
Pagi menyingsing, sinar mentari yang hangat membangunkan dua orang yang duduk bersebelahan. Sepertinya Atreya tertidur ketika berbincang dengan Eiden dan Eiden tidak meninggalkannya sampai pagi.
"Hah... sudah pagi," matanya masih terpejam, kakinya terasa dingin tapi dia merasa tidur di tempat yang sangat nyaman, bukan tempat tidurnya. Dia memeluk sesuatu yang menjadi sandarannya, baunya sangat khas dia mengenali bau ini.
"Tunggu! bukankah ini!" sontak dia langsung membuka mata dan mendongakkan kepalanya, benar saja dia tidur di pelukan Eiden yang duduk bersandar pada pohon.
'Apakah aku semalaman seperti ini bersamanya?' pantas saja kakinya dingin, dia tidur di taman belakang rumahnya. Atreya menyingkirkan tangan Eiden yang memeluknya dengan sangat pelan, dia tidak ingin membangunkannya. Tiba-tiba tangan itu memeluknya semakin erat. Eiden sudah bangun, tapi dia tetap memejamkan matanya sampai Atreya terbangun dan melihat reaksi apa yang akan muncul.
'Apa?' saat tahu Eiden hanya pura-pura tidur Atreya mendorongnya hingga jatuh.
"Aww... kenapa kau kasar sekali," pekik Eiden yang jatuh tersungkur.
"Kenapa kau masih ada di sini?" Atreya berusaha menutupinya, dia sangat malu dengan kejadian ini. Tidak tahu apa yang akan dilakukan Reza jika tahu dia tidur dengan seorang pria semalaman di luar.
"Apanya yang kenapa? kau tidur di bahuku, aku hanya membuatmu agar lebih nyaman lalu tidak pergi," ucapnya seraya kembali duduk.
"Setidaknya kau bisa membangunkanku? mana boleh seperti itu, atau jangan-jangan kau mengambil kesempatan dariku?" perasaannya campur aduk antara malu dan marah, bagaimana pria ini bersikap seperti itu padanya.
"Apa kau lupa, kau sendiri yang menangis di pelukanku? kau pikir siapa yang mengambil keuntungan dari ini, lagipula aku tidak melakukan apapun padamu," Eiden tak mau kalah. Dia senang bisa bersama Atreya malam ini, agar bisa memandanginya lebih lama dia membiarkan Ateya tidur bersandar padanya dan tidak kembali semalam. Tapi dia tidak boleh memperlihatkannya pada gadis itu.
"Dasar mesum!" Atreya pergi meninggalkan Eiden begitu saja.
"Dia bahkan tidak mengucapkan terima kasih padaku," ponsel Eiden berbunyi, Mark menghubunginya.
"Aku sudah menyetujui laporannya sekarang aku perlu tanda tanganmu, cepatlah kembali jika kau ingin berangkat secepatnya,"
"Baguslah! aku akan segera kembali," sambungan ponsel terputus, Eiden melihat ke arah Atreya pergi dan tersenyum puas.
"Kita akan bertemu lagi nanti," dia menghilang sekejap mata, menyisakan angin yang bertiup kencang menerbangkan daun yang gugur.
Atreya melihat dari balik jendela,
"Dia sudah pergi," dia menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
"Bagaimana bisa aku bersikap seperti itu padanya, akhhh!" Atreya menutup wajahnya dengan bantal, dia sangat malu mengingat kejadian semalam. Tapi nasi sudah menjadi bubur,
"Aish...apa aku sebegitu putus asanya hingga mengatakan hal itu padanya," kedepannya pasti Eiden akan menggunakannya untuk menggodanya lagi.
Sesaat kemudian dia ingat bahwa dia akan berangkat hari ini, Atreya segera bangkit dan membersihkan diri. Setelah itu dia turun untuk sarapan.
__ADS_1
Elena dan Reza sudah duduk di meja makan, Reza hanya melihatnya sekilas. Tapi tatapan itu seakan memiliki arti yang dalam. 'Apa kakak tahu aku semalam tidur bersama Eiden? huft.. tamatlah riwayatku,' jantungnya berdetak tidak karuan, dia bisa merasakan kalau Reza sedang marah padanya.
"Apa tidurmu nyenyak malam ini?" Elena bertanya dengan ramah, pertanyaan yang sederhana. Atreya tahu Elena tidak bermaksud lain tapi entah bagaimana dia ingin sekali menyembunyikan dirinya di bawah lubang. Rasanya seperti seorang anak yang sedang diinterogasi karena ketahuan pergi diam-diam dengan pacarnya.
