itu dengan kekuatannya.
Brakk...
Pintu terbuka, Eiden masuk dan mendapati Atreya yang berdiri menghadapnya dengan tatapan kosong.
"Atreya kau..." Eiden terkejut Atreya mendekati Eiden, tatapan matanya kosong namun menunjukkan rasa haus yang besar, gigi taringnya juga muncul.
__ADS_1
"Kumohon... tolong aku!" dia bersiap untuk menghisap darah Eiden tapi bisa dilihat bahwa dia berusaha menahannya.
Dalam keadaan setengah sadar itu dia berdiri tepat di hadapan Eiden.
"Atreya aku tahu akulah yang membuatmu menjadi seperti ini," dia membelai pipi Atreya.
"Tapi jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab untuk itu," Eiden membuka satu kancing baju teratasnya, mendekatkan dirinya pada Atreya.
Atreya dapat mencium aroma darah yang begitu menggoda baginya. Dia langsung menggigit leher Eiden.
Tapi tidak berlangsung lama karena dia segera sadar, dia terkejut dan segera melepaskan Eiden.
"Maaf, aku tidak bermaksud..." belum sempat menyelesaikan perkataannya Eiden telah menyatukan bibir mereka. Keterjutannya bertambah, namun dia juga tidak bisa melepaskan diri darinya.
Ciuman Eiden begitu mendominasi dan menuntun, membuatnya terlena oleh buaian lembut yang masuk ke dalam mulutnya. Lidah Eiden mengekspos mulut Atreya, memaksanya untuk membalas. Dan pada akhirnya Atreya tidak dapat menolak dan mengikuti gerakan lidah Eiden.
Mereka berdua menikmati ciuman itu, sesekali Eiden menggigit bibir Atreya dan berhenti untuk memberi kesempatan agar Atreya bernafas lalu melanjutkannya kembali. Seakan tersihir, Atreya mengikuti permainan Eiden.
Hingga tangan Eiden mulai memasuki bajunya, dan Atreya segera melepaskan pagutan bibir mereka.
"Hah.. hah.. hah.. " Atreya terengah-engah, selama ini dia tidak pernah berciuman dengan siapapun. Semenjak Eiden pertama kali menciumnya, dia seolah terbiasa dengan ciumannya.
"Ini balasan karena membuatku khawatir, untuk masalah ini kau harus memberiku hadiah yang lebih besar," Eiden menatap dalam kedua bola mata Atreya dan tersenyum penuh arti.
Atreya salah tingkah, pipinya memerah semerah tomat yang membuatnya terlihat menggemaskan.
"Ap.. apa maksudmu, jangan keterlaluan!" dia memalingkan wajahnya dari Eiden.
__ADS_1