CINTA DAN DENDAM TUAN ARSEN

CINTA DAN DENDAM TUAN ARSEN
Dia pulang


__ADS_3

*kalau suka sama karya saya boleh dong minta like sama votenya biar semangat buat up tiap hari nih hehehe*


happy reading


"permisi nona, mohon maaf mengganggu waktu sarapan nya. diluar ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda nona" ucap pak Darto


"seseorang?siapa pak?


"saya juga tidak tau nona"tutur pak Darto


Nilam memandang ke arah Lisa yang berdiri tak jauh di sebelah nya seolah mengerti apa yang di maksud oleh nona mudanya Lisa memundukkan kepalanya dan menemui seseorang itu.


"siapa Lisa?"tanya Nilam saat Lisa sudah berada di sampingnya


"seorang pria nona, bertubuh tinggi, putih, rambutnya pendek dan sepertinya orangnya ramah juga tampan nona" jelas pelayan Lisa namun hanya dia saja yang mampu mendengar kata terakhirnya


sementara Nilam yang mendengar ciri ciri dari pria yang di sebutkan oleh Lisa hanya memicingkan matanya mencoba mengingat siapa seorang pria yang memiliki ciri tubuh seperti yang di sebutkan pelayan Lisa, seperti tidak asing tapi siapa.


"apakah perlu saya mengusirnya nona muda?"tanya pak Darto yang sedari tadi masih diam menunggu perintah Nilam


"ah itu tidak perlu, akan tidak sopan mengusir tamu terlebih lagi kita tidak tau siapa tamu itu.suruh masuk dan minta untuk menunggu ku sebentar lagi"


"baik nona"


Dengan segera Nilam meminum air yang telah disediakan dan mengelap sisa makanan di mulutnya dengan tisu, berdiri bergegas bergerak untuk mengetahui siapakah tamu pria yang datang menemui nya.


"kak vino"Nilam begitu terkejut mengetahui siapa yang datang menemuinya, lidahnya terasa begitu kelu suara tercekat di tenggorokan tak mampu berkata lagi.


bagaimana bisa vino masih berani menemui nya lagi setelah kejadian di pesta beberapa hari yang lalu. apalagi setelah arsen dengan terang terangan memberikan ancaman padanya


"nilam apa kau tau aku begitu merindukan mu"ucap vino yang langsung memeluk Nilam begitu erat sedangkan Nilam hanya diam membeku tanpa membalas pelukan vino

__ADS_1


"maaf kak, tolong lepaskan jangan seperti ini"tutur Nilam saat ia tersadar


"silahkan duduk"lanjutnya


baru saja hendak menanyakan apa maksud kedatangan vino datang nilam dikejutkan dengan suara tepukan tangan yang cukup keras.


prok prok prok


"kak arsen udah pulang?"Nilam terkejut matanya membulat begitu melihat arsen tengah berdiri tidak jauh darinya, takut. ia seperti seorang istri yang tengah ketahuan berselingkuh oleh suaminya, padahal ia hanya duduk berhadapan dengan seorang pria tidak lebih.tapi rasanya seperti seorang istri yang tengah kepergok suaminya berselingkuh saja.


"wah wah wah apa ini, aku seperti baru saja melihat kisah cinta Romeo dan Juliet. oh tidak bukan seperti Romeo dan Juliet melainkan seperti drama sinetron ceh begitu menggelikan"decih arsen, berjalan mendekat menatap Nilam dan juga vino secara bergantian


"jadi kelakuan mu saat aku tidak ada hemm?"lanjut arsen


"kak ini tidak seperti yang kakak pikirkan aku dan kak vino tidak ada hubungan apa apa"


"oh tidak ada hubungan apa apa, lalu berpelukan itu bukan apa apa begitu?"tanya arsen sarkas


"memangnya anda siapa berani memerintahkan saya Hem?nilam adalah istri saya, apa yang sudah menjadi milik saya tidak akan pernah bisa direbut orang lain. sebaiknya anda pulang saya tidak ingin mengotori tangan saya dan satu lagi, karena anda sudah dengan berani ya menghiraukan peringatan saya maka bersiaplah untuk menerima hadiah kehancuran perusahaan anda dari saya"tunjuk arsen ke wajah Vino dengan seringai licik di bibirnya


"pak Darto seret sampah ini keluar sekarang juga"teriak arsen pada pak Darto yang berdiri tak jauh darinya


"baik tuan"


"lepas!dasar breng**k kau arsen!lepas! saya bisa jalan sendiri" maki vino saat pak Darto dan beberapa pengawal menyeretnya paksa untuk keluar dari mansion.


