Cinta Dalam Perubahan

Cinta Dalam Perubahan
Chapter 40


__ADS_3

Di tempat lain, suasana malam lebih mencekam karena pertemuan rahasia sedang dilakukan. Tempat itu berada di belakang bukit, dan terlihat seperti sebuah benteng dari depan.


"Jadi dia menggunakan cara ini! dia sungguh berani," seorang laki-laki paruh baya tampak duduk di kursi kebesarannya dengan seorang gadis cantik yang berada di sampingnya, dan beberapa pengawal yang setia mendengarkan. Namun mereka mengenakan jubah hitam dan wajah mereka pun tertutupi.


"Apa kita juga perlu mengutus orang untuk pergi ke sana, tuan?"


"Tidak perlu, aku punya rencana yang lebih bagus," senyum misterius menghias wajahnya yang tampak gagah meski sudah berumur, tampak licik dan penuh tipu daya tapi juga menunjukkan wibawa seorang bangsawan.


Semuanya terdiam, salah satu dari para pengawal mencuri pandang ke arah laki-laki tersebut.


"Bersiaplah! sekarang juga kita akan pergi ke menemui teman lama,"


"Baik, tuan!" jawab mereka serempak.


Setelah itu mereka membubarkan diri. Seorang pengawal bergegas menjauh dari tempat itu untuk menghubungi seseorang. Dia pergi ke puncak bukit dengan cepat, suatu hal yang mudah bagi seorang vampir untuk menempuh jalan yang terjal dalam sekejap. Sekali lagi dia memastikan tidak ada orang yang mengikutinya.


"Tuan Eiden!"


"Apa yang kau dapatkan?"


"Seperti yang Anda perkirakan! setelah mendengar informasi ini Bernad pergi ke suatu tempat untuk mengunjungi seseorang,"


"Di mana mereka akan bertemu?"


"Aku masih belum mengetahuinya, tuan!"


"Kalau begitu teruslah memantaunya dan laporkan hasilnya padaku!"


"Aku mengerti,"


Setelah menelfon, dia bergegas kembali ke benteng itu.


"Apa yang membuatmu tampak senang," Mark masuk ke ruangan Eiden, dia baru kembali dari misinya sebelumnya.


"Baguslah kau sudah datang, kita berangkat menemui Reza sekarang!"


Mark tampak bingung.


"Apakah kau datang untuk mengunjungi pacar kecilmu?"


"Tidak sekarang! aku akan punya waktu lebih lama bersamanya besok,"

__ADS_1


"Jadi masalahmu dan Reza sudah benar-benar selesai? baguslah, aku akan istirahat sekarang," Mark bersiap untuk keluar.


"Tunggu dulu! bukankah sudah kubilang untuk ikut denganku sekarang?"


"Apa?" Mark membalikkan badannya, dia merasa jengah dengan tugas yang diberikan padanya juga tuannya yang tidak memberikan waktu istirahat untuknya.


"Tapi bukankah masalah kalian sudah selesai, kau bisa pergi menemuinya sendiri!"


"Kau membantahku?" Eiden mengeluarkan tatapan mengintimidasinya.


"Tidak.. tidak.. aku akan menyiapkan mobilnya sekarang," Mark pun tidak punya pilihan lain.


"Kita tidak akan memakai mobil, itu terlalu lama," Eiden membuka jendela balkonnya.


"Lagipula ini sudah terlalu malam, tidak akan ada yang melihat," dia segera melompat keluar.


"Haih... aku harus menunda istirahatku lagi, dia anggap apa aku ini!" Mark terus memaki Eiden, tuannya sering menyuruhnya kerja lembur dengan istirahat yang sedikit. Untung saja dengan kemampuan istimewanya Mark tidak memerlukan tidur. Meski begitu dia juga tidak pernah membantah apapun yang ditugaskan Eiden padanya. Dia pun menyusul Eiden.


Vampir memiliki kekuatan diatas manusia biasa, mereka bisa bergerak lebih cepat bahkan lebih cepat dari kecepatan mobil balap. Juga kekuatan yang luar biasa. Diantaranya juga memiliki keahlian khusus, tapi seiring berjalannya waktu keberadaan mereka tidak diketahui.


Waktu menunjukkan tengah malam. Eiden dan Parvis seakan terbang dalam kegelapan, mereka melompat dari satu gedung ke gedung lainnya, juga bergerak cepat diantara pepohonan. Bulan terkadang tertutup awan yang berjalan sehingga menyembunyikan pergerakan mereka, hingga mereka sampai di rumah Reza.


