Cinta Dalam Perubahan

Cinta Dalam Perubahan
Chapter 46


__ADS_3

Setelah kedua orang itu pergi Atreya segera mengunci pintu. Dia tahu dengan begini tidak akan merubah apapun, dia hanya mencoba membuat dirinya merasa aman.


Dia menyibak tirai jendela, memperhatikan keadaan sekitarnya mereka ada di sekitar rumahnya. Atreya bisa merasakannya...


"Mereka tidak lengah sedikitpun," ia kembali menutup tirainya.


"Sudah kubilang jangan khawatir," Atreya hampir saja melompat, dia sangat terkejut dengan suara itu.


"Apa...? bagaimana kau bisa masuk! dan... bagaimana mereka..." dia menunjuk orang yang sudah duduk di depannya.


Atreya berusaha menstabilkan ritme jantung dan pernapasannya, seperti biasa Eiden selalu muncul di manapun dengan misterius. Tapi ekspresi pria itu biasa-biasa saja, tidak peduli dengan Atreya yang terkejut setengah mati.


"Apakah kau pikir hanya dengan mereka bisa menghentikanku?" Eiden bertanya remeh. Atreya memanyunkan bibirnya, dia sempat mengira kisahnya kali ini seharusnya bernuansa romantis, seperti putri yang pergi ke medan perang untuk memperjuangkan hidupnya, lalu akan datang sosok pangeran yang datang membantunya.


Tapi melihat Eiden yang seperti ini malah membuatnya kesal.


Atreya melangkah mendekati Eiden, "Setidaknya berhentilah mengagetkanku, aku tidak suka kau datang tiba-tiba seperti ini," Atreya masih berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya.


Bukannya menjelaskan, Eiden ikut berdiri. Atreya yang tidak menduga hal itu sontak mundur beberapa langkah, tapi Eiden semakin mendekat sampai Atreya tidak bisa mundur lagi karena tubuhnya sudah menyandar pada tembok.


"Ka... kau... apa yang akan kau lakukan?"

__ADS_1


Eiden mengunci Atreya dengan kedua tangannya, dia menatap lekat wajah cantik di depannya itu.


"Kenapa? apa kau membenciku?" suaranya begitu lembut namun terkesan dingin.


Atreya memalingkan wajahnya, jantungnya berdegup kencang, dia tidak bisa melihat wajah Eiden saat ini, juga tidak bisa menunjukkan wajahnya yang mulai memerah. Pria itu pasti akan semakin menggodanya.


"Kenapa kau diam, aku tidak akan tahu jika kau tidak mengatakan apapun," setelah mengatakannya pun Atreya tetap diam.


'Sial! sampai kapan dia akan terus seperti ini? aku hampir tidak bisa bernafas', keluhannya dalam hati.


"Jika kau terus seperti ini akan ku anggap kau menyembunyikan sesuatu dariku," Eiden mengatakannya tepat di telinga Atreya.


Atreya sudah tidak tahan lagi, bahkan telinganya pun ikut memerah. Akhirnya dia mendorong Eiden agar menjauh darinya.


"Owh... berarti yang lain kau menyukainya?" Eiden tersenyum nakal, lagi-lagi dia menggodanya.


Raut wajahnya langsung berubah seketika, pria ini benar-benar pandai memainkan perasaannya.


"Jangan sembarangan bicara, sial!" dia terus mengumpat dalam hati, mengapa dia bisa menyukai pria mesum sepertinya.


Eiden tersenyum, dia berusaha menahan tawanya agar Atreya tidak semakin marah.

__ADS_1


"Jika kau tidak punya urusan lain, pergilah dari rumahku!"


"Maaf, tapi aku tidak bisa melakukannya,"


"Kenapa?"


"Karena aku tidak menemukan tempat bagus seperti milikmu, jadi kau harus membaginya denganku," ucapnya tanpa beban.


"Alasan macam apa itu?" Atreya meninggikan suaranya.


"Tidak masalah jika kau keberatan, aku tidak akan pergi," Eiden melangkah meninggalkan Atreya yang sudah tersulut emosi, dia melangkah menuju dapur.


"Bisakah kita makan? aku sudah mulai lapar," Eiden berteriak dari dapur.


"Apa-apaan ini, dia anggap apa aku ini? apakah aku datang kemari untuk menampungnya?" Atreya terus mengumpati Eiden dalam hati, tapi dia tetap menyiapkan makanan untuk Eiden. Dan iden terus memperhatikan Atreya yang sedang menyiapkan makanan.


Kali ini mereka duduk di meja yang sama, "Wah... kau memang berbakat menjadi seorang istri!" Atreya hampir tersedak mendengar pernyataan Eiden, bagaimana dia bisa mengatakannya dengan begitu mudahnya.


"Uhuk... sudah diam! habiskan saja makananmu!"


"Baiklah! aku tidak akan menyia-nyiakan makanan yang kau buat," Eiden mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Atreya sudah kerap menerima perlakuan seperti ini dari Eiden, tapi jantungnya tidak pernah baik-baik saja.


__ADS_2