Cinta Dalam Perubahan

Cinta Dalam Perubahan
Chapter 28


__ADS_3

Eiden menjilat bekas gigitannya pada leher Atreya, darah yang tadinya mengalir berhenti dan bekas gigitannya perlahan menghilang. Atreya masih terpaku, memahami setiap ucapan Eiden.


Dia ingat sekarang, tentang siapa dia, juga mengapa ia bisa menjadi vampire. Atreya meneteskan air mata mengingat bagaimana dulu keluarganya dibantai dan melihat ibunya tewas di depan matanya.


Tapi waktu itu dia tidak berdaya hingga berhasil diculik, namun Raja Empero sepertinya mengetahui identitasnya sehingga merawat Atreya dalam pengawasannya. Di saat seperti ini pun mustahil baginya untuk mencari tahu kebenaran tentang penyerangan keluarganya. Benar! mustahil untuk melakukannya sendiri.


Reza pasti juga telah bertindak selama ini, namun jika dilihat dari tingkah lakunya sepertinya dia belum menemukan apapun. Meski menemukan seauatu juga tidak langsung mengarah pada siapa yang telah mengkambing hitamkan keluarganya. Bahkan Raja pun seperti menyembunyikan sesuatu sampai harus menyembunyikannya. Orang dibalik semua ini pastolah bukan orang sembarangan.


Air mata Atreya jatuh ke tangan Eiden yang sedang memeluknya. Merasa ada yang menetes di tangannya Eiden pun membalikkan tubuh Atreya hingga mereka salinh berhadapan.


"Apakah terlalu menyedihkan bagimu mengetahui kalau akulah yang membuatmu menjadi seperti ini?" Eiden menghapus jejak air mata Atreya, tatapannya sangat lembut dan hangat.

__ADS_1


Dia tahu Eiden sangat tulus padanya tapi ia juga tidak yakin kalau Eiden mau membantunya. Terlebih lagi Raja belum ditemukan, dia pasti sibuk dengan masalahnya sendiri.


Atreya pun menggelengkan kepalanya. "Meskipun menjadi vampir adalah hal yang sangat menakutkan bagiku tapi aku tidak akan menyesalinya, terlebih kau yang merubahku, aku senang karena kaulah orangnya," Atreya tersenyum, senyum yang indah dan menawan.


Melihat tidak ada respon yang diberikan Eiden, Atreya mulai cemas. 'Apa aku salah bicara, tapi aku hanya tidak ingin membuatnya terbebani dan apa yang kuucapkan memang benar adanya.'


"Jangan salah paham, aku cuma..." sebelum Atreya menjelaskannya Eiden terlebih dulu menyatukan kedua bibir mereka dan meraih pinggang Atreya hingga tidak ada jarak diantara mereka.


Ciumannya semakin dalam, Eiden menangkupkan kedua tangannya memegang pipi Atreya. Dia memasukkan lidahnya, menuntun agar Atreya membalasnya. Sementara tangannya mulai beralihegang rambut dan pinggang Atreya. Dia sangat penuh nafsu, perlahan menyibak baju yang Atreya kenakan dan tangannya menggerayangi bagian tubuh Atreya. Dia terlena dan tidak dapat menahan sentuhan Eiden. Entah kenapa setiap laki-laki ini melakukannya dia tidak dapat mengendalikan tubuhnya sendiri.


"Sudah Eiden, kumohon berhentilah! kita sedang di luar," Atreya ingat saat ini mereka masih berada di tepi danau, jika ada yang melihat mereka pasti akan timbul masalah. Apalagi kalau sampai kakaknya mengetahui hal ini, dan dia tidak mau itu sampai terjadi.

__ADS_1


"Tapi hanya ada kita berdua," Eiden mendekatkan wajahnya, nafasnya memburu seperti sedang menunggu mangsanya lengah.


"Kau jangan keterlaluan, kita bahkan belum menikah," Atreya mengucapkannya dengan lantang, dia memalingkan wajahnya karena dia tahu saat ini wajahnya sudah pasti merah padam. Mendengar penuturan Atreya, Eiden tertawa geli.


"Jadi kau ingin aku melamarmu?" dia bertanya setengah menggoda. Atreya semakin kesal dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Eiden. Tapi tentu saja Eiden tidak akan membiarkannya.


Dia semakin mengencangkan pelukannya hingga kepalanya mencium aroma rambut Atreya. Dia bersyukur memutuskan untuk menunggu Atreya di sini.


"Terima kasih karena telah datang," suara yang lembut, Atreya tidak bisa menyangkal perasaanya sendiri. Saat ini dia tengah bahagia, berada dalam pelukan orang yang dicintainya. Dia juga tidak tahu sejak kapan perasaan itu datang.


Tapi dia akan menjaganya, dan menikmati kebahagiaan ini.

__ADS_1


Siluet kedua orang itu nampak jelas terpajang di bawah langit senja, mematulkan seni di atas jernihnya air yang dihempas perlahan oleh angin sore. Rasa sakit yang yang menjalar, masalah yang belum terpecahkan.


Biarlah mereka beristirahat sejenak dari semua itu, merasakan kebahagiaan yang menyelimuti mereka berdua saat ini.


__ADS_2