Cinta Dalam Perubahan

Cinta Dalam Perubahan
Chapter 32


__ADS_3

Akhirnya Neta menemani Atreya menunggu, dia terus bercerita tentang kedua kakaknya dan berniat menjodohkannya dengan kakak pertamanya.


"Bagaimana kalau kalian bertemu, aku yakin kau akan menyukainya!" Neta meyakinkan Atreya.


"Entahlah, aku tidak yakin," Atreya tersenyun canggung.


'Jika Eiden mengetahuinya apa dia akan menghukumku? tunggu! apa yang kupikirkan, lagipula siapa aku baginya.'


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan membantumu,"


"Tidak perlu!" dia langsung menolaknya, Neta dibuat bingung karena Atreya bertingkah berlebihan.


"Maksudku... aku tidak ingin kau repot karena diriku, lagipula belum tentu kakakmu menyukaiku,"


"Tidak, dia pasti menyukaimu,"


"Hah?" Atreya sudah tidak bisa berkata-kata lagi.


Disaat seperti ini Parvis menghampiri mereka,


"Nona Atreya, silahkan mengikuti saya!"


"Baiklah," rasanya agak canggung berbicara seperti ini dengan Parvis di hadapan Neta.


Atreya beranjak dari tempatnya duduk, tiba-tiba Neta memegang tangannya, sontak membuat Atreya menoleh ke arahnya.


"Kau bisa memanggilku Elena," dia menyunggingkan seulas senyum.


"Kau terlihat akrab dengannya," Parvis bertanya menyelidik. Saat ini mereka berada di dalam lift.


"Aku hanya bertemu orang ramah yang ingin berteman denganku," pintu lift terbuka, mereka berjalan menuju ruangan Reza. Atreya tahu bahwa saat ini mereka berada di lantai teratas gedung.

__ADS_1


"Jadi bagaimana hasilnya, kalian sudah menentukan posisi untukku?"


"Kau akan segera mengetahuinya," Parvis membukakan pintu, mempersilahkan Atreya masuk sendiri.


Di dalam sudah ada Reza dan seorang lelaki, dia adalah Rey.


"Silahkan duduk!" Reza mempersilahkannya duduk, Atreya berusaha menahan tawa. Andai hanya ada mereka dia sudah tertawa terbahak-bahak sekarang.


"Aku tidak suka basa-basi jadi langsung saja, mulai besok kau akan bekerja sebagai sekretarisku dan untuk tugas-tugas yang akan kau kerjakan kau bisa meminta tolong pada Rey," Reza mengisyaratkan Rey yang berada di sampingnya.


"Terima kasih tuan Reza, mungkin saya akan banyak merepotkan anda tuan Rey,"


"Jangan terlalu sungkan, kau bisa menghubungiku kapan saja," ucapnya ramah.


"Jika sudah tidak ada hal lain aku pergi dulu,"


"Baiklah, terima kasih atas bantuanmu,"


"Pffff... " Atreya menahan tawa, baru kali ini ada yang menggodanya di hadapan kakaknya.


"Kau bisa tertawa sekarang," Reza tahu adiknya menahan tawanya sejak tadi.


"Hehe... " Atreya hanya cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya.


"Ingat! kali ini kau menjadi asistenku, jadi belajarlah dengan baik!"


"Iya.. iya.. aku tahu, tapi kenapa harus jadi asisten padalah aku belajar di difisi pemasaran,"


"Hei, jarang ada orang yang masuk langsung mendapat jabatan tinggi, kau seharusnya bersyukur,"


"Hmm...benar juga, tapi apa kau tahu seseorang bernama Elena Arnetta?"

__ADS_1


"Uhuk... uhuk... "Reza yang sedang meminum kopinya hampir tersedak setelah mendengar nama itu. Atreya terkejut dan segera memberikan tisu padanya.


"Melihat reaksimu kau pasti mengenalnya, kan?"


"Bagaimana kau mengetahuinya," Reza berusaha menstabilkan kondisinya.


"Tadi dia sendiri yang menghampiriku lalu tiba-tiba dia bilang aromaku sangat lezat, dia tidak mungkin melakukannya jika dia tidak mengetahui identitasku, jadi ada kemungkinan dia tahu kalau aku adikmu karena aroma kita sama,"


"Apa kau pernah mencium aroma tubuhku?"


"Entahlah," Atreya menjadi ragu, yah... dia bahkan tidak tahu bagaimana mengenali seseorang dengan aroma tubuhnya.


"Tapi kau perlu mengetahui satu hal!"


"Apa itu?"


"Sebaiknya kau tidak terlalu dekat dengannya,"


"Aku memang berniat begitu, tapi dia terus menempel padaku bahkan dia bilang mau menungguku sampai selesai dan mengajakku ke restoran kakaknya," Reza diam, tapi sepertinya dia harus memberitahu Atreya.


"Nama aslinya adalah Elena Empero, dia adalah putri bungsu Raja Empero sekaligus pemegang kekuasaan di wilayah timur,"


"Pantas saja dia bilang sedang liburan," ucap Atreya setengah berbisik sehingga Reza tidak mendengarnya.


"Apa dia ancaman untuk kita?" Elena terlihat seperti gadis polos biasa, tapi tidak ada salahnya untuk berhati-hati, pikiran itu yang memasuki kepalanya.


"Seharusnya tidak, mungkin dia punya misi yang harus diselesaikan"


'Berarti maksudnya mengajakku ke restoran kakaknya, berarti dia mengajakku ke restoran Eiden?'


Hanya ketika kita menyadari, terkadang kebetulan memang mengejutkan dan penuh misteri.

__ADS_1


__ADS_2