Cinta Dalam Perubahan

Cinta Dalam Perubahan
Chapter 43


__ADS_3

"Kukira cukup sampai di sini, besok kita akan melakukan peran masing-masing," Reza menutup pertemuan kali ini. Atreya bergegas kembali ke kamar sebelum Reza mengetahuinya.


Mark, Reza dan Parvis keluar bersama, tapi Eiden malah membuka jendela. Tidak ada yang menyadari sebelum Parvis bertanya.


"Di mana tuan Eiden?"


Reza tidak menjawab karena dia sudah tahu jawabannya, sedangkan Mark sudah bisa menebak ke mana Eiden pergi.


"Biarkan saja! dia pasti akan menemuinya, memang tidak bisa dipercaya," Mark mendengus kesal, tapi Parvis malah terlihat bingung.


"Kau tidak menghentikannya?" dia menatap ke arah Reza.


"Tidak perlu, asalkan dia tidak berani macam-macam,"


"Kalau begitu kau sudah merestui mereka?" Mark tampak antusias. Akhirnya dia tidak perlu melihat kegilaan tuannya saat tidak bisa bertemu dengan gadis pujaannya.


Reza melemparkan tatapan membunuh kepada Mark, "Kenapa kau begitu memperdulikan mereka?"


"Atau mungkin tidak!" Mark segera mengganti kata-katanya.


Eiden mencari Atreya ke kamar tapi dia tidak menemukannya di sana, dia pergi ke tempat lain. Langkahnya terhenti ketika melihat cahaya bulan yang terpantul dari kolam di taman belakang. Instingnya menuntunnya ke sana, dan benar saja dia menemukan Atreya duduk di pinggir kolam taman belakang.


"Sangat indah," sejenak dia terpesona melihat kecantikan gadis pujaannya. Rambut panjang yang tergerai sesekali tertiup angin yang berhembus pelan, ia pun harus menyibak rambut yang mengikuti alunan angin karena menutupi wajahnya. Wajah cantiknya merunduk memandangi dirinya di dalam air, melihat seperti apakah dirinya saat ini.


"Terus melihat ke sana tidak akan merubah apapun," Atreya terkejut mendengar suara Eiden yang ternyata sudah berada di belakangnya.


"Kau! sejak kapan kau di sini?" dia pikir Eiden sudah pulang setelah dia mendengar Reza membubarkan pertemuan mereka.


"Apa kau tidak mempersilahkanku duduk terlebih dulu?"


"Di sini tidak ada tempat duduk! jika ingin duduk kembalilah ke dalam!" jawabnya kesal.

__ADS_1


Eiden tidak menghiraukan Atreya, dia malah mengambil posisi duduk di sampingnya.


"Kenapa kau masih di sini?"


"Angin malam tidak baik," Eiden melepas baju hangatnya lalu memakaikannya pada Atreya,


"Aku sedang menemanimu kau ini seorang gadis! mana boleh sendirian larut malam begini," ucapnya lembut.


Atreya benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya, waktu mereka bertemu di restoran beberapa hari lalu dia bersikap cuek, dan sekarang sengaja menemuinya hanya untuk menemani duduk di taman larut malam, bahkan tanpa kursi.


"Kau tidak perlu melakukannya, ini adalah rumahku sendiri! tidak akan ada yang akan mencelakaiku," Atreya berusaha melepas baju hangat yang diberikan Eiden, tapi Eiden mendekapnya dalam pelukan. Saat itu angin bertiup semakin kencang dan waktu sudah menunjukkan dini hari, hawa dingin pun semakin menusuk sampai ke tulang. Atreya tersipu.


"Kau!!" tapi dia tetap berusaha memberontak.


"Shttt... jangan banyak bergerak, aku tidak akan terpengaruh karena aku seorang vampir, tapi bagimu yang baru menginjak fase awal tidak akan bisa menahannya," ucapnya seraya mempererat dekapannya.


Musim dingin hampir tiba, kepingan salju sesekali lolos dari balik awan. Tidak terlalu lebat tapi terlihat indah.


Mereka berdua menyaksikan kepingan salju yang mendarat di atas kolam, menghilang bercampur dengan air.


"Jangan takut! aku akan melindungimu dan tidak akan membiarkanmu sendirian menghadapinya,"


Atreya mendongakkan kepalanya, " Kalau begitu berjanjilah padaku!" ucapnya seraya menunjukkan jari kelingkingnya.


"Apa kau seorang anak kecil, untuk apa melakukan hal kekanakan seperti itu?" Eiden berusaha menahan tawanya, meski kekanak-kanakan Atreya terlihat sangat menggemaskan dengan tingkahnya saat ini.