"oh shit"umpat vino saat para pengawal mendorong tubuhnya hingga ia tersungkur.


"kak, plis kakak jangan gini dong aku tau aku salah dan aku minta maaf sama kakak"ucap Nilam dengan mata yang berkaca-kaca, tangannya menarik narik lengan baju arsen


"kak ngomong dong jangan diam aja, hukum aku kak kalo aku emang salah tapi kakak jangan diam aja. aku lebih suka kakak hukum aku dari pada kakak diemin aku dan gak pulang pulang kayak kemarin"lanjut Nilam dengan air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya tanpa mampu ia bendung lagi.

__ADS_1


"kak please jangan kayak gini"teriak Nilam bahkan nilam yang sudah emosi karena sejak tadi arsen hanya mendiamkan dirinya tanpa sepatah kata tanpa sengaja menarik kasar lengan arsen.


mendengar Nilam yang meneriakinya bahkan dengan beraninya menarik lengan bajunya seketika itu juga arsen berbalik dan menatap tajam pada Nilam.


perlahan berjalan mendekati Nilam yang kini malah berjalan mundur karena takut saat menatap sorot mata arsen yang begitu tajam saat menatap nya. tersirat kilatan amarah didalam sorot mata itu membuat nyali nya menjadi ciut bahkan nilam menyesali saat ia mengatakan lebih memilih dihukum daripada arsen mendiamkannya.


tapi ia juga tidak ingin arsen pergi lagi dari mansion, sudah 21 hari sejak kejadian di pesta itu arsen meninggalkan mansion dan selama itu pula setiap malam ia selalu menatap gerbang dari balkon kamarnya berharap suaminya itu pulang.namun sangat disayangkan arsen pulang di saat yang bahkan dia sendiri tidak menduga apalagi arsen melihatnya berpelukan dengan pria lain, bukan berpelukan sebenarnya hanya melainkan dipeluk pria lain karena dia tidak membalas pelukan pria itu.


"jadi kau lebih suka aku menyiksamu seperti ini Hem"tanya arsen yang kini tangannya mencengkram kuat dagu nilam menghimpit nya ke dinding.


"aarrgghhh kak sakit kak"seru Nilam tangannya mencoba melepaskan cengkraman arsen pada dagunya


"sakit? bukankah kau menyukai aku yang menghukum mu seperti ini hemmm tapi bersyukurlah karena saat ini aku sedang tidak bernafsu padaku dan aku juga sedang tidak ingin mengotori tanganku untuk menyiksa mu" ucap arsen yang langsung melepaskan cengkraman tangan nya.


"kak kakak mau kemana, jangan pergi lagi kak. kakak kan baru pulang" Nilam langsung menghadang arsen yang hendak pergi dengan membawa koper di tangannya


"minggir"


"kak aku mohon jangan pergi kak" mohon nilam mengatupkan kedua tangannya.


"aku bilang minggir ya minggir"teriak arsen, tangannya mendorong Nilam ke samping hingga Nilam terjatuh


"aawww arrghh sakit kak, kak tolong aku ini sakit kak"rintih Nilam menahan rasa sakit di perutnya.


"bukankah aku sudah mengatakan minggir ya minggir" seru arsen tanpa menghiraukan Nilam yang kesakitan


"aww sssshhh kak tolong ini sakit sekali kak"ucap nilam sebelum kesadarannya hilang.


didalam sebuah ruangan rumah sakit tampak seorang pria tengah berbincang bincang dengan seorang yang memakai jas putih. Rahang nya mengeras menahan amarah kilatan amarahnya terlihat juga dari sorot matanya yang tajam.


"anak siapa yang kandung?"matanya menatap Nyalang pada seorang wanita yang tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2