"Ya, aku tidur pulas malam ini," senyumnya agak canggung, dia bersumpah tidak akan pernah menceritakannya pada siapapun.
" Kalau begitu kenapa hanya berdiri di sana, kemarilah!" ajak Elena.
Atreya mengangguk. Dia merasa Elena seperti sudah menjadi kakak iparnya, dan kejadian ini sangat aneh baginya. Sarapan yang tenang, hanya ada suara sendok dan garpu yang memenuhi ruangan. Tidak ada satupun dari ketiganya yang membuka pembicaraan walau sekedar gurauan.
'Ada apa ini kenapa atmosfernya sangat aneh, apa semalam terjadi sesuatu yang tidak aku tahu?'
Elena merasa aneh dengan kakak beradik ini, kemarin mereka baik-baik saja dan pagi ini menjadi seperti ini. Bahkan sikap Reza jauh lebih dingin dari sebelumnya.
"Kudengar kau akan pergi untuk beberapa hari, apa kau sudah mempersiapkan semuanya?" Elena memutuskan untuk bertanya lebih dulu, dia sangat benci suasana seperti ini.
"Parvis sudah mempersiapkannya, aku hanya perlu datang ke kantor untuk mengecek laporannya,"
"Parvis memang hebat, tidak heran dia menjadi orang kepercayaanmu," Elena menyenggol lengan Reza.
"Tentu saja dia harus bekerja keras, tidak mudah menjadi orang kepercayaanku," ucapnya ketus.
"Hatcuh!! siapa yang sedang membicarakanku?" Parvis menutup hidungnya yang tiba-tiba bersin.
"Ckckck, sungguh tidak mudah bekerja dengan orang sepertimu,"
'Kau sudah tahu itu tapi tetap jatuh cinta padanya!'
Atreya mencibirnya dalam hati.
Setelah sarapan mereka berangkat ke kantor bersama. Awalnya Reza menolak, tapi Elena terus memaksanya. Reza pun duduk di depan dan Atreya bersama Elena duduk di belakang.
"Bukankah lebih menyenangkan berangkat bersama! selain itu kita bisa sedikit berhemat," ucap Elena basa-basi.
"Cih...membosankan!" Reza membuang mukanya ke luar jendela, dia melihat sesuatu yang mencurigakan dari kaca spion.
'Cepat sekali mereka beraksi, dasar tidak sabaran!'
"Hmm... apa yang kau lihat?" Reza terlalu fokus melihat mobil yang mengikuti mereka hingga Elena bertanya padanya.
__ADS_1
"Bukan hal serius," dia menegakkan kepalanya, kembali menatap ke arah depan dan diam-diam menulis pesan kepada Parvis.
"Mereka sudah mulai bergerak, perketat penjagaan Atreya sampai di sana!"
"Oh... cepat juga, bawa lebih banyak pengawal untuk menjaga nona!"
"Baik tuan," Parvis mengutus orang untuk mengawal Atreya sampai di Pulau XX.
'Kami hanya bisa mengawalnya sampai tepi pulau, kuharap kau baik-baik menjaganya, tuan Eiden!'
Eiden sudah terlebih dulu sampai di pulau XX, dia langsung datang begitu selesai menandatangani kontrak.
"Oh ya, kemana kau akan pergi?" Elena bertanya dengan antusias seperti biasa.
"Aku akan pergi ke Pulau XX, akan ada proyek besar di sana akupun tidak yakin apakah aku akan berhasil," dia tersenyum singkat.
Elena terkejut mendengar hal itu, seolah mengetahui sesuatu eksresinya langsung berubah.
"Begitukah? kalau begitu semoga berhasil!" ekspresinya kembali berubah.
"Terima kasih!"
Reza memperhatikan Atreya dari kaca depan, dia melihat Atreya masih mengenakan kalung yang diberikannya dulu.
'Entah apakah kalung itu juga akan berguna bagimu, tapi semoga kau baik-baik saja sampai selesai. Huft! kali ini aku hanya bisa mengandalkannya.'
Sesampainya di kantor mobil yang disiapkan Parvis sudah siap di depan kantor. Atreya menghampirinya begitu turun dari mobil.
"Apakah kita langsung berangkat?"
"Ya, waktu kita tidak banyak!"
"Hm,"
Atreya beralih mendekati Reza, "Kak, aku pergi dulu,"
Reza langsung memeluknya, " Berhati-hatilah! semoga berhasil dan cepatlah pulang,"
Atreya tahu Reza sebenarnya tidak rela melepasnya, tapi dia harus tegar tidak boleh menangis di hadapannya.
__ADS_1
"Aku janji,"