
"Apakah semua Tuan Putri juga seperti dirimu?"
Elena langsung menatapnya, Atreya pun merasa bersalah. 'Kenapa harus keceplosan mengatakan hal ini'
"Uhm... itu... aku... " dia sungguh merasa tidak enak.
"Pasti Reza telah memberitahumu," tapi Elena malah menunjukkan ekspresi lain. Dalam bayangannya Elena akan mungkin akan merasa tersinggung, tapi dia bersikap tenang seolah tidak mempermasalahkan masalah itu.
"Tidak perlu khawatir! aku bukanlah orang yang berhati sempit, tapi kuharap ke depannya jangan mengungkit tentang hal-hal kerajaan di depanku, ok!"
"Aku mengerti,"
Sungguh tak disangka, sejak tadi Atreya merasa terganggu dan ingin secepatnya terlepas dari gadis ini. Tidak dia malah tidak enak hati karena merasa menyinggung nya.
'Huff... apakah ini semacam karma, aku terus menghindarinya tapi tidak menyangka akan ada rasa bersalah juga, Sudahlah! jalani saja dulu toh aku juga tidak akan tewas karena mengikutinya.'
Mobil yang mereka tumpangi kini sudah terparkir di depan restoran Eiden.
Elena langsung menarik Atreya ke dalam,
"Ayo cepat! aku sangat lapar," dia terus menarik Atreya hingga mereka duduk di salah satu meja.
__ADS_1
"Apakah ini semacam double date?" Atreya terheran-heran ketika Elena memilih duduk di meja yang disiapkan untuk empat orang. Sementara dia dan Elena duduk saling berhadapan.
"Aku memanggil kedua kakakku, aku tidak mau sendirian sementara kau bersama dengan kakak pertamaku," ucapnya tanpa ragu. Atreya membelalakkan matanya, gadis ini serius dengan kata-katanya.
"Maksudmu Jonathan?"
"Ya, apa kalian pernah bertemu?"
"Aku pernah bertemu sekali dengannya,"
"Owh... itu dia mereka datang," ucapan Elena membuat Atreya menoleh ke arah mereka datang.
Sejak kedua orang itu masuk semua pengunjung memperhatikan mereka, terpesona oleh ketampanan dan aura yang menyelimuti mereka. Bahkan Atreya pun tak bisa mengalihkan pandangannya dari Eiden, jantungnya berdegup kencang.
Eiden mengambil tempat duduk di samping Atreya, sementara Jonathan duduk di samping Elena.
"Syukurlah kalian bisa datang, aku kira kalian sibuk,"
"Tentu saja harus datang, kau terus menghubungi kami lima menit sekali," Eiden memundurkan tubuhnya hingga tubuhnya bersandar pada kursi.
"Itu bukan masalah karena jarang-jarang kau mau keluar dan bertemu dengan kami seperti ini," berbeda dengan Eiden yang menunjukkan wajah kesal, Jonathan tampak senang melihat Elena duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Tapi sepertinya ada orang yang mengikutiku sampai kemari, bahkan tadi mereka mencegat kami di tengah jalan," ucapan Elena tidak membuat Eiden bersimpati padanya, malah terlihat seperti mengacuhkannya.
"Kenapa kau tidak membawa para pengawalmu? setidaknya itu akan berguna agar kau tidak perlu repot-repot mengurus mereka,"
"Kakak Jonathan, kau memang selalu peduli padaku tidak seperti orang itu," Elena beralih menatap Eiden.
Tapi yang disindir malah tidak menunjukkan reaksi apapun. "Sudahlah! kita di sini untuk makan bukannya berdebat, maaf karena kau harus melihat semua ini, Reya," ucap Jonathan ramah.
"Ah... tidak apa-apa, aku baik-baik saja,"
Setelah itu mereka makan bersama tentu saja masih ada sedikit pertengkaran antara Eiden dan Elena.
Saat ini Reza sedang mengurus berkas-berkas yang belum selesai, "Kau tidak merayakan keberhasilan Atreya karena berhasil masuk ke perusahaan tanpa campur tanganmu?" Parvis masuk dan melihat Reza yang tak berkutik dari kursinya sejak tadi.
"Tidak! aku yakin saat ini dia sudah merayakannya dengan Elena, aku bahkan tidak bisa menghentikan gadis itu," Reza memijit pelipisnya, mengingat hal-hal yang terjadi ketika dia berhadapan dengan Elena, gadis itu selalu meminta sesuatu yang dia rasa tidak masuk akal. Tapi dia juga tidak bisa melawan gadis itu. Semakin ditolak dia akan semakin tidak menyerah untuk mendapatkannya.
"Ini bukan saatnya untuk memikirkan hal itu," Reza menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Sebentar lagi tepat tiga bulan sejak pesta itu, apa yang akan kau lakukan? ," Parvis membahas sesuatu dengan Reza, tentang kejadian setelah Eiden merubah Atreya. Cepat atau lambat mereka akan menghadapinya.
"Jika perlu aku tidak akan segan untuk mengurungnya,"
__ADS_1
"Tidakkah kau merasa ada yang aneh pada Putri Elena?" Parvis menambahkan.
"Tidak! semua ini terasa aneh, tapi aku tahu bahwa Elena bukan orang seperti itu,"