Cinta Dalam Perubahan

Cinta Dalam Perubahan
Chapter 27


__ADS_3

Mereka kembali ke rumah. Parvis menyetir mobil sementara Reza dan Atreya duduk di belakang, Reza terus saja menggoda Atreya hingga kesal. Sesekali Parvis melihat mereka melalui kaca spion.


'Aku senang masih ada kalian, setidaknya aku punya tujuan yang pasti dan itu adalah memastikan keselamatan kalian. Tidak akan kubiarkan kematian James sia-sia.'


Sebelum sampai di rumah Reza menelefon koki di rumah untuk menyiapkan makanan.


"Apa kita tidak bisa makan di restoran, kak?"


"Aku sudah menyuruh koki di rumah untuk memasak," ucap Reza yang masih mengangkat telefonnya.


"Sayang sekali," ucap Atreya kecewa.


Reza pun tak tega melihatnya, dia segera menyuruh koki di rumah untuk tidak memasak.


"Pak batalkan saja, kami akan makan di luar," Reza mengakhiri panggilannya.


"Jadi kita akan makan di luar?" tanya Atreya antusias.


"Ya,"


"Kadi kita akan ke mana? apakah tempat biasa?" Parvis yang mendengarnya ikut bertanya.


"Tentu, lagipula sepertinya Atreya belum pernah ke sana,"


"Apa kalian punya langganan?"


"Ya, restoran yang ada di dekat danau, itu tempat favorit tuan muda," ungkap Parvis.


"Kakak memang pecinta alam," Atreya mengacungkan kedua jempolnya.


Restoran yang mereka tuju berada di danau dekat rumah, "Bukankah ini jalan ke rumah?" Atreya melihat keluar jendela.


"Aku tidak ingat ada restoran di sekitar rumah kita," Atreya ingat betul karena sebelumnya dia pernah jalan-jalan kemari.


"Kau benar, restoran ini baru saja didirikan," Reza bersiap turun dari mobil.


"Orang yang mendirikannya pasti orang yang sangat hebat, restoran yang baru saja didirikan dan dia bisa membuat restoran ini menjadi ramai hanya dalam sekejap," dia berbicara sendiri karena Reza dan Parvis sudah keluar.

__ADS_1


Mereka bertiga masuk ke dalam restoran, tempat duduknya bergaya klasik dengan sentuhan elegan yang menawan. Tidak banyak kursi yang tersedia tapi Reza tidak kesulitan mendapatkan tempat yang nyaman, tentu saja tempat khusus untuk para vampir.


"Wuaaahhh tempat ini sangat indah, aku kira tempatnya terbuka dan berada di tepi danau tapi restoran ini sangat elegan untuk pasangan," Atreya mengucapkannya begitu saja, entah mengapa begitu mengucapkannya dia teringat Eiden.


'Berarti tempat itu masih ada, aku akan ke sana begitu selesai makan,' dalam hati dia memikirkan tempat rahasia yang ditemukannya. Dia selalu merasa ada yang menunggunya di sana.


Reza dan Parvis saling melemparkan seulas senyum.


"Kau tahu siapa yang mendirikan restoran ini?"


"Aku bahkan baru mengetahui tempat ini mana mungkin aku tahu, juga bukan kewajibanku untuk tahu,"


"Kau benar tidak ingin tahu, bukankah kau tadi bilang orang ini sangat hebat,"


"Ya... lalu?"


"Kau masih tidak mau tahu?" Reza menunjukkan senyum misteriusnya. Karena merasa terganggu Atreya pun mengalah.


"Baiklah, katakan siapa pemilik restoran ini?" ucapnya acuh.


Reza nampak bersemangat ingin mengatakannya, dia yakin adiknya akan terkejut mengetahui hal ini.


"Ya.. ya.. terserah apa katamu," Atreya tidak memperdulikan ucapan Reza, tapi detik kemudian dia mencerna kata-kata Reza.


"Maksud kakak Eiden?" dia terkejut mendengarnya.


"Benar, dia mendirikan restoran ini dua minggu lalu,"


"Oohhh, jadi begitu,"


Perbincangan mereka berakhir karena makanan yang dipesan sudah datang. Tentu saja ada juga sebotol darah yang dikemas dalam botol wine. Mereka menikmati makanan itu, di sela-sela makan mereka melontarkan beberapa kata gurauan.


"Kak, kalian duluan saja aku ingin pergi ke suatu tempat,"


"Apa kau tidak mau diantar?"


"Tidak perlu, tempatnya di dekat sini lagipula rumah kita juga tidak jauh dari sini, kan?"

__ADS_1


"Baiklah, tapi kau tetap harus berhati-hati jika ada bahaya langsung hubungi kakak, mengerti?"


"Hmm.. " Atreya mengangguk.


Setelah mobil Reza melaju Atreya mencari lubang diantara semak-semak yang dia temukan dulu. Dia pergi ke belakang restoran.


"Harusnya ada di sekitar sini," matanya terus mencari.


"Ini dia," ucapnya girang setelah menemukan lubang itu. Diapun merangkak ke dalam semak-semak.


"Tempat ini tidak berubah," Atreya melihat sekeliling tempat itu. Pemandangan sore di tepi danau, kata yang tepat untuk melukiskannya.


Langit berubah warna menjadi jingga, menandakan hari telah senja, mengantar mentari yang berpamit pulang. Siluet jingga di sekitar mentari di ufuk barat memantul pada permukaan air, bergabung dengan warna biru dari langit dar ufuk timur.


Atreya memejamkan mata dan merentangkan tangannya, menikmati terpaan angin yang mengalun melewati pepohonan dan menggoyangkannya. Juga ikut menerbangkan dedaunan yang bertengger rapuh di dahan pohon. Sangat menyejukkan.


Ketika dirinya sedang asyik menikmati terpaan angin ada seseorang yang memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahunya.


Dia membuka mata dan berusaha melepaskan diri dari pelukan itu, tapi pelukannya semakin erat.


"Jangan lepaskan!" suaranya berat namun terdengar lembut, suara yang tak asing baginya. Dirinya terpaku dengan perilaku Eiden yang tiba-tiba memeluknya.


Atreya berhenti memberontak, air matanya telah lolos melesat turun membasahi rumput di bawahnya. Ada rasa lega karena kerinduannya pada seseorang telah terobati.


"Aku tahu kau pasti akan datang," Eiden mencium puncak rambut Atreya.


'Apa dia sengaja menungguku di sini? tunggu dulu jika seperti ini dia akan tahu kalau jantungku berdetak secepat ini'


Mata Eiden berubah menjadi merah dan gigi taringnya muncul. Atreya merasakan perasaan yang aneh, nafas Eiden begitu memburu.


Perlahan Eiden membuka mulutnya dan menggigit leher Atreya. Atreya berteriak namun segera Eiden membungkam mulutnya.


"Eiden!"


'Sakit' itulah yang Atreya rasakan, namun ia juga tidak bisa melakukan apapun. Tenaganya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Eiden.


Tapi Eiden langsung menghentikan aksinya, "Apa kau tidak mengingatku?" suaranya terdengar sangat menyedihkan. Sekelebat ingatan muncul di kepala Atreya.

__ADS_1


Dia mengingat sesuatu, kejadian sepuluh tahun lalu saat dia pergi ke danau dan terpisah dari Reza kemudian tidak sengaja bertemu dengan Eiden.


Kejadian selanjutnya adalah alasan kenapa dia bisa berubah menjadi vampir.


__ADS_2