
'Kurasa aku harus membedah dan memeriksa isi kepalanya,' Atreya tidak memberikan tanggapan, dia terus menyendoki steak yang tersaji di hadapannya. Karena perubahannya, kini Atreya tidak menyukai makanan manusia seperti dulu. Tentu saja harus meminum darah agar tenaganya terisi dan untuk makanan ia lebih memilih daging.
Suara sendok yang beradu di atas piring mengisi ruangan itu, baik Eiden atau Atreya, mereka lebih memilih diam. Tidak perlu ditanya, dalam hatinya Eiden sangat bahagia bisa bersama Atreya. Hanya mereka berdua, dia ingin sekali memeluk gadis itu begitu sampai di sini, namun Atreya pasti terkejut dan marah. Meski dia suka menggoda Atreya tapi dia selalu menjaga batasannya agar gadis yang dicintainya itu tidak membencinya. Dia bersikap seperti itu agar Atreya tidak mengkhawatirkan kondisinya di sini.
Dia terus memperhatikannya, wajah cantik di depannya ini... dia tidak peduli apa yang akan terjadi di masa depan. Dia sudah bertekad untuk menjadikan Atreya miliknya, bukan sebagai pelayan darahnya tapi dia akan mengikatnya dengan janji suci, menjadi kekasih masa depan yang akan dia jaga dengan seluruh jiwa raganya.
'Tok.. tok.. tok.. '
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Eiden, dia sangat terganggu, hingga akhirnya dia bangkit dari duduknya ingin mengumpati orang yang mengganggunya dengan Atreya. Melihat Eiden yang tiba-tiba berdiri membuat Atreya mendahuluinya.
"Biar aku saja," dia menghentikan Eiden, memberi isyarat agar Eiden duduk kembali. Saat keluar dari dapur Atreya melihat jam dinding, 'Mereka pasti datang untuk menjemputku,'
'Ting!' Eiden menerima pesan bahwa rapat akan segera dimulai.
"Ck.. mereka sudah mulai bergerak," Eiden tersenyum sinis. Dia tahu proyek yang diadakan di pulau ini hanyalah pengalihan agar kaum serigala yang lain tidak menyadari kedatangan Atreya sementara mereka sibuk dengan rapat. Tetua serigala benar-benar melakukannya dengan matang, sampai saat ini tidak ada pergerakan yang dirasa membahayakan Atreya.
__ADS_1
Tapi jika Bernad ikut berkontribusi dalam hal ini, maka cepat atau lambat kaum serigala pasti akan mengetahui keberadaannya.
Atreya membuka pintu dengan waspada, benar saja dua orang itu datang menjemputnya.
"Rapat diajukan, kita harus berangkat sekarang!" ucap salah satu diantara mereka.
"Baiklah!"
Sebelum Atreya keluar tangan Eiden memeluk pingganngnya, Atreya terkejut. Padahal dia tidak ingin mereka tahu bahwa Eiden ada di sini, tapi pria ini malah menunjukkan dirinya sendiri.
Atreya mendongak lalu membisikkan sesuatu pada Eiden.
"Kenapa kau keluar?" Eiden membalasnya dengan senyuman, dia tak mengatakan apapun.
Meski begitu, Atreya bersyukur Eiden berada di sisinya. Dia takut menghadapi kedua orang itu meski mereka hanya mengawalnya. Tapi dengan kehadiran Eiden dia sudah merasa tenang sekarang.
__ADS_1
Kedua orang itu saling bertatapan, salah satu dari merekapun angkat bicara.
"Kami datang menjemput nona Atreya untuk rapat,"
"Kalau begitu kalian harus membawaku juga,"
"Maaf tuan, tapi urusan kami dengannya tidak ada hubungannya denganmu," ujar salah satunya.
"Benarkah? maka aku tidak bisa membiarkan tunanganku pergi bersama kalian," Eiden semakin mendekatkan Atreya ke pelukannya. Atreya terkejut dengan pernyataan Eiden, 'Tunangan?' dia bahkan tidak berani membayangkannya dan Eiden dengan mudah mengatakannya.
Dua orang itu nampak berunding, Eiden tidak masuk pada rencana mereka tapi mereka juga tidak bisa menjalankan tugas jika tidak mengajaknya.
"Baiklah! anda boleh ikut, tapi kami sarankan untuk tidak merepotkan kami," ujarnya sinis.
"Tenang saja, aku bukanlah sebuah beban," Eiden menyeringai, baginya mudah saja jika dia ingin menyingkirkan mereka. Tapi ini bukan waktu yang tepat dan malah akan menghancurkan rencananya melindungi Atreya. Perjalanan kali ini dia berjanji akan terus berada di sisi Atreya.
__ADS_1
Dia menatap langit seolah berbicara pada dirinya yang lain. 'Aku akan menjaga cintaku, tidak peduli apa yang akan terjadi. Setelah ini...dia akan terbebas dan kami akan menjalani sisa hidup bersama...Selamanya'