
Eiden sedang memeriksa kembali hasil laporan yang didapat oleh anak buahnya, lalu muncul seorang pengawal yang memberitahuinya kalau Parvis ingin bertemu dengannya. Eiden pun mempersilahkannya masuk.
"Selamat sore, tuan!" ucap Parvis sopan. Eiden lalu mempersilahkannya duduk.
"Ada hal mendesak apa yang membuatmu datang mengunjungiku?"
"Sebenarnya kami membutuhkan bantuan anda,"
Eiden mengernuitkan dahinya.
"Hmm! kalau begitu katakanlah!"
"Maaf! saya tidak punya hak untuk mengatakannya, tapi tuan Reza mengirimkan surat ini untuk anda," Parvis mengeluarkan surat yang ditulis Reza dan menyerahkannya pada Eiden.
"Anda bisa mengetahuinya setelah membaca isi surat ini,"
"Bukankah kau hanya perlu menitipkannya pada penjaga? kenapa kau harus repot-repot menemuiku hanya untuk memberikan surat ini tanpa mengucapkan apa-apa," mendengar ucapan Eiden, Parvis tersenyum simpul.
"Anda pasti mendengar pepatah bahwa tembok pun punya telinga, aku hanya ingin memastikan pesan ini benar-benar sampai di tangan anda,"
Kehidupan di Kerajaan tidak seindah cerita di negeri dongeng yang menceritakan kisah cinta sejati antara putri dan pengeran. Kerajaan memang tempat yang diinginkan semua orang sehingga politik dan konspirasi terus menerus dipersaingkan demi mendapatkan kekuasaan. Maka tak perlu diragukan lagi jika sesama anggota Kerajaan saling menyerang satu sama lain, dan salah satunya adalah dengan menempatkan mata-mata di dalam kawasan musuhnya. Maka dapat dipastikan bahwa yang terkuatlah yang akan menang.
"Huh!"
Eiden tersenyum getir, dia selalu yakin bahwa meskipun kehidupan di dalam Kerajaan sangat berbahaya, kedua adiknya tidak akan melakukan hal seperti itu. Tapi kenyataan yang diketahuinya beberapa waktu lalu sangat mengejutkan, hingga membuatnya syok. Dia baru mengetahui bahwa Jonathan sudah tiada, dan orang yang menggantikannya saat ini adalah kembarannya. Andi, dia adalah anak dari ibu tiri dan pamannya, Bernad. Tapi entah bagaimana wajahnya dan Jonathan benar-benar bisa sama dan usianya pun tidak begitu jauh.
Juga bukti-bukti yang ditinggalkan James sebelum dia meninggal adalah tentang kebenaran bahwa Jonathan sudah tiada. Tapi masih ada misteri di balik semua ini sehingga dia tidak bisa mengungkapkannya sekarang.
Dia harus mencari tahu dan mengetahui segalanya secepatnya.
Hal itu membuatnya semakin membenci ibu tirinya karena menyembunyikan kebenaran. Meskipun Eiden membenci ibu tirinya yang sekarang karena menurutnya tidak pantas bagi seorang selir untuk naik ke posisi Permaisuri, tapi baginya kedua adiknya tidak bersalah dan dia tetap menyayangi mereka. Pada saat itu dia datang ke danau dekat restorannya dan bertemu Atreya.
Waktu itu Eiden hanya memeluk Atreya, tapi dengan begitu dia bisa mencurahkan kesedihannya.
"Sepertinya aku dapat menebak pertolongan apa yang kalian minta dariku,"
"Benarkah? kalau begitu anda bisa memberikan jawaban padaku,"
__ADS_1
"Aku akan menangani proyek di pulau XX, apa jawaban ini cukup bagimu,"
Parvis terkejut karena Eiden sudah mengetahui rencananya dengan Reza.
"Itu jawaban yang mengejutkan," Parvis terkejut tapi tetap memasang wajah datarnya.
"Tapi aku senang mendengarnya, dan kuucapkan terima kasih," Parvis sedikit membungkukkan badannya.
"Tapi aku terkejut kalian memilih jalan ini dan membiarkanku mengawasinya,"
"Kami juga tidak mudah untuk mengambil keputusan ini, jadi kuharap anda bisa menjaganya dengan baik,"
"Tentu saja, aku tidak akan bisa menanggung nama besar Dewa Perang jika tidak bisa melindungi orangku," Eiden mengeluarkan senyum smriknya.
"Kalau begitu aku permisi dulu,"
"Silahkan! oh... dan sampaikan salamku pada Reza untuk menjaga adikku dengan baik!"
Parvis pun kembali.
