Cinta Dalam Perubahan

Cinta Dalam Perubahan
Chapter 31


__ADS_3

Atreya sampai di depan kantor Reza dengan membawa berkas yang telah ia siapkan.


Setiap pagi dia selalu memperhatikan perusahaan ini, kantor tempat magangnya yang dulu tidak jauh dari perusahaan Reza juga berseberangan dari kampusnya. Setiap kali berangkat dia selalu melewati perusahaannya. Meskipun Reza selalu mengawasinya tapi Atreya bekerja lebih keras sehingga mendapat kesempatan untuk magang lebih awal, dan kebetulan perusahaan tempatnya magang juga bersebrangan dengan sekolahnya sehingga dia bisa lolos dari pengawasan kakaknya.


Hari ini perusahaan Reza melakukan wawancara pada pelamar kerja yang akan melakukan interview untuk karyawan tetap. Reza tidak menyangka kalau Atreya akan ikut serta.


Sebenarnya dia telah menyiapkan tempat bagi Atreya untuk melakukan magang di perusahaanya, tapi Atreya tahu kalau itu adalah langkah awal agar dirinya masuk ke perusahaan kakaknya. Jadi Atreya memutuskan untuk langsung masuk sebagai karyawan tetap, dia tidak ingin dianggap memakai jalan belakang.


"Biar bagaimanapun aku telah berusaha keras untuk hari ini," Atreya berusaha mengatur ritme detak jantungnya yang seperti ingin lari maraton.


Atreya memasuki perusahaan itu, sepertinya tidak ada yang mengenalinya.


Dulu Reza pernah mengajaknya kemari, tapi karena penampilannya berbeda dengan yang dulu, munhkin para karyawan juga tidak memperhatikannya.


Ruang tunggu untuk interview telah dipenuhi banyak orang, Atreya bisa membedakan apakah mereka vampir atau manusia, tapi sebagian besar adalah manusia. Tampak seorang perempuan yang mendekatinya,


"Hai... namaku Neta, " dia tersenyum sembari mengulurkan tangannya. Dia gadis yang cantik, rambutnya hitam bergelombang, dengan kulit putih dan pakaian yang dikenakannya. Meski berpenampilan sederhana sangat jelas bahwa dia adalah orang kaya, tapi kenapa dia melamar kerja di sini?


Atreya menyambut uluran tangan itu,


"Aku Atreya, senang berkenalan denganmu," perempuan itupun duduk di sampingnya. Dia terlihat menghirup dalam-dalam.


"Aku tahu kita sama, tapi baumu lezat sekali,"


"Hah!!! "ucapannya membuat Atreya bergidik ngeri, sebelumnya dia belum pernah sedekat ini dengan vampir lain selain Reza, Eiden dan Parvis. Bahkan hanya Eiden yang berani menggigitnya.


"Tenang saja aku tidak akan menyakitimu, sepertinya kau baru karena aku belum pernah mencium bau sepertimu," Neta mengatakannya secara terang-terangan.


"I.. iya belum lama ini, aku masih beradaptasi," Atreya tersenyum kaku.


"Atreya Shaquellia!"


Namanya dipanggil, kali ini gilirannya untuk interview.


"Ah..maaf, aku masuk dulu,"


"Baiklah, semoga berhasil!"


Setelah Atreya masuk dia duduk di depan karyawan yang ditugaskan melakukan interview, semuanya berjumlah empat orang tiga laki-laki dan seorang perempuan, sepertinya salah satu diantara mereka adalah salah satu petinggi di perusahaan ini. Tapi Atreya masih belum menyadari bahwa Reza juga ada di sana.


"Atreya Shaquellia, jadi kau telah lulus dari masa magangmu dan memutuskan untuk bekerja di sini?" suara yang tak asing baginya, dia segera mencari asal suara itu. Benar saja, Reza duduk di kursi ujung kanan. Atreya tidak memperhatikannya.


'Tamatlah riwayatku, apa secepat ini aku akan ketahuan?' dia mencengkeram ujung bajunya.


"Benar," dia berusaha tetap tenang, usaha kerasnya kali ini tidak boleh sia-sia.


Mereka menanyai satu per satu memberikan pertanyaan kepada Atreya dan dia berhasil menjawabnya. Mereka mulai berdiskusi, sementara Atreya menunggu jawaban mereka dan dia yakin pasti dia akan berhasil.

__ADS_1


"Kau boleh keluar, kami akan memanggilmu setelah hasilnya keluar!" ucap salah seorang diantara mereka.


"Terima kasih," Atreya berdiri lalu keluar dari ruangan itu.


