
"Terima kasih sudah mengantarku pulang," Atreya mengucapkannya sebelum dia keluar dari mobil Eiden, mereka sampai di rumah Atreya sekitar jam 7 malam.
"Sama-sama, tapi kau tidak perlu berterimakasih padaku karena kedepannya kita akan sering melakukannya!" Eiden tersenyum penuh arti,
"Jangan mulai lagi! aku serius!" Atreya semakin kesal dengan perlaku Eiden.
'Seharusnya tadi aku tidak berkata seperti itu, penyakit narsis orang ini benar-benar sudah kelewatan!' ia merutuki dirinya sendiri. Tapi kemudian ia ingat sesuatu.
"Uhm... jadi... apa kau dan kakakku akan baik-baik saja?" Atreya melihat belakangan ini hubungan mereka tida akur, entah apa yang terjadi diantara mereka tapi dia tidak bisa melihat dua orang yang disayanginya saling bermusuhan.
Eiden menghembuskan nafas pelan, sangat pelan hingga Atreya pun tidak merasakannya.
"Tidak apa-apa, kami hanya memiliki jalan keluar untuk masalah kami dan akan lebih baik untuk mencari solusinya sendiri," ucap Eiden datar.
"Mungkin aku bisa membantu!" ucapnya antusias.
"Ini masalah kami kau tidak perlu ikut campur, kami akan menyelesaikannya dengan cara kami sendiri," Eiden tetap bersikeras dan Atreya tidak dapat membantahnya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu," Atreya menundukkan kepalanya, 'Mungkin masalah mereka memang aku tidak berhak ikut campur, sudahlah! ikuti saja alurnya dan aku akan bersiap jika hal buruk terjadi. Aku harus menyiapkan diri' ia mengepalkan kedua tangannya.
Lalu turun dari mobil Eiden,
"Sampai jumpa lagi, berhati-hatilah!" Eiden membalasnya dengan senyuman. Atreya melambaikan tangannya sampai mobil Eiden tidak terlihat dari pandangannya.
Atreya memasuki rumahnya, tapi sepertinya Reza tidak ada di rumah.
"Apa kakak tidak langsung pulang?" dia tidak melihat mobil yang mereka tumpangi di garasi.
"Anna, apakah kakakku belum kembali," tanyanya kepada Anna yang sepertinya akan menuju ke kamarnya.
"Begitukah?"
"Ya, apa kau punya sesuatu untuk disampaikan padanya?"
"Ah.. tidak! bukan apa-apa, baiklah silahkan istirahat,"
__ADS_1
"Kalau kau butuh sesuatu jangan segan untuk mengatakannya padaku,"
"Baiklah,"
Anna kembali ke kamarnya. Setelah insiden penculikan di rumahnya orang yang selamat hanya Anna, itulah mengapa Atreya sedikit menaruh curiga padanya. Tapi dia tidak mengatakannya pada Reza dan terus mengatakan pada dirinya sendiri bahwa itu hanya kebetulan.
Atreya segera merebahkan dirinya di atas kasur, ia menatap langit-langit kamarnya sembari mengingat ucapan Eiden.
"Apa-apaan dia! cara bicara dan raut wajahnya langsung berubah ketika aku bertanya tentang masalahnya dan kakak," kemudian meraih guling dan menyembunyikan wajahnya dengan guling itu.
"Tapi kenapa aku merasa ada yang aneh, apa sesuatu akan terjadi? atau aku melupakan sesuatu?" Atreya berusaha memutar kembali ingatannya.
Dan benar saja,
"Aku lupa!" dia segera beranjak dari tidurnya besok dia akan mulai bekerja di perusahaan kakaknya.
Sebenarnya untuk pengalaman pertama dia ingin magang di perusahaan lain, tapi Reza tidak mengizinkannya. Akhirnya Atreya tidak punya pilihan lain selain diam-diam magang di perusahaan lain. Setelah dia berhasil lulus dia pun langsung mendaftar ke perusahaan kakaknya untuk memberinya kejutan.
__ADS_1
"Sudahlah! akan kupikirkan lagi besok, lagipula aku sudah punya sedikit pengalaman bekerja di bidang pemasaran, sekarang tidur agar aku tidak terlambat besok pagi," dia sangat bersemangat memberi kejutan pada Reza. Dan untuk saat ini dia akan mengesampingkan permasalahan Eiden dan kakaknya.