Eiden dan Mark bertemu dengan pengawal yang ditugaskan Eiden untuk menjaga Elena, namun Parvis belum mengetahuinya.


"Bagaimana keadaan di sana?"


"Tidak ada hal yang mencurigakan, nona Elena juga terlihat baik-baik saja,"


"Bagus, tetaplah berjaga di sekitar sini!"


"Apakah anda ingin menemui nona Elena?"


"Tidak! aku punya sedikit urusan dengan Reza,"


"Berhati-hatilah, tuan!"


Eiden mengangkat tangannya lalu menghilang dari hadapan pengawal itu. Mark masih mencoba memahami tindakan Eiden sebelum memutuskan untuk menyusulnya.


Eiden menerobos masuk ke rumah Reza, dia menghindari pengawal karena dirasa tidak perlu berurusan dengan mereka. Kini dia sudah berada di ruang tamu.


"Tidak bisakah kau mengetuk pintu baik-baik?" Eiden terdiam, posisinya sekarang membelakangi Reza yang sudah duduk di sofa ruang tamu. Reza memiliki firasat bahwa Eiden akan datang malam ini. Dan benar saja, sekarang dia berhadapan dengannya.

__ADS_1


Mark datang dari belakang Eiden.


"Apakah tidak apa-apa datang seperti ini, kita terlihat seperti pencuri," Mark masih belum menyadari keberadaan Reza. Eiden masih diam.


"Bahkan orangmu tahu tindakanmu salah, kau masih tidak mengatakan apa-apa?" Reza menyilangkan kedua tangannya menunggu jawaban Eiden.


Mark terkejut, dia tidak menyangka Reza sudah menunggu mereka di sini dan dia mengira Eiden juga pasti menyadari hal itu.


Eiden membalikkan tubuhnya lalu berjalan mendekati Reza dengan tenang, kemudian duduk di hadapannya.


"Kukira kau tidak memerlukan hal itu karena kau pun tidak bersedia menemuiku secara pribadi,"


"Itu tidak ada hubungannya juga tidak bisa dijadikan alasan, sepertinya aku terlalu bersikap sopan padamu, " Reza membantahnya.


"Hey! kaulah yang tidak sopan! masalah sebesar itu hanya kau sampaikan lewat surat?" Eiden juga tidak mau mengalah.


"Ckckck... " Reza melihat sekeliling,


"Lebih baik kita bicarakan di ruanganku,"


Mereka menuju ke ruang kerja Reza, di sana sudah ada Parvis yang sedang menyiapkan berkas-berkas untuk Atreya. Seperti halnya Mark, Parvis mengalami efek lembur berlebihan karena Reza.


"Kalau begitu langsung saja kita buat rencana!"


Parvis dan Eiden bersiap untuk mendengarkan karena biar bagaimanapun juga Reza lah yang mengatur hal ini. Berbeda dengan Mark, dia masih belum mengetahui apapun. Melihat Mark yang kebingungan, Parvis pun membisikkan sesuatu padanya.


Setelah mendengar perkataan Parvis, Mark mengangguk faham.


"Aku sudah meminta tolong pada Saga untuk meminta izin kepada tetua kaum serigala untuk membantu proses perubahan Atreya," Reza menghentikan ucapannya, menunggu reaksi dari Eiden, Parvis dan Mark.


"Meskipun mereka sudah menyetujuinya kelompok yang lain pasti akan mengincar Atreya, apa kau akan meninggalkannya di sana sendirian?" bukan tanpa alasan Mark menanyakannya, dia tahu pasti kaum serigala masih mendendam pada kaum vampir dan jika ada seorang vampir yang masuk ke sana pasti akan terbunuh bahkan jika tetua melindunginya.


"Oleh sebab itu aku meminta Eiden untuk menemaninya selama proses itu berlangsung,"


"Kapan kalian memutuskannya, dan kau bahkan tidak memberitahuku?" Mark menunjuk ke arah Eiden.


"Kau sedang menjalankan tugas tadi, tentu saja kau belum mengetahuinya," jawab Eiden santai.


"Setidaknya kau harus memberitahuku terlebih dulu agar aku tidak terlihat seperti orang bodoh di sini," Mark sungguh kesal, Eiden tidak berkata apapun sebelum mereka datang kemari.


Tapi semua itu sudah tidak berguna, Mark sudah memahami situasi sekarang dan sesuai perkataan Eiden tadi bahwa dia akan menemani Atreya di sana. Dan tentu saja Mark yang akan sangat direpotkan karena Eiden akan menyerahkan segala urusan wilayah selatan dan juga pekerjaannya pada Mark.

__ADS_1


__ADS_2