
...hallo sorry baru update, kemarin udah ngetik eh pas tadi mau di update ternyata file nya belum ke save jadi harus ketik ulang deh hadeeuuuhh happy reading....
*Jan lupa like, vote juga boleh hehehewww*
"apa dia baik baik saja" tanya arsen pada dokter Fadhlan, dokter keluarga arsen sekaligus dokter yang sedang menangani Nilam saat ini.
"kondisi nona Nilam sudah stabil saat ini, untung saja tuan membawa Nilam secepatnya kerumah sakit jika tidak mungkin bukan hanya bayinya yang terancam tapi nyawa nyonya Nilam juga ikut terancam"
"bayi?"ulang arsen, matanya memicing mencoba mencerna dan mendengar perkataan dokter
"iya tuan, bayi. nona Nilam sedang mengandung saat ini usia kandungan nya juga masih muda mungkin baru sekitar beberapa minggu.apa tuan tidak tahu jika nona Nilam tengah hamil?"tanya dokter Fadhlan saat mendapati arsen yang begitu terkejut dengan kabar yang di berikan nya.
sedangkan arsen hanya mampu menjawab dengan gelengan kepala.
"wah kalau begitu selamat tuan arsen sebentar lagi tuan akan menjadi seorang ayah"
"nanti untuk lebih jelasnya akan ada dokter mita, dokter obgyn terbaik di rumah sakit ini yang akan memeriksa kandungan nona Nilam. tuan bisa tanyakan langsung pada dokter mita. kau begitu saya permisi dulu tuan, sekali lagi selamat."lanjut dokter Fadhlan tak lupa senyuman tersemat di sudut bibirnya
"mas"sapa nilam, matanya mencoba menyesuaikan dengan cahaya ruang, senyum manis tak lupa ia sematkan di bibir tipis nya.
"anak siapa yang kandung?"matanya menatap Nyalang pada seorang wanita yang tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
__ADS_1
"huh?"
"katakan anak siapa yang kau kandung"tanya arsen menuntut
"anak?"ulang nilam, hening masih mencoba mencerna maksud perkataan arsen. anak yang kau kandung? tunggu, apa maksudnya aku hamil?
"maksud kakak aku hamil?"tanya Nilam terbata, matanya berbinar memancar kan kebahagiaan
"ya!cepat katakan padaku siapa ayah dari bayi yang kandung!"tanya arsen matanya menatap Nilam penuh intimidasi
"kenapa kakak tanya seperti itu, tentu saja ini anak kakak darah daging kakak. kenapa kakak masih bertanya"
"cuih, tidak usah membual cepat katakan siapa ayah bayi ini aku sudah tidak sabar untuk membun*h nya" meludah di ranjang sebelah nilam, tatapannya terlihat begitu jijik.
"ceeh lalu apa sebutan seorang wanita yang membawa pria lain ke rumah nya saat suaminya tidak ada?bahkan sampai berpelukan. lantas jika sekarang aku menanyakan siapa ayah dari bayi ini apakah aku salah?hem" decih arsen
plak
satu tamparan mendarat begitu mulus dan keras di pipi arsen, Nilam pelakunya. entah mendapat keberanian dari mana tapi yang jelas hatinya begitu sakit saat ini, kata kata yang terlontar dari arsen begitu menyakiti hatinya.
"beraninya kau menamparku" tunjuk arsen pada nilam matanya menatap tajam pada manik mata Nilam
__ADS_1
"aku tidak se hina dan serendah itu, aku tidak membawa pria manapun ke rumah. dia datang sendiri aku tidak mengundangnya, dia yang memeluk ku tapi aku tidak balas memeluk nya. dan aku mengaku salah untuk hal itu. lalu bagaimana dengan mu seorang suami yang meninggal kan istrinya di mansion berhari hari bahkan berminggu-minggu tanpa sebuah kabar hingga menunggunya setiap malam berharap suaminya segera pulang bukankah itu sama saja kau telah mencampakkan istrimu, dan mungkin saja di luar sana kau malah bersenang senang dengan wanita lain"ucap Nilam mengeluarkan isi hatinya yang ia simpan selama ini, matanya balas menatap tajam arsen tanpa rasa takut. entahlah dia begitu berani saat ini mungkin karena faktor kehamilan atau mungkin memang karena rasa sakitnya yang kian hari semakin menumpuk
"beraninya kau"
ceklek
"he'em permisi mohon maaf perkenalkan saya dokter mita dokter obgyn yang di tugaskan untuk memeriksa kondisi dokter Nilam" ucap dokter mita memperkenalkan diri dan juga ada dua perawat yang mendekat pada Ranjang Nilam
Nilam membuka mata ia begitu bersyukur karena ada dokter mita yang datang di waktu yang tepat untuk memeriksa kondisinya, jika tidak mungkin saat ini dia sudah mendapat tamparan di pipi nya.
arsen hanya melirik sekilas pada dokter obgyn itu, dan langsung meninggal kan ruang perawatan Nilam.
"bapak mau kemana?apa tidak ingin melihat keadaan janinnya dulu"tanya dokter mita pada arsen yang hanya diam saja dan berlalu tanpa sepatah kata
"suami saya lagi ada rapat penting dok makanya dia buru buru keluar tadinya sih mau disini nungguin saya tapi saya suruh pergi makanya dia begitu" kilah Nilam
"oh yasudah, mari saya periksa Bu"ucap dokter mita yang di bantu oleh dua perawat menyingkap baju Nilam dan mengoleskan jel di perut Nilam.
"nah yang ini, yang sekecil biji kacang ini adalah janin ibu untuk usia kandungan ibu baru jalan 4 Minggu, masih cukup muda dan rentan akan resiko ya Bu. kondisinya cukup baik perkembangan nya juga bagus. nanti akan saya berikan vitamin untuk ibu dan bayinya yah tolong juga di jaga kondisi ibu nya jangan terlalu stress dan kecapekan karena itu juga akan berdampak terhadap bayinya juga ya Bu"jelas dokter mita tangannya menggerakkan alat di perut Nilam sementara matanya tak lepas memperhatikan layar di depannya.
"baik Bu kalo begitu saya permisi dulu ya, tetap di jaga kondisi nya, dan selamat beristirahat"pamit dokter mita sebelum meninggal kan ruangan Nilam
__ADS_1
"baik dok, terimakasih" ucap Nilam, perasaannya begitu bahagia, sebentar lagi ia akan memiliki seorang bayi, ia akan menjadi seorang ibu impian setiap wanita yang telah menikah. senyum terus terukir di bibir manisnya puji syukur tak lupa ia panjatkan pada Tuhan, berterimakasih pada Tuhan karena telah diberikan kepercayaan untuk menjaga malaikat kecil dalam kandungannya.
"tak apa nak, ayah mu hanya salah paham saja sama bunda. ayah sayang padamu nak sama seperti bunda menyayangimu, maafin bunda ya nak karena bunda ayah jadi salah paham lagi sama Kita, tak apa saat ini ayah tak menyayangi kita tapi nanti bunda janji bunda bakal buat ayah mu Sangat menyayangi mu dan juga bunda. sehat sehat terus di dalam perut bunda yah nak, temenin bunda menjalani hari hari bunda, makasih sudah hadir di saat saat terendah bunda, bunda sangat menyayangi mu nak sangat sangat menyayangi mu" mencoba berbicara pada janin dalam kandungannya, mengelus perutnya yang masih datar, ia tersenyum getir. tak apa ia harus lebih kuat demi anaknya demi buah hatinya.