
"Wah... tempat ini tidak banyak berubah," Elena memperhatikan sekitarnya.
"Apa kau pernah kemari?" Atreya sangat terkejut, dia tidak mengira jika Elena pernah kesini sebelumnya.
"Ya, dulu ketika mengunjungi kakak Jonathan aku menginap di sini,"
"Oh..., " Atreya hanya mengangguk.
Reza terlihat masuk ke dalam tanpa menghiraukan Elena.
"Hei! aku tamu di sini, apa kau akan membiarkanku seperti ini?" Elena membentak Reza. Mendengar ucapan Elena diapun berhenti.
Atreya tidak bisa berkata-kata lagi. 'Kenapa aku malah merasa menjadi orang ketiga di sini'
"Aku sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan kamarmu, lagipula kau sudah tahu kamarnya, bukan?"
Reza berkata dingin.
"Kau tuan rumahnya, jadi kau yang harus menunjukkan tempatnya padaku," Elena tidak mau kalah.
"Baiklah, kalau begitu Atreya yang akan mengantarmu,"
ucapnya sambil berlalu pergi.
"Huh! dasar tidak sopan!" Elena makin kesal, selain menjenguk Ayahnya dia memang sengaja datang kemari untuk menemui Reza. Tapi Reza tetap seperti dulu, bersikap dingin padanya meskipun dia seorang putri. Reza hanya menunjukkan kehangatannya pada adiknya.
"Kalau begitu biarkan aku mengantarmu, tuan putri!"
Elena terkejut, dia hampir lupa kalau Atreya masih ada bersamanya.
"Sudah kubilang panggil aku dengan namaku!" dia tidak nyaman mendengar Atreya memanggilnya dengan tuan putri.
"Tapi... "
"Kumohon... bisakah kau melakukannya!" ekspresi wajahnya memelas, Atreya pun tidak punya pilihan lain selain mengangguk setuju.
Elena ingin melihat kebun belakang, jadi Atreya mengantarnya.
"Apa kau dekat dengan kakakku?" akhirnya pertanyaan itu terlontar juga. Atreya sudah lama memendamnya, sebenarnya dia ingin mengatakannya ketika mereka sampai di dalam tadi.
"Entahlah! aku juga tidak tahu," Elena mengatakannya dengan senyum di wajahnya, tapi tampak kesedihan juga di sana.
'Ada apa dengannya, apa kakakku menindas seorang gadis? dia bahkan bersikap seperti itu padanya tadi. Tapi jika dipikir-pikir kakak bersikap seperti itu pada semua perempuan yang mendekatinya'
__ADS_1
"Kau bisa menceritakan masalahmu padaku, aku siap untuk mendengarkannya," Atreya mengatakannya dengan tulus.
"Terima kasih, tapi aku sungguh baik-baik saja,"
"Kau tidak perlu sungkan, selain itu aku minta maaf atas perlakuan kakakku tadi,"
"Yah... dia memang selalu seperti itu, tapi aku tidak keberatan karena aku yakin dia bersikap menyebalkan kepada semua perempuan," Elena teringat masa-masa dulu, pertama kali bertemu pun Reza juga bersikap seperti itu. Bukan karena membencinya melainkan sikapnya pada para gadis memang seperti itu.
Sebagai salah satu pria tampan kalangan atas kaum vampir, memang tidak jarang banyak gadis yang mendekatinya. Tapi Reza tidak pernah sedikitpun menanggapi mereka.
"Kau benar, aku selalu membujuknya untuk mencari pasangan tapi dia menolak," Atreya menghela nafas dalam lalu menghembuskannya kasar.
"Kau bahkan tidak bisa membujuknya?"
"Aku takut dia akan sendiri selamanya jika aku menikah nantinya,"
"Pffftt... apa kau yakin sudah menemukan pasangan yang cocok?"
"Belum, tapi suatu saat hari itu pasti akan datang," yang pertama muncul dalam fikirannya setelah mengucapkan kata-kata itu adalah Eiden. Belakangan ini dia sering memikirkannya, tapi entah bagaimana dengan orang itu.
Dia kembali sadar pada kesadarannya, 'Bodohnya aku! kenapa malah memikirkannya di saat seperti ini'
Dia buru-buru mencari topik pembicaraan lain agar Elena tidak mencurigainya.
Elena agak terkejut mendengarnya, sepertinya Atreya adalah orang yang cukup bisa diajak bicara.
"Itu tidak perlu, aku akan berusaha mendapatkan hatinya dengan caraku,"
"Huh... dia sangat sulit diajak kompromi soal masalah ini, percayalah!"
