CINTA DAN DENDAM TUAN ARSEN

CINTA DAN DENDAM TUAN ARSEN
wedding


__ADS_3

kini waktu terus berjalan,detik, menit, jam telah berlalu saat ini tibalah hari di mana pernikahan itu akan berlangsung di salah satu gereja yang berada di ibukota Jakarta. yah hanya di sebuah gereja, tanpa pesta dan juga tanpa tamu undangan. pernikahan ini hanya di hadiri oleh kedua orang tua Nilam, asisten Dafa, asisten Denis dan juga para pengawal arsen saja. sangat sederhana, bukan karena tak mampu untuk membuat pesta pernikahan yang meriah hanya saja bagi arsen pernikahan ini tidaklah penting karena yang terpenting adalah dengan cara ini ia bisa membalaskan dendam nya.


"Nilam sayang"ucap nyonya intan memanggil putrinya


"iya ma"jawab Nilam tersenyum menoleh ke arah pintu. saat ini mereka masih berada di ruang rias mempelai wanita


"boleh mama bicara"tanya nonya intan memegang tangan putrinya. Nilam hanya menjawab dengan senyuman di iringi anggukan kepalanya


"ada apa ma?"tanya Nilam saat mereka sudah duduk di atas ranjang


"maafkan mama sama papa yah sayang, karena mama sama papa kamu jadi harus menikah sama laki laki yang tidak kamu cintai bahkan tidak kamu kenal sama sekali"ucap nyonya intan bersama air mata yang jatuh di pipi nya


"ma, ini bukan salah papa sama Mama kok. Nilam ikhlas ma ngejalanin nya jadi Nilam mau mama jangan nyalahin diri mama sendiri"ucap Nilam tersenyum mengangkat tangannya untuk menyeka air mata mamanya


"maafin mama ya nak, mama sangat berterima kasih sama kamu mama bangga sama kamu nak"ucap nyonya intan mencium punggung tangan Nilam


"Iyah, udah ya mama jangan sedih mama jangan nangis lagi"ucap Nilam membawa tubuh mamanya kedalam pelukannya memberi elusan lembut pada punggung mamanya untuk menenangkan mamanya


"hiks hiks yaudah kali gitu mama tunggu diluar ya"


setelah mamanya keluar dari ruang rias Nilam berjalan kecermin menatap pantulan dirinya di sana


"dulu aku berpikir jika aku dewasa nanti aku ingin menikah dengan orang yang aku cintai dan juga mencintai ku. ia yang lembut tutur katanya ia yang slalu perhatian kepadaku, ia yang akan selalu membuat tertawa bahagia layaknya sebuah cerita di dongeng. namun kini aku sadar bahwa itu semua memang hanya ada di negeri dongeng, karena nyatanya kini aku akan menikah dengan orang yang tidak mencintai ku ia yang begitu kasar dan juga dingin.aku takut, aku takut saat ia menatap ku begitu tajam tapi walau bagaimanapun aku harus menerima ini semua, karena mungkin ini memang sudah jadi jalan takdir ku"gumam Nilam dengan air mata yang tanpa ia sadar juga ikut menetes membasahi pipi mulusnya

__ADS_1


kini waktu yang baik telah tiba saat nya mempelai wanita memasuki altar pernikahan untuk mengikat janji suci di hadapan tuhan.nilam memasuki altar dengan di gandeng oleh sang papa, ia mengenakan dress putih tanpa lengan dengan belahan dada rendah rambut nya yang di gulung ke atas memperlihatkan leher nya yang putih nan mulus salah satu tangannya memegang sebuket bunga. arsen mengenakan tuxedo putih rambutnya di tata dengan begitu rapi sungguh sangat serasi jika di sandingkan dengan Nilam, ia terlihat begitu tampan.


"dia begitu tampan mungkin aku akan sangat beruntung jika dia memiliki hati yang tampan juga, tapi ya sudahlah mungkin ini memang sudah jadi jalan takdirku"ucap Nilam pada dirinya sendiri dengan menghembuskan nafasnya secara perlahan menahan sesaknya dada


"cantik" gumam arsen saat melihat Nilam perlahan jalan ke arahnya. ia tercengang saat melihat Nilam begitu cantik dengan polesan make up karena biasanya ia selalu tampil natural dengan make up flawlesh akan tetapi tetap terlihat cantik apalagi saat Nilam mengenakan make up kecantikan nya bertambah hingga tanpa sadar arsen memuji kecantikannya


"silahkan tuan jemput mempelai wanitanya" ucap sang pastor membuyarkan lamunan arsen


arsen menghampiri Nilam dan menggandeng tangannya untuk segera memulai pernikahan nya


"bagaimana apa sudah bisa dimulai" tanya Sang pastor saat Nilam dan arsen sudah saling berhadapan di depannya untuk melakukan pemberkatan


"silahkan"ucap arsen menunduk memberikan jawaban iya pada sang pastor


"aku arsenio menerima, memilih, dan meminta mu untuk menjadi istriku di hadapan tuhan dalam suka maupun duka dalam sedih dan bahagia hingga maut memisahkan kita"jawab arsen menatap lekat kedua netra milik Nilam di hadapannya


"Nilam Kanaya Wicaksana, apakah engkau menerima arsenio sebagai suamimu dalam duka dan tawa dalam susah dan senang" tanya sang pastor yang kini beralih pada Nilam sebagi mempelai wanita


"aku menerima engkau arsenio untuk menjadi suami ku untuk menjadi ayah dari anak anak ku untuk menjadi satu satunya tujuan hidup ku dalam suka maupun duka dalam tangis dan tawa hingga sang maut memisahkan kita"ucap Nilam pasti pada setiap katanya


setelah pemberkatan yang di akhiri dengan sebuah ciuman Nilam berjalan ke arah kedua orang tuanya dan memeluk sang mama terlebih dulu


"mah maafin Nilam jika selama ini Nilam sering bikin Mama marah sudah buat mama kecewa Nilam sayang sama mama doain Nilam yah ma semoga Nilam bisa bahagia dengan kehidupan Nilam yang baru"ucap Nilam dalam pelukan mamanya di sela sela tangisannya yang mulai membanjiri pipi mulusnya

__ADS_1


"kamu gak pernah bikin Mama kecewa nak, justru harusnya mama yang minta maaf sama kamu, mama akan selalu berdoa untuk kebahagiaan mu sayang, ingatlah baik baik bahkan batu karang yang keras pun akan terkikis oleh sapuan ombak yang terus menerus"ucap sang mama melonggarkan pelukannya mengusap airmata nilam


"pah"ucap Nilam yang langsung memeluk sang papa tanpa bisa berkata kata lagi


"papa akan selalu berdoa untuk kebahagiaan mu sayang papa tidak menyangka ternyata anak gadis papa yang manja kini telah dewasa dan menikah"ucap sang papa mencubit pipi anaknya itu


"aww papa sakit"ucap Nilam cemberut berpura pura marah pada sang papa yang menjadi gelak tawa bagi kedua orang tuanya


"permisi nona, tuan sudah menunggu anda di dalam mobil sebaiknya nona tidak berlama lama karena tuan sangat tidak suka menunggu"ucap asisten Dafa yang tiba tiba sudah berada di samping Nilam menghentikan gelak tawa mereka. Nilam kembali memeluk kedua orang tuanya untuk terakhir kali sebelum ia menemui suaminya


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


udah ah besok lagi


__ADS_2