
Tiba-tiba saja Mark sudah ada di hadapan mereka,
"Gawat tuan! semua diluar kendali," dia terlihat terengah-engah setelah berlari.
Atreya segera melepaskan diri dari Eiden, dia sangat malu. Orang lain melihat mereka sedekat itu, pasti akan berfikir yang bukan-bukan meski sebenarnya Atreya juga tertarik dengab Eiden.
"Katakan dengan jelas apa maksud perkataanmu!" tapi Eiden masih bisa bersikap tenang seolah-olah tidak terjadi apapun.
"Sepertinya salah satu dari mereka adalah pengguna sihir terlarang yang mengendalikan zombi,"
"Hmmm," Eiden nampak berfikir dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. 'Berarti tujuan mereka adalah Atreya,'
"Tapi mereka seperti lepas kendali," ucap Mark panik.
"Apa maksudmu? wajar saja, kita adalah mangsa sementara mereka mayat hidup yang tentu akan melakukan apapun demi mendapatkan mangsanya," Eiden masih menanggapinya dengan santai.
"Bukan begitu, meski aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi sepertinya orang yang mengendalikan mereka kehilangan kendali,"
Eiden mengernyitkan dahinya, "Kalau begitu pikirkan cara untuk keluar dari sini dengan selamat,"
"Bagaimana dengan zombi-zombi itu, akan berbahaya jika mereka dibiarkan begitu saja," Mark kaget mendengar ucapan Eiden,
"Jika seperti ini sepertinya mereka hanya umpan dan orang yang sebenarnya belum diketahui, kita hanya harus memikirkan bagaimana cara untuk tetap hidup,"
"Maksudmu mereka tidak akan melukai kita?"
tanya Atreya yang masih belum mengerti situasi saat ini.
"Targetnya adalah kau jadi mereka tidak akan sembarangan menyerang, Mark kau sudah menyiapkannya?"
"Sudah, aku tidak menggunakannya karena takut melukai kalian, sekarang kita sudah bersama sudah bisa dipakai," Mark menyatukan jempol dan telunjuknya membentuk huruf O dan jari yang lain tegak lurus.
"Bagus, apa kau melihat dua pengawal yang ikut bersama kita? kita harus menemukan mereka,"
__ADS_1
"Tidak perlu, karena mereka termasuk level rendah merejapun berubah menjadi zombi," Mark mengatakannya dengan penuh penyesalan.
Eiden hanya mengangguk seolah tidak peduli.
"Apa begini sikapmu terhadap pengawalmu? kau bahkan tidak memperdulikan mereka?" Atreya sangat kesal, dia berfikir Eiden sangat keterlaluan meskipun seorang Pangeran pun juga harus memperhatikan bawahannya, kan? dan mereka juga telah berkorban untuknya.
"Penghianat tetaplah penghianat untuk apa menaruh simpati pada mereka,"
"Apa?" Atreya dibuat bingung olehnya.
"Mereka adalah mata-mata yang dikirim untuk mengawasi pergerakan tuan Eiden, kami sengaja membawa mereka untuk memancing keluar pelaku sesungguhnya tapi malah jadi seperti ini," jelas Mark.
"Tapi tadi kau terlihat sangat menyesal?"
"Tentu saja, petunjuk penting sudah hilang akan sulit untuk menemukan kesempatan sebagus ini," Eiden menahan tawa melihat tingkah Atreya.
"Jangan memasang wajah seperti itu, kau pikir aku orang sejahat apa sampai menelantarkan bawahanku?"
"Sudahlah, sebaiknya kita cepat keluar dengan begitu alatnya sudah bisa diaktifkan," usul Mark.
Mereka bertiga keluar dari ruangan itu, sesekali mereka bersembunyi karena zombi berada di mana-mana, sampai mereka berhasil keluar dari tempat itu.
Eiden menggendong Atreya dan membawanya menjauh, Mark mengangtifkan peledak yang dipasangnya lalu ikut menjauh.
Duarrr...
Bangunannya meledak dan suara yang ditimbulkan sangat keras, karena jauh dari keramaian tidak ada polisi yang sampai di sini.
Dengan kecepatan Eiden dan Mark, mereka berhasil selamat. Di atas pohon masih ada orang yang mengintai mereka, Eiden menyadarinya.
Dia melihat ke arah pohon itu tapi tidak menukan siapapun.
"Ada apa?" Atreya menengadahkan wajahnya dan melihat ada yang aneh dengan Eiden.
__ADS_1
"Bukan apa-apa,"
"Ehm, bisakah kau turunkan aku sekarang?" Atreya bertanya dengan suara lirih, Eiden nampak kesal.
Atreya melihat ke arah Mark, merasa tidak enak dengan mereka yang seperti ini, Eiden menghela nafas dia pun menurunkan Atreya.
'Sepertinya harus mengikatnya agar dia tidak merasa canggung denganku saat ada orang lain,'
Ponsel Eiden berbunyi, setelah melihat siapa yang menelefon dia mengangkatnya dengan malas.
"Halo?"
"Hei di mana adikku, kau tidak melakukan sesuatu padanya, kan?" Reza menelefon Eiden.
"Aku hanya menyelamatkannya, memang kau berharap aku melakukan apa?"
"Kau harus segera membawanya pulang dengan selamat,"
Reza mematikan ponselnya. Eiden tahu saat ini Reza sedang dalam tugas penting dan dia mungkin sedang tersudut sekarang.
"Ayo! kita harus segera kembali, kakakmu sangat khawatir," Eiden memasukkan kembali ponselnya.
"Apa tadi kakak yang menelefonmu?"
"Ya dan dia munyuruhmu segera kembali, dasar tidak tahu terima kasih,"
"Pffff," Atreya menahan tawanya melihat sikap Eiden yang cepat berubah.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Tidak ada," dia juga membayangkan Reza pasti akan memarahi semua orang saat tahu dia menghilang.
Sementara Mark hanya geleng-geleng kepala. Semenjak pertemuannya dengan Atreya membuat sikap Eiden berubah menjadi lebih tenang, tapi tak jarang dia juga mudah marah jika mendengar sesuatu yang membayakan Atreya.
__ADS_1