"Aku tahu, aku suka tantangan seperti ini dan aku akan membuktikan padanya!" ucapnya yakin.
"Sepertinya aku tidak bisa menghalangimu,"
"Lebih baik kau fokus pada orang yang kau sukai," Elena mengucapkannya sambil berlalu pergi meninggalkan Atreya.
Awalnya dia tidak terlalu menanggapinya, tapi kemudian dia sadar bahwa Elena tahu kalau dia sedang memikirkan Eiden.
"Apakah tampak sangat jelas, haish......" Atreya menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
......................
Reza masuk ke ruang kerjanya, di sana sudah ada Parvis yang duduk di sofa.
__ADS_1
"Sepertinya kau akan punya kebiasaan baru sekarang," Reza menghampiri Parvis dan duduk di sampingnya.
Sedari tadi Parvis tidak terlihat dan sekarang sudah ada di ruang kerjanya. Ruang kerjanya berada di lantai dia, dia yakin kalau Parvis memanjat tembok untuk masuk ke ruangan ini atau lebih tepatnya melompat ke atas.
"Aku tidak punya pilihan lain, sangat merepotkan berhadapan dengan putri Elena,"
"Bukankah bagus, kau bisa dekat dengan gadis cantik kerajaan!" ucapnya menggoda Parvis.
"Tidak apa-apa jika dia mencariku, dia hanya memanfaatkanku untuk menanyakanmu karena kau selalu mengacuhkannya,"
Reza hanya diam, dia pun beralih membuka laptopnya.
"Kau bisa mencoba menerimanya, kurasa akan bagus jika kau dekat dengannya,"
Reza terdiam kembali, matanya menatap ke arah laptop tapi pikirannya memikirkan perkataan Parvis.
"Hais... kau ini," Parvis meletakkan kedua tangannya di belakang kepala lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.
Sebenarnya dia kasihan melihat Elena, gadis itu tampak tulus menyukai tuan mudanya. Tingkahnya yang tidak terduga terkadang membuat mereka sakit kepala dan membuat Reza enggan menanggapi perasaan gadis itu. Mereka yakin Elena adalah gadis yang baik. Dan itu juga alasan Reza untuk semakin menjauh darinya.
"Sebenarnya kau bisa mencoba menerimanya, aku yakin dia tidak akan menyerah sebelum kau jatuh cinta padanya,"
"Berhentilah bicara omong kosong! kau tahu jelas mengapa aku melakukannya. Lagipula memberinya sedikit harapan hanya akan melukainya, lebih baik aku menjauh agar dia sadar untuk segera menyerah dan mencari orang lain yang lebih mencintainya bukan malah menyia-nyiakan waktunya,"
"Cinta datang dengan sendirinya, tidak ada orang yang berhak mengatur kepada siapa seseorang jatuh cinta. Kau tidak akan menemukan gadis sebaik Elena, sangat disayangkan!"
"Sejak kapan kau bisa berkata-kata seperti itu, sangat tidak cocok denganmu," Reza mencemooh Parvis.
"Aku hanya menirukan gaya anak muda zaman sekarang,"
"Ingatlah berapa usiamu!"
"Kurasa tidak jauh berbeda denganmu," ucap Parvis dengan begitu percaya diri.
"Dasar orang tua tidak tahu diri,"
Parvis hanya cekikikan mendengar Reza yang terus mengomelinya. Usia Parvis setara dengan usia ayah Reza, tapi vampir memiliki usia yang jauh lebih panjang dari manusia biasa. Bahkan vampir level atas bisa menyesuaikan wajah mereka sesuai umur yang mereka inginkan.
"Kuharap aku bisa melakukan sesuatu untuk membantumu," Parvis mengatakannya dengan serius.
Karena kecelakaan yang dialaminya dulu, Reza tidak berani membuka hatinya untuk orang lain. Bahkan Atreya pun, tapi dia sadar dia tidak bisa terus mengacuhkan adiknya karena orang tuanya pasti akan kecewa. Jadi dia memutuskan untuk tetap bertahan dan akan menebusnya dengan mencari seseorang yang bisa menjaganya sampai saat dia harus meninggalkannya.
Cinta adalah anugrah terindah yang didapatkan oleh manusia, tapi cinta terlalu rumit dan sempit. Orang yang jatuh cinta pada akhirnya akan kalah dengan egonya, hanya mementingkan diri sendiri agar tetap bisa bersama dengan orang yang dicintai.
__ADS_1