"Huh! kau pembohong!" untuk sesaat dia terharu dengan ucapan Eiden, tapi perasaan itu hilang setelah beberapa kata yang dia ucapkan. Atreya mendorong Eiden agar menjauh darinya tapi tentu saja Eiden tidak membiarkannya. Dia kembali membujuk Atreya.


"Kau tidak perlu menyuruhku berjanji, aku yang akan datang membawa janji itu padamu," Eiden mengucapkannya dengan hati-hati dan penuh ketulusan, dia tidak bisa menahan untuk tidak menggoda Atreya tapi dia tahu gadis pujaannya itu sedang dalam dilema besar. Kini saatnya dia serius.


"Aku tahu kau mendengar semuanya," setelah apa yang dedengarnya tadi dan saat ini air mata pun tidak lagi bisa dibendung. Atreya menangis di pelukan Eiden.

__ADS_1


Dia tidak bisa mengatakan kepada siapapun betapa takutnya dia menghadapi hari esok, saat matahari terbit dia merasa bahwa hidupnya tidak akan lama.


"Kenapa semua ini harus terjadi padaku, hiks.. hiks.. "


dia memukul dada Eiden, "Apakah aku tidak berhak berada di dunia ini, hiks.. hiks.." tanpa diberitahu pun Eiden bisa merasakan rasa sakit yang belum pernah ia rasakan. Tidak tahu bagaimana menghibur ia hanya bisa mendekapnya, berharap meringankan sakit yang dirasakan.


Eiden pernah mendengar ayahnya berkata bahwa perempuan memiliki hati yang begitu lembut, oleh sebab itu berhati-hatilah menghadapinya dan kali ini gadis yang dicintainya menangis dalam dekapannya. Selama ini yang dihadapinya adalah perang baik pertumpahan darah atau perang dalam bisnis, dia tidak pernah tahu bagaimana cara menenangkan gadis yang menangis. Jadi Eiden menunggunya sampai ia puas menumpahkan air matanya dan bicara empat mata.


Tangis Atreya mulai reda, Eiden melepaskan pelukannya dan menghapus jejak air mata di pipinya.


"Kau hanya perlu bertahan dan percaya padaku juga kakakmu, kami tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu,"


"Hmm," Atreya menjawabnya dengan lesu, sepertinya dia kelelahan setelah menangis tadi.


"Kau juga mendengarnya kan? kami sudah punya rencana," Eiden terus membujuknya. 'Tidak kusangka membujuk orang menangis akan sesulit ini, jika dia seorang tawanan aku hanya perlu menggertaknya dan dia akan diam,'


"Lalu kenapa kau tidak menghentikanku?"


"Apa?" Eiden segera sadar dari lamunannya.


"Kau tahu aku ada di sana mendengar pembicaraan kalian, kenapa kau diam?"


"Yah... aku merasa kau perlu mengetahuinya, Reza tidak akan memberitahumu kau tahu itu? tapi semua ini tentangmu tidak peduli apapun meski kami tidak memberitahumu kau juga akan tahu dengan sendirinya tapi itu akan juga akan terasa menyakitkan. Jadi tidak ada bedanya mengetahuinya sekarang atau nanti," Eiden mengatakannya dengan mudah, dia juga tidak tahu mengapa rasanya seperti dia telah mempersiapkannya begitu lama.


Atreya mulai berfikir.


Apa yang dikatakan Eiden memang benar tapi dia senang ada Eiden yang datang menghiburnya, seulas senyum tersungging di wajah cantiknya.


"Terima kasih, aku akan bertahan tapi kau juga harus berjanji tidak akan meninggalkanku,"


"Aku janji!" Eiden mengangkat tangan kanannya.

__ADS_1


Atreya tertawa melihatnya. "Pffftt...kau tidak bersedia melakukan sumpah kelingking tapi malah mengangkat tangan, bukankah itu lebih kekanakan, dasar bodoh!" Atreya semakin tertawa terbahak-bahak tapi Eiden tidak menjawab ucapannya. Dia senang melihat Atreya yang seperti ini, tertawa bahagia bersamanya.


Angin malam berhenti bertiup seolah selesai membawa pergi kesedihan dan ketakutan Atreya yang sejak tadi dipendamnya. Biarlah hari esok datang, meski bahaya mendekat tapi Pangeran tidak akan membiarkan gadis yang dicintainya terluka karena setelah itu dia akan mengungkapkan perasaannya.


__ADS_2