
Setelah kejadian itu, Jonathan yang mengamati diam-diam pun kembali ke kerajaan barat.
Eiden mengantar Atreya pulang, di depan rumah sudah ada Reza yang menantinya dengan cemas.
"Apa kau terluka? kenapa kau baru kembali? bagaimana kau bisa diculik dan seluruh pelayan di rumah kita menghilang?" Atreya terkejut.
"Apa? bagaimana bisa, kalau begitu kita harus segera mencari dan menyelamatkan mereka," dia tidak menyangka kalau pelayan di rumahnya benar-benar menghilang. Karena sibuk memikirkan cara untuk keluar, dia lupa bahwa dia sedang mencari orang-orang di rumahnya.
"Apa yang kau pikirkan, kau baru saja kembali seharusnya beristirahat dulu," Eiden segera menenangkan Atreya.
"Tidak bisa, mereka sudah seperti keluargaku aku tidak bisa hanya diam saja," Atreya tetap bersikeras.
"Eiden benar, masalah ini serahkan saja pada kami kau istirahatlah!"
"Tapi kak, aku baik-baik saja,"
"Atreya jangan membantahku, pergi ke kamarmu sekarang," Reza meninggikan nada suaranya, Atreya tidak menyangka Reza bisa membentaknya. Selama ini Reza selalu bersikap lembut padanya.
"Huh!" Atreya meninggalkan dengan kesal dan segera masuk ke kamarnya, "Apa maksud mereka tidak membiarkanku mencari, aku juga tidak akan membuat masalah, kan!" Atreya merebahkan dirinya di atas kasur.
"Jika dipikir-pikir apa motif mereka menculikku di saat suasana sedang kacau seperti ini? apa untuk memecah konsentrasi kakak dan Eiden dalam mencari Raja?" Atreya berfikir sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Mungkin begitu lagipula aku ini bukanlah siapa-siapa, hanya vampir baru yang masuk dalam lingkungan ini mana mungkin mereka mengincarku," Atreya mengubah posisi tidurnya menghadap ke arah jendela,
"Kuharap kakak bisa segera menemukan mereka," perlahan-lahan Atreya menutup matanya, tidak membutuhkan waktu lama untuknya menutup mata.
Reza masuk ke kamar Atreya, dia duduk di tepi ranjang menghadapnya. "Aku tidak bisa membayangkan jika kau tahu situasi saat ini,"
Reza membelai puncak rambut adik kesayangannya.
__ADS_1
"Aku tahu kau gadis yang cerdas, kuharap kau mau mengerti tapi apapun yang terjadi aku akan tetap melindungimu, tidak ada seorang pun yang bisa melukaimu," Reza berdiri, dia melihat keluar jendela.
"Aku akan berusaha, juga untuk menebus kesalahanku yang tidak bisa menjagamu selama ini," dia melangkah keluar.
Di depan pintu Eiden menunggunya, dia bersandar pada tembok di dekat pintu.
"Sepertinya dia belum tahu kalau dia menjadi incaran, apa kau akan terus menyembunyikannya?"
"Kau tidak perlu ikut campur, aku yang akan segera menyelesaikan masalah ini," ucap Reza dingin, dia hendak pergi meninggalkan Eiden.
"Ini tidak sesederhana yang kita bayangkan," mendengar ungkapan Eiden, Reza berhenti.
"Sebaiknya kita bicarakan di ruang kerjaku,"
'Sepertinya dia mengetahui sesuatu,' Eiden mengikuti Reza ke ruang kerjanya.
"Kita tidak sedekat itu, untuk apa aku memberitahumu,"
"Apa kau bahkan tidak menganggap perjuanganku?"
"Aku tidak berharap kau memiliki hubungan dengan adikku," ucapnya acuh.
"Meskipun kau tidak setuju akan kupastikan merebutnya darimu," Eiden mengatakannya dengan percaya diri.
"Sudahlah! katakan yang ingin kau katakan, aku tidak punya banyak waktu,"
"Aku merasa ada yang aneh pada diri Jonathan," raut wajah Eiden berubah serius, "Sebagai orang kepercayaannya seharusnya kau lebih mengetahui hal ini, bukan?"
"Belakangan ini aku merasa dia agak berbeda tapi tidak ada sesuatu yang mencurigakan, dia seperti orang yang berbeda," Reza mengingat-ingat perilaku Jonathan yang berbeda dari biasanya.
__ADS_1
"Maksudmu dia bukan Jonathan," Eiden makin penasaran.
"Sepertinya begitu, tapi aku belum menemukan bukti untuk mengungkapnya,"
"Kenapa kau tidak melaporkan ini sejak awal, bukankah akan lebih mudah diselesaikan,"
"Tidak, Yang Mulia sudah mengetahuinya,"
"Apa? maksudmu dia juga mencurigai Jonathan dan hanya aku yang tidak mengetahuinya,"
"Kau terlalu sibuk dengan bisnismu dan Yang Mulia tidak ingin mengganggumu,"
"Dasar, orang tua itu!" dia merasa kesal karena dia baru mengetahui hal ini.
"Kau tidak bisa menyalahkannya dia adalah ayah sekaligus Raja negeri ini, dia akan mencari solusi agar perang tidak pecah kembali," Reza mencoba menenangkannya.
"Kau benar, dia sudah tua tapi masih saja dibebani hal berat," Eiden merenungkan perkataan Reza, "Di saat yang bersamaan mencegah kesalah pahaman diantara kami," Eiden tersenyum pahit.
"Kau beruntung masih ada yang melindungimu,"
"Kau benar, aku selalu berusaha menjadi yang terbaik dan berada di sampingnya, tapi aku tidak pernah memahami kesulitannya,"
Sore itu mereka lanjutkan dengan gurauan yang tidak terlalu serius, melupakan masalah tempo hari yang belum terselesaikan.
Siluet jingga terasa kuat terlukis di mega biru yang menjadi semakin gelap, tak seperti cahaya mentari pagi yang menerobos masuk melalui celah jendela dengan hangat.
Jika fajar menghibur jiwa yang terbangun dari tidur dengan energi positif yang menenangkan. Maka senja selalu menjadi momen yang istimewa untuk mengungkapkan gundah yang dirasa.
Tidak peduli dalam keadaan apapun. Baik bahagia atau terluka, marah ataupun sedih semua orang menikmatinya. Bayang-bayang diri sendiri yang tercipta mewakili segala perasaan. Meski begitu, tidak banyak orang yang menyadari. Mereka terlalu terpana akan rasa di dalam hati dan pesona senja sehingga melupakan bayangan yang selalu menemaninya.
__ADS_1