Eiden tampak tersenyum bahagia, sejak menggigit dan merubah Atreya menjadi vampir, dia tidak bisa melupakan gadis itu. Dia sempat berfikir bahwa ini hanya karena Atreya telah menjadi pelayan darahnya, tapi semenjak dia memiliki salah paham kepada Reza dan menjauh dari Atreya, hatinya tidak pernah tenang. Dan itu membuatnya yakin bahwa dia telah tertarik pada gadis itu.
"Tok.. tok.. tok... "
Suara ketukan pintu membuat Reza sadar dari lamunannya.
"Masuk!"
Dan Atreya pun memasuki ruang kerja Reza. Reza sudah menstabilkan emosi dan duduk tenang di meja kerjanya agar Atreya tidak curiga.
"Apa kau sedang sibuk?" tanya Atreya hati-hati, takut mengganggu Reza dan membuatnya marah.
"Tidak, tapi kebetulan ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu, duduklah!" Reza menyuruh Atreya duduk di kursi di depannya.
Atreya tidak menjawab, dia melakukan apa yang diperintahkan Reza. Reza melihat wajah Atreya yang begitu gugup, ingin rasanya dia tertawa karena Atreya sungguh terlihat menggemaskan.
"Kau tidak perlu segugup itu, aku juga tidak akan memakanmu," pada akhirnya Reza tetap mengatakannya dengan nada dingin.
__ADS_1
"A.. aku tidak gugup, kau bisa melanjutkannya,"
Sungguh! Reza ingin sekali tertawa lepas saat ini juga, tapi egonya tidak membiarkannya melakukan itu. Dia mengira adiknya mungkin gugup menerima tugas pertamanya.
"Kalau begitu langsung saja! aku merekomendasikanmu untuk mengikuti proyek di pulau XX, dan kau akan berangkat besok. Untuk lebih jelasnya Pavis yang akan memberitahumu,"
"Lalu di mana dia sekarang?"
Tidak biasanya Parvis tidak terlihat, karena sepanjang hari dia hanya akan mengikuti kakaknya itu.
"Saat ini dia sedang menjalankan tugas, mungkin akan kembali besok pagi. Jadi persiapkan dirimu!"
Atreya membelalakkan matanya tak percaya,
"Apa aku akan pergi sendiri? kudengar pulau XX menyimpan banyak misteri,"
"Aku akan mengutus beberapa orang untuk mengantarmu ke sana, tapi urusan di sana kau yang akan menanganinya sendiri,"
"Tidakkah itu terlalu berlebihan, mungkin saja proyek itu adalah proyek besar dan kau langsung menyerahkannya padaku begitu saja? kau tidak takut aku akan menggagalkannya?"
"Tidak! aku percaya kau bisa melakukannya," Reza mengatakannya dengan santai, Atreya pun tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Ah...tapi akan ada orang yang membantumu dalam proyek itu,"
"Siapa? apa aku mengenalnya?"
"Kau akan tahu begitu sampai di sana,"
Kini malam menjadi tempatnya bersandar, malam ini akan terasa panjang baginya. Atreya duduk di balkon kamarnya, menikmati cahaya bintang yang bertaburan. Tidak terlalu terang karena rembulan tidak pada wujud sempurnanya. Belakangan ini Atreya sering bermimpi buruk. Sangat mengerikan hingga dia tidak bisa tidur.
Di dalam mimpinya dirinya seolah akan diambil alih oleh sesuatu dan dia akan pergi ke tempat yang sangat jauh. Tapi dia juga tidak berani mengatakan ini pada Reza, kakaknya sangat sibuk dan dia tidak mau mengganggunya. Apalagi belakangan ini Reza tidak pernah di rumah. Selain itu dia penasaran dengan proyek di pulau XX itu. Jika ini adalah proyek besar seharusnya Reza menyuruhnya untuk membuat proposal jauh-jauh hari sebelumnya atau mengutus seseorang yang lebih berpengalaman. Bukan pegawai baru sepertinya. Terlebih tadi Reza bilang kalau Parvis yang mengetahui tentang proyek ini sedang ditugaskan dan baru kembali besok.
Kalaupun bukan proyek besar, tidak mungkin akan dilakukan di pulau XX. Dia banyak mendengar bahwa hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke sana. Tapi informasi mengenai pulau itu terlalu sedikit sehingga banyak yang berspekulasi bahwa di dalam pulau itu menyimpan banyak misteri.
"Aku merasa ada sesuatu yang aneh tapi tidak tahu apa yang salah dari semua ini,"
Angin malam meniup awan hingga menutupi bulan dan membuat malam semakin gelap. Terasa dingin dan menusuk, juga memberikan perasaan yang mengganggu hatinya.
__ADS_1
Sayangnya dia tidak tahu bahwa perjalanannya besok akan menjadi pertarungan baginya.