"Sepertinya kinerjanya bagus dia memiliki kualitas, apa kita akan menempatkannya sebagai agen pemasaran?" perempuan itu memberi saran.


"Itu sudah sepantasnya, tapi mungkin kita bisa memberinya posisi yang lebih tinggi supaya dia lebih berusaha," ucap seorang pria yang ada di dekatnya.


Reza sudah menduganya, Rey pasti akan berfikir seperti itu.


"Apa maumu Rey! dia karyawan yang baru saja diterima, dan kau memutuskan seenaknya," perempuan itu tidak terima.


"Yang dikatakan Rey benar kita bisa mencobanya," seorang lagi ikut menimpali.


Melihat kesempatan ini Reza tak membuang-buang kesempatannya.


"Kalau begitu aku akan memasukkannya sebagai sekretarisku,"


Semua orang tertuju padanya,


"Apa anda yakin tuan?"


"Ya, kita perlu mencobanya lagipula kita memiliki cara jika dia tidak bisa bekerja dengan baik,"


Mereka tampak berfikir.


"Yah... mungkin terdengar gegabah tapi patut dicoba,"


"Kalau begitu aku ikut saja," perempuan itu mengangkat tangannya.


Reza tersenyum puas semua berjalan lancar, padahal dia sangat khawatir Atreya akan gagal sehingga dia telah menyiapkan persiapan, dan Parvis ikut kerepotan menghadapi kekhawatiran Reza.


Tapi sekarang entah adiknya yang beruntung atau memang ini hasil kerja kerasnya.


"Kau berhasil?" Neta menunggu Atreya di tempatnya tadi.


"Ya, mereka menyuruhku menunggu hasilnya,"


"Syukurlah, aku ikut senang," dia tampak polos tapi tetap saja Atreya waspada padanya, apalagi setelah apa yang dikatakan perempuan itu tadi.


"Elena Arnetta!"


"Itu panggilan untukku, aku akan masuk dulu,"


"Semoga berhasil!"


Neta masuk ruang interview.

__ADS_1


"Hmm... sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi di mana ya?" dia tidak asing dengan nama itu.


Sesampainya di dalam, Reza terkejut dengan kedatangannya tapi Neta hanya melemparkan senyuman padanya.


'Bagaimana bisa dia, apa dia juga berencana bekerja di sini?' Reza mengusap kasar wajahnya.


Neta keluar, dan dia mencari keberadaan Atreya.


"Di sini kau rupanya!" Atreya berpindah tempat duduk, dia terkejut ketika Neta tiba-tiba duduk di sampingnya.


"Huff... kau ternyata!" Atreya memegang dadanya.


"Apa kau terkejut? seharusnya kau tetap duduk di sana agar aku tidak repot mencarimu!" dari ucapannya menunjukkan bahwa dia kesal.


"Maaf, aku hanya mencari tempat yang nyaman," jujur saja Atreya tidak terlalu tahan dengan bau darah di sekelilingnya.


"Jadi, apa kau diterima?" Atreya langsung mengubah topik pembicaraan mereka.


"Ahh... aku hampir lupa tujuanku mencarimu, kau beruntung kita akan bekerja di kantor yang sama!" ucapnya semangat.


"Baguslah kalau begitu,"


"Kita harus merayakannya! bagaimana kalau makan di restoran kakakku, aku akan mentraktirmu!"


"Itu sangat bagus, tapi bukankah kita harus menunggu?" Atreya masih menunggu keputusan di mana dia akan ditempatkan.


"Tidak, aku sudah selesai,"


"Benarkah! kau masuk di difisi mana?"


"Yah..manajer pemasaran, apa mereka belum menentukan posisi untukmu?"


"Iya, kenapa mereka melakukan itu," Atreya agak kecewa, 'Apa kakak menolakku bekerja karena tidak menuruti ucapannya?'


"Mereka belum menentukan posisi untukmu, bukan berarti kau tidak diterima," Neta memberi semangat pada Atreya.


"Kau benar, aku akan tetap menunggu di sini,"


"Kalau begitu aku akan menemanimu,"


"Apa? tidak perlu, kau pasti punya urusan yang lebih penting, kan?"


"Tidak, aku memutuskan untuk liburan,"


"Hah???"


Atreya tidak dapat menyangkal gadis ini, dia terlihat seperti gadis polos yang hanya mengatakan apa yang ingin dia katakan. Terlebih lagi mereka baru saja bertemu dan gadis ini berbicara seperti sudah lama mengenalnya.

__ADS_1


__ADS_2