
"pah" tegur nyonya intan wicaksana seraya mengusap bahu suaminya itu kala melihat raut wajah suaminya yang memerah di penuhi dengan emosi
"tuan muda arsen itu memang iblis berkedok manusia ma!bisa bisanya dia meminta papa untuk menikahkan Nilam dengan dia tapi setelah papa menyetujui nya dia bilang bahwa dia sudah tidak menginginkan putri kita lagi! bahkan aku telah merendahkan harga diriku di hadapannya untuk menerima syaratnya tapi dia seolah memang ingin menjatuhkan harga diriku!" ucap Reynaldi yang di penuhi amarah atau lebih tepatnya sedikit berteriak karena emosi yang sudah tidak terkendali lagi
"pa tenang pa"ucap intan mencoba menenangkan suaminya masih dengan mengusap bahu suaminya mencoba memberi ketenangan dan meredam emosi suaminya
"apa nya yang tenang ma! si iblis arsen itu telah menginjak injak harga diri papa"ucap Reynaldi dengan nada yang semakin di tinggikan
"tarik napas pa, coba hembuskan perlahan...papa harus tenang supaya kita bisa cari jalan keluar yang lain"ucap intan pada suaminya yang mengikuti perintah istrinya itu dan perlahan terlihat dari raut wajah Reynaldi bahwa emosinya sudah sedikit mereda
"maafin papa mah tadi papa kebawa emosi"ucap Reynaldi disertai helaan nafas panjang di akhir ucapannya
"Iyah mama tau kok, sekarang kita istirahat yah ini udah malam besok kita cari lagi jalan keluar nya pasti ada jalan keluar"ucap nyonya intan mengajak suaminya untuk tidur karena waktu yang sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam dimana bulan bersinar semakin terang di luar sana ribuan bintang bertebaran di angkasa yang menambah keindahan langit di malam hari dan semoga esok hari juga akan indah dengan adanya jalan keluar layaknya keindahan sang bintang di langit malam
pagi harinya
dimeja makan makan suasana teramat hening hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar di ruangan itu. semua sibuk dengan fikiran masing masing intan yang memilih untuk diam agar tidak menyulut emosi sang suami yang belakangan ini sedang tidak stabil akan adanya masalah perusahaan. Reynaldi yang masih memikirkan cara agar keluar dari masalah yang sedang di hadapinya sampai suara sang putri memecah keheningan tersebut
"pah bagaimana tuan arsen?kapan pernikahan nya"ucap Nilam menatap mata Reynaldi
"tidak akan ada pernikahan"ucap Reynaldi tanpa melihat putrinya
"maksud papa?"ucap Nilam dengan kening terlipat
__ADS_1
brak"papa bilang tidak ada pernikahan ya tidak ada pernikahan"teriak Reynaldi menggebrak meja makan dan langsung pergi meninggalkan meja makan
deg
seketika hati Nilam mencelos, ini kali pertamanya papanya membentaknya. air mata yang semula ingin ia tahan di pelupuk matanya jatuh begitu saja
"Nilam"ucap nyonya intan merengkuh tubuh putrinya itu untuk masuk ke dalam pelukannya
"ma apa yang terjadi?kenapa papa tadi membentak Nilam?katakan ma katakan sama Nilam tolong jangan ada yang di tutupi lagi"ucap Nilam disela isakan tangisan nya mengangkat wajahnya untuk menatap netra hitam milik mamanya yang menetap nya sendu
"huh" helaan nafas terdengar berat dari nyonya Wicaksana
"tuan muda arsen mengatakan bahwa ia tidak ingin lagi menikah denganmu nak"ucap intan membelai pipi anaknya
"tuan arsen bilang penawaran yang dia ajukan hanya berlaku dalam 3 jam nak, jadi penawaran itu sekarang sudah tidak berlaku dan sekarang dia tidak mau menikah dengan mu"ucap intan yang perlahan menetes kan airmata
"hanya karena itu ma?hanya karena waktu yang dia berikan sudah lewat jadi dia tidak mau lagi?"
"iya nak"ucap intan menghapus airmata di pipi nya dan juga di pipi putrinya itu
"gak ma, dia tidak bisa semena menatap itu.ma kalau Nilam tidak menikah dengan tuan arsen lalu bagaimana dengan perusahaan papa"ucapnya
"kamu tidak tau siapa tuan arsen nak, kita cari jalan keluarnya bersama ya, pasti ada jalan keluar"ucap nyonya intan tersenyum mencoba menenangkan putrinya dan menarik tubuh putrinya masuk ke dalam pelukannya
__ADS_1
"siapa sebenarnya tuan muda arsen, kenapa dia bisa seenaknya sendiri!aku harus bertemu dengannya, ya demi papa demi keluarga ku. akan butuh waktu yang lama untuk mencari jalan keluar yang lain sedangkan saat ini sudah tidak ada waktu lagi untuk mencari jalan keluar. ya!jalan satu satunya aku harus menemuinya aku harus menikah dengannya hanya itu satu satunya cara agar masalah ini bisa selesai, demi keluarga ku bahkan jika nantinya aku harus bersujud di kakinya itu tak masalah aku melakukannya demi keluarga ku hanya sedikit berkorban" ucap Nilam pada dirinya sendiri mencoba meneguhkan hati dan juga pikiran
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
to be continue
__ADS_1